Kisah Salesman door to door

wjladotcom.jpgAku duduk diteras sambil mengipasi badanku dengan koran . Malam ini aku tak melihat satupun bintang dilangit, panas dan gerah yang terasa mungkin pertanda akan turun hujan. Kututup pintu kamar menuju ke ranjang reot, satu-satunya tempatku memanjakan diri dikala penat dan lelah. Dalam desingan suara nyamuk yang melintas ditelinga, aku terus berpikir tentang pembayaran tunggakan uang kost. Aku bertekat bulat, besok aku sudah harus mendapatkan pekerjaan apapun, karena uang pesangon PHK sudah menipis. Tiga bulan terakhir ini , aku sudah melamar kesana-kemari tetapi belum juga menampakkan hasil yang menggembirakan, baik itu wawancara maupun tes tertulis.

Begitu susahnya mencari pekerjaan di Bogor ini, aku berpikir mungkin sebaiknya mencoba menjadi sales door to door. Dalam kesukaran pasti ada kemudahan, ini adalah pesan orang tuaku yang selalu aku ingat. Hari ini aku kembali membeli koran untuk melihat lowongan pekerjaan, kebetulan aku lihat ada lowongan untuk menjadi sales door to door, maka segera kubuat lamaran dan menuju ke alamat kantor yang tertera di kolom lowongan koran itu. Setelah tiba di alamat tersebut, aku antri untuk wawancara. Karena lowongan ini adalah direct selling door to door jadi wawancaranya nggak susah-susah amat. Akupun diterima di perusahaan tersebut, aku bekerja dengan target untuk menjual produk seperti alat pencuci mobil tekanan tinggi atau dalam istilah bahasa inggerisnya high pressure washer, lalu polisher, dan vacuum cleaner.

Sebelumnya aku belum pernah menjadi sales door to door, bersama empat peserta lainnya yang diterima, kami ditraining selama lima hari oleh trainer yang didatangkan dari kantor pusat di Jakarta . Kami sangat bersemangat mendengarkan penjelasan trainer tersebut, maklum kami semua memang lagi butuh pekerjaan. Ketika mulai melakukan promosi dengan mengunjungi setiap rumah yang kami lalui untuk menawarkan produk, awalnya aku sempat gugup untuk memulai menawarkan jualanku , walaupun akhirnya menjadi terbiasa menerima penolakan dari penghuni rumah yang kukunjungi. Aku selalu membekali diriku dengan uang koin untuk mengetuk pintu pagar, agar penghuni rumah mendengar kalau ada orang diluar. Kami sering berangkat bertiga dengan menumpang mobil perusahaan, sesampainya kami dilokasi yang telah ditetapkan sebelumnya lalu kami berpencar dan kemudian bertemu di satu tempat yang telah disepakati. Inilah kalimat yang sering aku ucapkan kalau sedang menawarkan barang, “permisi pak… (atau bu), kami dari perusahaan peralatan kebersihan ingin meminta sedikit waktu untuk memperagakan peralatan kebersihan kami, lima menit saja. Mungkin bapak (ibu) tertarik dengan peralatan kami ini. boleh minta waktunya pak (bu)?”. Kadang ada yang langsung menolak, “maaf saya lagi sibuk”, atau “lain kali aja deh, saya lagi nggak mau diganggu” tetapi ada juga yang berbaik hati mengizinkan kami untuk demo alat.
Pelanggan pertamaku adalah seorang pemilik ruko kelontong. Saat itu bulan September hampir berakhir, sementara aku belum menjual satupun produk, jadi bisa dipastikan aku tidak mendapat tunjangan transport dan juga bonus penjualan. Artinya aku bakal mendapat masalah besar, karena pemilik kost-kosan sudah memberi deadline tiga hari lagi aku harus membayarnya, kalau tidak maka aku bakalan diusir dari kost-kosan tesebut. Sewaktu lagi berjalan di Taman Topi dekat stasiun kereta, aku melihat ada toko kelontong besar yang sudah mau tutup, aku masuk dan memperkenalkan diri, lalu menjelaskan tentang produk alat pencuci mobil. Ia tertarik, lalu aku melakukan demo alat dan pemilik toko tertarik lalu memesan satu unit.

Pelanggan keduaku adalah sebuah toko Furniture di dekat terminal merdeka Bogor (dulu), saat itu aku bawa mesin vacuum cleaner dan kemudian dengan seijin siempunya toko, aku memperagakan cara kerja alat tersebut. Sipemilik toko tertarik dan kemudian memesan satu unit.

Pada Bulan ketiga, aku menerima kabar via telepon genggamku bahwa aku diterima sebagai sales disebuah perusahaan pemasok Bahan Kimia untuk water treatment. Sebelum aku keluar dari pekerjaanku sekarang, aku sampaikan tentang hal tersebut kepada pimpinanku di kantor. Pimpinanku menyetujuinya, dan aku membuat surat pengunduran diri. Sedih juga meninggalkan kawan-kawan di kantor, terutama sesama sales karena kami sudah seperti saudara. Aku bukannya pesimis dengan pekerjaanku saat ini, hanya aku merasa lebih cocok menjadi sales bahan kimia karena latar belakang pendidikanku. Apalagi fasilitas dan gaji yang ditawarkan lebih baik dari tempatku bekerja sekarang.

Iklan

3 pemikiran pada “Kisah Salesman door to door

  1. makasih udah mw share pengalaman…. gmn pun juga… hidup selalu ngasih banyak pilihan… gimana kita aja nanggapinnya… nuhun bruder….

  2. Ma kasih dah bagi pengalamannya. Saya sangat tertarik dengan tulisanya. Kalo bolei tahu alat HPW yang dijual itu harganya berapa dan kualitasnya bagaimana? Katanya buatan china cepet rusak. Tp justru harganya yg terjangkau. Agar awet yg hrs dilakukan. Mohon infonya . Karena kalo kita tanya salesnya kadang kelemahan alatnya sering tdk diberitahukan . Tolong infonya. Atau kirim ke email sy didikmugiraharjo@yahoo.com .selamat berprestasi di kantor anda yang baru smoga diberikan kemudahan selalu. Trim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s