Negara Kita Kaya, bukan?

myuaedottypepaddotcom.jpgRasa Sayange, lagu ini tiba-tiba populer di Malaysia dan semakin populer ketika semua orang meributkannya. Di ‘caplok’nya lagu Rasa sayange, juga menjadi cermin bagi bangsa Indonesia, bahwa selain kalah dalam sengketa sipadan-ligitan sehingga sekarang masuk ke Malaysia, juga kurang peduli untuk mengurus aset-aset bangsa yang lain termasuk lagu-lagu, boleh dikatakan bangsa ini kalah ‘cerdik’ dengan bangsa tetangga kita yaitu Malaysia. Mungkin karena selama ini telah dininabobokkan oleh lagu tentang kekayaan alam negeri yang melimpah ruah, sehingga tidak peduli lagi dengan hal-hal yang ‘sepele’. Nah……ketika hal yang ‘sepele’ ini di’caplok’ negara lain , barulah semua kaget dan ramai-ramai menuntut, padahal ongkos yang harus ditanggung lebih mahal dibandingkan jika kita bisa meng-antisipasinya.

 

 

Sadarlah bung, negeri ini tidak seindah dan sekaya dulu, sewaktu minyak di Riau melimpah, emas di papua belum dikuras habis, gas natuna belum dieksplorasi, hutan-hutan di Kalimantan, Riau dan Papua masih eksis lalu pasir-pasir di kepulauan Riau belum diangkut ke Singapore. Kini ada banyak bencana, banyak ‘perompak’ dan ‘tikus’ yang menggerogoti semuanya selama kurang lebih 40 tahun, sehingga semua sumber daya alam itu termasuk hutannya habis . Kini kesalahan itu telah dikonversi menjadi hutang yang menumpuk, dan saatnya generasi sekarang yang harus menanggung itu.

Seiring dengan menipisnya cadangan minyak, emas, batubara, timah, bijih besi, gas, hutan serta beberapa aset negara yang juga sudah di lego lewat ‘BPPN’ . Diperlukan re-inventarisasi aset-aset negara lainnya termasuk pulau-pulau dan karya cipta baik yang berupa seni dan budaya maupun teknologi .
Belum lagi kegalauan kita tentang sebutan ‘indon’ walupun sebenarnya kita juga sering menyebut orang eropah dengan ‘bule’ dan orang tionghoa yang sudah jadi WNI dengan ‘cina’ . Pemerintah sebaiknya mengambil langkah-langkah agar jangan memposisikan diri sebagai ‘indon’ dengan cara melindungi hak-hak para TKI/TKW termasuk hak mendapatkan pengacara negara, dukungan pemerintah yang kuat terhadap hak-hak TKI/TKW nya dan jangan lupa seleksi yang lebih ketat terhadap TKI/TKW kita sehingga kita tidak menjual ‘manusia’ tetapi menjual “skill manusianya’. Lebih bijaksana dan terhormat rasanya, jika pemerintah dan kita menyikapi suatu masalah atau kasus bukan dengan ‘kagetan’, tetapi dengan antisipasi, pikiran tenang dan hati yang jernih. Dilain waktu kita tentu tidak mengharapkan Malaysia atau negara lain mengklaim tarian dari negara kita sebagai tarian mereka?, sebagaimana tempe dan batik yang telah diklaim negara lain sebagai ciptaan mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s