MENJAWAB TUDINGAN; ISLAM DISEBARKAN DENGAN KEKERASAN DI TANAH BATAK

iddotwikipediadot-orgtimam-bonjol.jpgPosting ini saya munculkan setelah membaca opini di beberapa situs, milis dan blog yang menuding bahwa penyebaran agama Islam di Tanah Batak dilakukan dengan kekerasan oleh kaum Paderi. Pro dan Kontra tentang hal ini hingga saat ini masih berlangsung, untuk lebih mengetahui kebenaran opini tersebut, berikut ini saya mencoba menampilkan tulisan tentang hal tersebut oleh dr H Ekmal Rusdy DT Sri Paduka (ahli waris penulis perjuangan Tuanku Tambusai, H. Mahidin Said) dimuat pada kolom OPINI diharian Riau Pos halaman 4 Edisi Selasa, 30/10-2007. Sengaja saya kutip lengkap, agar anda dapat mengambil kesimpulan secara utuh.

BENARKAH PADERI MIRIP AL-QAIDA ?
OLEH : Ekmal Rusdy

Majalah Tempo 21 Oktober 2007 memuat “…petisi ini mendesak Pemerintah Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan Imam Bonjol adalah Pimpinan Gerakan Wahabi Paderi. Gerakan ini memiliki aliran yang sama dengan Taliban dan Al-Qaida. Invasi Paderi ke tanah Batak menewaskan ribuan orang”. Dibagian lain pada halaman 56 dikatakan “pakaian mereka serba putih”. Persenjataannya cukup kuat. Mereka menurut Parlindungan, memiliki meriam 88 militer bekas milik tentara Napoleon yang dibeli second hand di Penang. Dua perwira Paderi dikirim belajar di Turki. Tuanku Rao, yang aslinya seorang Batak bernama Pongki Nangol-ngolan Sinambela, dikirim untuk belajar taktik Kavaleri. Tuanku Tambusai, aslinya bernama Hamonangan Harahap, belajar soalperbentengan. Pasukan Paderi juga memiliki pendidikan militer di Batusangkar.

Penulis menilai, petisi dan statemen diatas sangat sensitive dan berbahaya. Disayangkan dimuat Majalah Tempo, Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan 1964 mengarang sebuah buku berjudul “ Tuanku Rao”yang selanjutnya disanggah Hamka (1974) dalam bukunya berjudul “ Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao” setebal 364 halaman. Hamka menuding isi buku Parlindungan ini 80 persen bohong, sedangkan sisanya diragukan kebenarannya. Pasalnya setiap kali Hamka menanyakan data buku ini, Parlindungan selalu menjawab “sudah dibakar”. Selain itu Hamka pada halaman 64 mempertanyakan kebenaran berbagai isu yang dilontarkan Parlindungan. Isu yang cukup sensitive pernyataan selama 300 tahun Minangkabau telah menganut mazhab Syiah Qaramithah. Hal ini menurut Hamka dusta besar. Alasan untuk pemurnian Islam di Minangkabau ini disebut Parlindungan sebagai pembantaian bagi pengikut Syiah, sementara keluarga Kerajaan Pagaruruyung termasuk sebagai penghalang cita-cita Darul Islam, sehingga pada 1804 keluarga Istana Pagaruyung dibantai, ribuan rumah dibakar. Maka tak heran kalau referensi Parlindungan yang menggunakan bahan milik Residen Poortman ini mendapat kecaman keras dari parlemen Belanda (1985), malah Pemerintah Belanda memerintahkan untuk melarang beredarnya buku Tuanku Rao yang penuh kebohongan ini.

Poortman posisinya sama dengan Snouck Horgronje. Snouck adalah seorang rang ahli Aceh, yang informasinya diminta oleh pemerintah Belanda, sedangkan Poortman seorang Ahli Batak yang pension pada 1930 dan kembali ke Belanda. Sesungguhnya Parlindungan bukanlah sejarawan. Dia yang besar bual ini memang banyak menulis tentang Tuanku Tambusai, tapi dimana makamnya Tambusai saja dia tak tahu, malah membuat Statemen aneh yang mengatakan masyarakat Padang Lawas yakin betul Tuanku Tambusai “belum mati dan bersembunyi di Dabuan Ulu”. Atau akan muncul lagi di akhir zaman ?

Bohong Parlindungan juga terbaca dari pemutar balikan fakta dari referensi yang digunakan, misalnya yang diperolehnya dari Schnitger, seorang Antropholog Belanda, maupun JB Neuman dalam bukunya Het Panai en Bila Stroomgebied yang dimuat dalam majalah geografi kerajaan Belanda tahun 1885, 1886, 1887 menyebutkan bahwa yang disebut Tongku (maksudnya Datuk Engku atau Tuk Ongku) ini orangnya kaya dengan sifat lemah lembut, lebih memperlihatkan maksud ingin mencapai persetujuan daripada kekuatan. Bukan sebagaimana yang ditulis Tempo (21/10/07) halaman 61, sebagai tukang bantai. Dan tidak benar pula dikatakan “jika penduduk tidak serta merta mau masuk Islam akan segera dibunuh”. Memang Tuanku Tambusai tak hanya sebagai sosok perang yang paling ditakuti Belanda, karena dari berbagai medan pertempuran yang dilalui Tuanku Tambusai, sungguh cukup meyibukkan kaum penjajah, sebagaimana diucapkan D Brakel dalam bukunya De oolog in Ned. Indie, Arnheim (1985) yang menyatakan, “selama perang Paderi, dua tokoh yang menyebabkan Belanda harus berjuang keras untuk begitu lama: Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai. Tanpa kedua orang ini, peperangan bisa dihabisi dalam waktu yang lebih singkat dengan kemenangan pihak Belanda”.

Namun beliau juga adalah juga seorang ulama yang santun dalam menyiarkan agama Islam, terutama bagi yang masih menganut ke percayaan pebegu . Buku Tuanku Rao karangan Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan saja tak layak dan berbahaya untuk dibaca, bagaimana pula dengan buku kedua berjudul “Greet Tuanku Rao” yang ditulis Basyral Hamidy Harahap yang terbit September 2007 ini? Ketua Jurusan Perpustakaan UI 1965-1976 ini ingin mengoreksi tentang Tuanku Rao yang dianggap kurang tepat, tapi pada garis besarnya, ia sependapat bahkan menambahkan data kekerasan yang dilakukan Paderi. Sumber utama dari Parlindungan saja data dan faktanya sudah dibakar, sehingga selaku penulis yang terlihat bersikap ambivalens perlu kita pertanyakan kesehatan cara berpikirnya, atau sekedar mencari sensasi murahan? Bukankah penulis yang bermarga Harahap juga berkomentar miring tentang Tuanku Tambusai yang katanya bernama Hamonangan Harahap?

Nama Tuanku Tambusai didaerah Tapanuli Selatan mempunyai arti khusus, bahkan beliau disapa Ompu Baleo yang artinya Tuanku Beliau. Sekarang nama beliau diabadikan sebagai nama Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Tapsel yang kita bisa dapatkan disana tertulis PDAM Tambusai. Seharusnya adalah PDAM Tuanku Tambusai, karena Tambusai adalah nama kecamatan di Rokan Hulu. Tulisan PDAM Tambusai penulis temui di Sipirok yang kini penduduknya lebih 70 persen Islam. Disana malah ada Pondok Pesantren yang justru banyak menerima santri dari Provinsi Riau, asalnya Tuanku Tambusai.

Sebaiknya mari kita lihat kembali dengan pikiran dan wawasan yang luas, betapa nilai kejuangan jatidiri anak Melayu dari Desa Tambusai bernama Muhammad Saleh ini, sebagaimana hasil perburuan naskah sejarah para ahli di museum sejarah baik di museum nasional di Jakarta maupun di Leiden, Belanda, yang dapat terbaca lewat tulisan penulis militer Belanda yang terlibat langsung sebagai “pelaku sejarah” yaitu Gubernur Militer Michiels dan menantunya yang juga ahli strategis bernama Van Der Hart, maupun penulis Belanda seperti JB Neuman, D Brakel, EB Kielstra, HM Lange dan seorang Antropolog terkenal bernama Schnitger. Tidak ada alasan Tuanku Tambusai “tidak popular di Riau” kecuali bagi orang-orang yang “Tidak tahu bahwa dianya tidak tahu”. Semoga tulisan ini menjadi “obat” bagi yang lupa akan jasa anak jati diri Melayu ini yang untuk pertama kali telah menempatkan potret dan jati diri Anak Melayu Riau itu kedalam album nasional yang sejajar dengan suku bangsa lainnya di Indonesia dalam menegakkan NKRI yang kita cintai. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal dan mengenang jasa pahlawannya sendiri?

LINK

Iklan

40 pemikiran pada “MENJAWAB TUDINGAN; ISLAM DISEBARKAN DENGAN KEKERASAN DI TANAH BATAK

  1. Antum dapet darimana cerita Imam Bonjol tentang perang Paderi.
    Kisah itu ada 2 versi:
    1. Versi Belanda
    2. Versi salafy
    Antum kalau dapet cerita dari Belanda ya..jelas kontroversi.

  2. @ Almaidany
    setiap sejarah perang biasanya ada versi yang berbeda. saya kasih contoh perang antara Sultan Hasanuddin dari Makassar dengan Aru Palakka dari Bone, Orang Bone mengatakan Aru Palakka adalah Pahlawan, tetapi orang Makassar bilang Aru Palakka adalah pengkhianat karena bersekutu dengan Belanda. Contohnya lagi saya berkelahi dengan si B, kemudian saya menulis di buku diary saya bahwa si B salah dan si B menulis di buku diarynya saya salah kemudian setelah kami berdua meninggal, cucu kami menemukan diary kami berdua, kalau cucu saya hanya melihat dari buku diary saya maka kemungkinan sebagian besar isinya menjelekkan si B, demikian juga sebaliknya. Untuk mengetahuinya tentu kedua buku diary itu di cocokkan, berikut kesaksian dari catatan tetangga atau pak RT/RW/polisi yang mencatat pertengkaran kami.
    Jadi kesimpulan saya kalau buku Tuanku Rao yang kontroversial itu tidak ada bukti sejarahnya, hanya berdasarkan opini atau catatan satu pihak maka harus di cross check dengan yang ada di Belanda. Kalau hanya satu pihak namanya bertutur, mungkin ya. Mungkin anda punya pendapat lain ?

  3. @almaidany: Setahu saya, sejarah itu multi dimensi. Salah satu kegagalan dalam mencermati sejarah adalah melihatnya secara sepihak. Sebab metode tersebut akan gugur dalam proses kritisi.

    Bahkan jangankan dalam proses kritisi, pakai metode heuristik, yang secara jelas-jelas ada di awal pendokumentasian sejarah, apabila hanya dilakukan secara sepihak saja sudah akan menggugurkan kesahihan sebuah sejarah.

    Tapi saya tertarik, sama seperti dengan daeng limpo, yang bertanya-tanya mungkin anda punya metode lain dalam mengkritisi sejarah. Silahkan berbagi, Bung Almaidany…

    1. wah..wah. jgn emosi bang togar, namanya sejarah banyak versinya.. tdk ada sejarah yg benar2 100% dapat diterima oleh semua org.
      nb: kristen di tanah batak tdk melalui kekerasan..

  4. @ Bang Togar
    Kita tidak mencari siapa melakukan kekerasan, melainkan mencari tahu setidaknya mendekati tentang jejak sejarah yang sebenarnya berdasarkan opini yang beredar belakangan ini, termasuk opini diatas.

    1. bicara di ridhoi bang togar ini terlalu cepat ambil kesimpulan. ada baiknya bang togar banyak belajar tentang tiga abang beradik bertikai di timur tengah. ada jacatan sejarah lo isinya juga ada tiga versi walau di katakan tak sama tapi nyenggol-nyenggol lah beti bang togar (beda tipis). catatannya juga di catat kembali pada beragam zaman yang terpisah ratusan tahun. jadi tidak ada alasan tuk mengatakan
      catatan awal tidak akurat. mungkin pengatahuan bang togar aja yang tidak akurat.
      Ibarat tiga laki-laki satu bapak, beda mamak sama si paling kecil. pembagian warisan tidak seimbang bang togar. bungsu dan si sulung bertengkar saja, si tengah yang rasakan pahitnya. jadi terbuka aja pelajari sejarah bang togar, banyak baca, banyak tau banyak wawasan asal jangan banyak agama banyak istri gak baik bang togar.

  5. @ Mudy
    bukti-bukti apa yang mendasari petisi anda, kalau boleh saya tahu ? tentu kalau buku TUANKU RAO anda katakan dalam bantahan opini tersebut :
    “Karena Petisi TIDAK didasari pada buku “Tuanku Rao”, maka alinea diatas tidak ada relevansinya dengan Petisi. Kenyataannya buku “Tuanku Rao” memang banyak berisi khayalan. Hal ini telah ditegaskan oleh banyak pihak, termasuk Buya Hamka dan Bapak Basyar Hamidy Harahap. Tidak ada hal baru yang dikemukakan”.
    maka anda harus merujuk pada bukti-bukti sejarah yang otentik bukan ?, apakah anda seorang ahli sejarah?. salam

  6. Saya hanya membaca di majalah tempo mengenai prahara di tanah Batak (perang padri), apa yang diceritakan dalam buku tersebut persis apa yang diceritakan sesepuh di kampung saya (Panompuan) yang telah meninggal 25 tahun yang lalu, dikala itu saya masih duduk dibangku SMP. Cerita yang beredar dimasyarakat, dan yang saya dapat dari sesepuh tadi, bahwa panglima padri itu adalah orang batak yang telah dibaiat oleh tuanku imam bojol disekolahkan ke mekkah dan sekembalinya ditugaskan menyebarkan paham islam berdasarkan maszhab wahabi, tetapi dalam faktanya bahwa angkola dan padang lawas pada waktu itu sudah banyak yang memeluk agama islam. Hanya saja yang paling mendasar saya lihat adalah kurangnya data pendukung sehingga, Hamka menkretik buku tersebut sebagai khayalah atau dodeng menjelang timur. Menurut saya, buku tersebut mendekati benar, karena secara geografis Bonjonl lebih dekat dengan mandailing dari pada ke Padang (Sumbar, oleh karena itu tidak tertutup kemungkinan terjadi pertalian persaudaraan antara mandailing dengan suku chaniago (Imam Bonjol. Yang menjadi masalah adalah ego kesukuan, bahwa orang minang tidak mau mengkui tuanku lelo, tuangku rao dan tuanku tambusai orang batak, hanya itu saja letak permasalahannya. Untuk mencari titik temunya adalah, lebih banyak lagi mencari data/informasi tentang padri ke negeri belanda, dan dalam negeri, seperti mewawancara ketutunan tuanku tambusa di riau, apakah tambok (silsilah) bagi orang batak yang tidak pernah putus sejak marga induk. Menurut cerita sesepuh kampung saya tadi bahwa tuanku tambusai bermarga harahap, tinggal menayakan pada keturunan tuanku tambusai, kemungkinan tabir tuanku rao akan terkuak kebenarannya dan tidak perlu diperdebatkan.

  7. salam kawan-kawan…

    sulit bagi saya untuk menyatakan salah atau benar,,bagi saya sendiri buku tuanku rao menambah pengetahuan saya akan sejarah negara kita ini…
    di sini saya cuma hendak menyampaikan sedikit apa yang saya tahu…
    1. agama yang ada di dunia (terutama agama2 abraham/ibrahim) dalam sejarah terbentuk dan persebarannya tak sedikit menggunakan jalan kekerasan. co: KRISTEN (tidak dipisahkan antar aliran2) pada jaman romawi memakan korban2 para imam atau rakyat dari suatu daerah,,terbentuknya kristen protestan oleh luther juga ditandai tindakan anarkis oleh kaum miskin dan golongan atas,,sedangkan islam terlihat dari gerakan muhammad ketika hendak masuk ke mekkah (kalau tidak salah,,karena saya lupa sumbernya)
    2. agama itu tidak hanya bersifat rohaniah..agama mengandung unsur-unsur politik,ekonomi,dan kekuasaan. kawan-kawan mungkin bisa lihat pandangan ini dalam buku-buku tentang agama-agama yang memakai sudut pandang selain keimanan terhadap agama-agama tersebut.
    3. masalah imam bonjol sebagai pahlawan nasional. saya sangat tidak setuju jika imam bonjol tidak dijadikan sebagai pahlawan nasional. apapun tindakan di masa lalunya,,imam bonjol akhirnya melakukan perlawanan terhadap Belanda.walaupun masih bersifat kedaerahan,tapi perlawanan tersebut menunjukkan bahwa di wilayah nusantara belanda tidak dengan mudah menguasainya.

    sekian pendapat dari saya

    salam

  8. saya tak berani mengomentari ini. tapi kebetulan Senin (26/11) kebetulan buku yang ditulis Mangaraja Onggang Parlindungan, Tuanku Rao blabala…, benar perang paderi telah terjadi dan menewaskan ribuan warga di daerah itu. tapi hal itu masih perlu dikaji dan perlu ada pemilahan antara perang paderi dan perang bonjol. yang jelas, buku yang ditulis parlindungan tidak bisa diterima dan dipandang dari kacamata sejarah.

  9. wah ikutan belain Imam BNonjol ah…bajigur tenan tuh orang.

    eh..ati-ati…ati-ati…ati-ati plovokasi hihihi kekekek, ikutaaaaaaan ah.

    iya juga sih, literaturnya dapet dari mana nich?

    semakin tempat nya dibuat kontroversinya semakin meluas hehehe. kali ini gue idem bang pandapotan dech kalau dari persepsi sejarah yah bias.

    tapi berani banget yah tuh orang bikin buku gak kuat gitu faktanya….huuuuuuu kita sorakin yuk rame2. (abis bingung mau serius gak paham masalahnya)

    tapi jadi tau kisah dibalik sejarah nich. makacih yach.

    kata orang2 pintar, yang pintaaar sekali, kebenaran saat ini tidak lagi berhadapan dengan ketidak benaran, tapi berhadapan dengan kebenaran lainnya.

  10. @ Leny

    Len, apa yang ditulis Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP) dalam bukunya berjudul Tuanku RAO, Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, perlu direnungkan dan dibaca. Ini justru bukan soal kebenaran dan ketidakbenaran menurutku, tapi lebih pada upaya membuka pintu, bahwa ada ‘sesuatu’ yang tak selesai di masa lalu. Kontroversi bahwa Tuanku Rao adalah adalah orang Toba atau Minangkabau, misalnya, adalah cerita yang membuat kita memang jadi sulit mempercayai apapun. Apalagi ada bantahan keras dari Hamka ketika itu. Nah siapa yang benar?

    Bisa saja penulis-penulis sejarah yang telah diketok ‘orde baru’ untuk kepentingan stabilitas, bisa juga MOP yang ‘lebih jujur’ dan menulis dengan blak-blakan. Justru itu bukunya sulit dipercaya, karena tidak ditulis berdasarkan metodologi dan kacamata sejarah. Ibarat Gusdur, dia mungkin nyleneh mengungkap fakta itu.

    Yah, aku sendiri lebih berpikir bahwa Perang Paderi yang, konon, menewaskan banyak orang Batak itu, tidak dalam rangka penyebaran agama Islam, tapi lebih pada perluasan wilayah kekuasaan. Ataukah bermotof dendam, atau ….!

    Len, gimana kalo kita diskusi soal ini lewat email aja?

  11. @daeng yth, saya bukan ahli sejarah.
    Berbagai bacaan terkait petisi sudah di arsipkan di http://groups.yahoo.com/group/sejarahkita, tidak perlu registrasi untuk melihat.
    Sebelum MOP “Tuanku Rao” sudah banyak tulisan mengenai Pemberontakan Paderi. Baik Radjab, Harahap, Napitupulu, bahkan Hatta turut membuka aib Paderi.
    Seluruh fakta dalam petisi dapat dikonfirmasi pada ahli-ahli sejarah terkait. Fakta mana yang kurang jelas dapat saya terangkan secara lebih mendalam, baik kepada pakar sejarah, maupun kepada orang awam.

    Salam hormat,
    Mudy

  12. Imam Bonjol bukan penyebar agama Islam di Minangkabau dan Batak Selatan. Minangkabau dan Batak Selatan sudah Islam jauh sebelum perang Paderi. Islamisasi Minangkabau dan Batak Selatan dimulai oleh kesultanan Aceh, diteruskan oleh ulama-ulama seperti Burhanuddin dari Ulakan, perintis pesantren Pariaman. Tuanku Nan Renceh (guru Imam Bonjol), misalnya adalah santri dari Tuanku Nan Tuo ulama Pariaman penerus Burhanuddin. Tetapi Tuanku Nan Renceh mendurhaka pada gurunya, bahkan disebut pernah mencoba membunuh beliau, demi menegakkan ajaran Wahabi yang baru masuk ke ranah minang 1803.

    Selengkapnya mengenai pendapat saya bahwa Islam TIDAK masuk dengan kekerasan di Ranah Minang dan Batak Selatan dapat dibaca di:
    http://groups.yahoo.com/group/sejarahkita/8

  13. Bpk Togar,saya pikir anda menanggapinya terlalu sempit dengan membandingkan penyebaran agama lain.Adapun buku ini saya rasa sebagai penambah pengetahuan kita akan sejarah yang tertutupi,Pernahkah anda berpikir kenapa pada masa orde baru sejarah tuanku Rao sangat tertutup ???
    BRAVO Parlindungan….Membuka sejarah Batak yang tertutupi,tetapi hendaknya orang Batak Menanggapi ini dengan Lapang Dada dan tetap berpegang teguh Pada Persatuan Bangsa,jadikan sejarah ini masa kelam buyut kita untuk menjalin persatuan kita,karena kita diadu Domba……………INGAT…..KITA DI ADU DOMBA….DEVIDE AT IMPERA

  14. Orang Batak terkenal keras tetapi berhati lembut, saya yakin dengan pikiran jernih dan mengedepankan kebenaran berdasarkan fakta-fakta akurat tentang peristiwa tersebut, hal ini dapat diselesaikan dengan baik. Apa yang telah terjadi adalah sejarah apa yang akan terjadi adalah masa depan. Sejarah dan masa depan adalah dua hal yang berbeda bila diukur oleh waktu.

  15. Guys,

    saya melihatnya buku ini sebagai the other side sejarah Islam dan atau Tanah Batak di Nusantara..

    jadi tidak usah repot, kita baca saja bila memang tidak mempunyai nilai positif tidak usah dimasukan ke dalam otak kita…

    Jadi seperti melihat menara api yg tinggi dari banyak sudut tentunya akan berbeda-beda. warna dan bentuknya.

    Jadi tidak usah di politisir atau seperti orang yg kebakaran jenggot…susahnya jadi orang Indonesia yg selalu pake emosi daripada pake akal…

    Bill Gates bilang kalu ada upgrade otak,otak org Indonesia masih banyak spacenya…jarang dipake sebetulnya

    GBU
    ————————————————————————————————————————————–
    Boys,
    Sebenarnya otak kita orang Indonesia sering juga sih dipakai, cuman dipakai mikir yang nggak-nggak semacam viruslah gitu, akhirnya susah dibersihkan dengan Mc Afee atau Norton, apalagi pake yang gratisan macam AVG…he..he..he..(ngejek diri sendiri)

  16. Menurut sejarah yang saya ketahui.Tuanku Tambusai memang marga Harahap. Karena ketika pertempuran di Dalu – dalu menghebatOppung tua saya mengirim pasukan untuk membantu sepupunya Tuanku Tambusai.
    Dan Orang batak sudah memeluk Islam jauh sebelum Perang Padri meletus.SisingaMangaraja XII juga Islam.

    Sutan Soripada Diattje


    ::Thanks, atas infonya Sobat

  17. Saya tidak setuju petisi tersebut.Ya Tuanku Imam Bonjol & Tuanku Tambusai walaupun Pahlawan tetaplah manusia biasa, pasti mempunyai sisi gelap dalam perjuangannya (terbukti dari teman2 saya yang orang Batak leluhur2nya bercerita secara lisan turun temurun menceritakan kekejaman perang PAdri dan diperkuat oleh buku Tuanku Rao dan Greget Tuanku Rao). Kedua petinggi Padri tersebut Sama seperti almarhum Jendral Suharto.DIa juga mengangkat senjata melawan Belanda dalam perang kemerdekaan, bahkan jadi Bapak Pembangunan. Namun dia dituduh Korupsi dan melanggar HAM selama menjadi presiden. sekali lagi ALmarhum Suharto hanya manusia biasa, walaupun punya sisi gelap namun ia melawan Belanda sudah sepantasnya ia juga diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena sama dengan Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai melawan Belanda dan mempunyai sisi gelap.Apalagi kedua Pahlawan tersebut yang mengangkat jadi Pahlawan adalah Almarhum Suharto jadi selyaknya SUharto juga Pahlawan

  18. Saya sebagai putra Batak (dan juga orang Batak lainnya) berbesar hati untuk menerima sejarah kelam tersebut. Mengenai peristiwa pembantaian tsb memang sungguh terjadi, setidak2nya itu menurut cerita kakek nenek kami. Untuk umat Islam dan rekan2 dari Sumbar, saya harap kalian juga dapat berbesar hati pula menerima kenyataan bahwa memang dahulu kedua “pahlawan bangsa” tsb memang pernah melakukan kekejian. Intinya sama2 berbesar hati dan tidak usah mendendam. Horas!

  19. tersebutlah orang-orang tua dulu (termasuk nenek kakek saya tahun 70-an) bercerita hal sebuah turi-turian (cerita rakyat turun-temurun) tapanuli utara. Judul turi-turian itu “Tingki ni Pidari” (masa ni pidari, atau ketika datangnya paderi).

    Setiap turi-turian ini diungkapkan, selalu expresi wajah nenek saya dipenuhi kesedihan bercampur kegeraman.

    Tingki ni pidari, adalah cerita kelam, menyayat dan gambaran kekejaman, kebrutalan pasukan paderi yang meluluhlantakkan daerah toba. Pembunuhan, pemerkosaan, perampasan, penculikan, dan segala hal sifat-sifat barbar berpadu satu pada durasi itu. Masyarakat toba dihinggapi ketakutan yang amat sangat dan hanya yang bisa melarikan diri mencapai hutanlah bisa selamat.
    Sambil bercerita, disebutkan pula tempat-tempat di daerah toba yang menjadi ajang pembantaian dan mayat bergelimpangan tak terurus.

    Tingki ni pidari, turi-turian yang selalu dilantumkan dengan langgam menyanyi lirih. Tingki ni pidari, nyanyian pilu yang tak akan menguap oleh waktu dan hilang oleh upaya pembredeilan kebenaran sejarah.

  20. Al amin nasutian berkata. apa bukti saya korupsi? buktikan, kalau tidak anda akan saya tuntut atas pencemaran nama baik.

    ani adalah salah satu contoh spekulasi koruptor, pembual, pemeras, angkuh ego dan segalanya, dan memang azas praduga tak bersalah di ciptakan untuk melindungi para pencetak undang undang yang bermasalah.

    hubungannya untuk kasus tuanku rao dan perang paderi. arang bodoh akan berkata. ada bukti nggak? ada literatur dan fakta lain yang mendukung nggak? ini adalah ungkapan orang yang merasa di pojokkan, dan mencari sesuatu pembenaran dan pembelaan. dalam hal ini saya tidak berpihak, namun saya hargai sebuah keberanian pengungkapan sejarah yang memang sudah di tindas, untuk melindungi sepihak atas dasar untuk menjaga situasi tetap kondusif pada era suharto.

    jadi wajar saja, kisah ini baru muncul kepermukaan.

    saya melihat ada jiwa perjuangan pada penulis kisah tuanku rao. beliau ingin bangsa ini memiliki kepribadian, dengan berjuta sejarah dan latar belakang. dia tidak ingin bangsa ini menjadi bangsa gelandangan yang tidak memiliki latar belakang, sejarah keturunan, ke pribadian, serta tidak mengetahui leluhurnya, akhirnya brutal karena tuntutan hidup. cermin yang ada saat ini, bangsa kita hampir menjadi bangsa gelandangan, menghadapi segala sesuatu dengan brutal seakan tidak memiliki kepribadian. yang tidak menghargai pejuang yang membesarkan bangsa ini.

    akhir kata setelah bukti- bukti ada, al amin nasution pun menyerah, intinya jangan tuntuk orang untuk membuktikan sejarah, tetapi perbuat sesuatu yang dapat menggali sejarah dan yang terpenting adalah pelurusan sejarah yang sudah menjadi benang kusut.

  21. OH…. tak kusangka orang minang yang dipimpin imam bonjaol begitu keji dan bengis. Muka orang minang kelihatan manis. Solat 5 kali sehari, dan kemana-mana membawa simbol agama. Diam-diam ternyata Bengis juga.
    Kalau liciknya sih saya sudah tau dari dulu. ” Talunjuk luruih-Kalingking Bakaik.begitu prinsip hidup mereka. Dulukan nan di awak, Lalukan nan di urang. Egois.
    Kalau terhimpit inginnya diatas, kalau terkurung inginnya di luar. Itulah Padang/Minang. Kalau belanja sama padang, kata teman saya tawar sampai setengah harga. Pernah saya coba dan dikasih. Saya bandingkan ditoko lain barang yang sama masih lebig murah 30 persen. Jadi saya teptap kalah. Rupanya si Padang Pancilok ini tadi sudah mengetahui jurus saya yang akan menawar setengah harga. Setelah itu dia sudah menyiapkan jurus lain yang ampuh. Ditawar setengah harga pun masih untung besar. Ah dasar padang. Liciknya sudah biasa, tapi Bengisnya, Kejinya, saya baru tau.

    1. hei kornels. hati2 mulut besar dan kasar batak kau tu. org kasar macam kau gampang kali ditundukkan. mulut besar gadang karengkang gak pake otak kalah sama cerdik dan banyak akal.

  22. Bung kornel! Ini komen yg gw g suka, primordialis , harus d fahami bahwa terkadang misi baik d lakukan dgn cr yg g baek, namay jg manusia, kadang sudut pandang itu mempengaruhi pandangn. HATI2 jangn sampe kena politik adu domba.

  23. waduuh sobat sebaqngsa dan se tananh air………jgn terpengaruh sama mua ini,,,,,yg penting sekrg,,,,bisa hidup tenang,anak kita bs suksesss,,,,pinter agama….dan tehnologi,,,,,,

  24. dear rooms

    Apapun yg tertulis dan ditulis oleh para penulis menjadi suatu pembelajaran bagi kita semua. Karena semuanya itu menjadi penuntun bagi kita semua sebagai bangsa dan anak dari pada bangsa dan negeri ini dengan mengetahui apa itu buruk, baik, atw mengada ada.

    semua itu menjadi penuntun arah yg akan kita tuju kedepannya.
    HORAS

      1. Kornel Anjing……
        Anjing juga ditambah lagi babi, klu ngomong jangan bawa ras anjing. belum juga tentu ras kamu lebih baik, go tohel kornel anjing. Dasar anjing.

  25. menurut ibu saya almahumah, memang pasukan paderi bonjol pernah menyerang tanah batak dan melaksanakan pemusnahan etnis batak secara massal,sayangnya beliau (tamatan Sekolah Guru Bantu) sudah meninggal dan itu diceritakan ketika saya berumur 10 tahun, sekarang umur saya 40 tahun.mungkin kalau internet sudah ada pada saat itu mungkin ibu saya bisa bercerita secara detail disertai bukti-bukti yang mungkin masih ada di kampung.maaf….saya tidak ingin menjelekkan siapapun…tetapi marilah kita kita bisa memaafkan siapapun, sebab sejarah sebaiknya dapat membentuk pribadi bangsa ini lebih bisa menerima perbedaan…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s