Menggapai kasih

tippyleafdotcom.jpgKasih, akhir-akhir ini kita agak susah untuk saling bertemu. Dikau sibuk dari senin hingga jumat, sabtunya lembur, dan minggunya capek. Kasih, dirimu hanya dapat kugapai dalam angan, setiap malam hatiku merindukan untuk bertemu. Namun waktu membelenggu dikau dan aku. Aku mencoba mencari sesuatu yang dapat meneduhkan hati, jalan-jalan ke pantai Ancol. Memang berjalan bersamamu lebih menyenangkan, aku merasakannya saat ini, saat harus sendiri. Kasih, aku tahu dikau wanita yang gigih dan cerdas sehingga berhasil mendapatkan jabatan sebagai sekretaris di sebuah perusahaan bonafid di kotamu.
Hari ini aku menerima sepucuk surat dari sebuah perkebunan teh di Panyairan Cianjur, isi beritanya aku diterima untuk bekerja di pabrik pengolahan teh disana. Sejak lulus kuliah setahun yang lalu dari sebuah Institut Pertanian, aku belum pernah sekalipun mendapatkan jawaban yang memuaskan dari perusahaan tempat aku melamar. Aku begitu gembira menerima surat itu. Aku pamit untuk meninggalkan kotamu, dan memulai pekerjaanku yang baru . Begitu pertama kali menginjakkan kaki di Panyairan, akau merasa sepertinya tempat ini cocok bagiku, kucoba meleburkan diri dalam keheningan dan keindahan alam perkebunan teh yang memghampar di Panyairan Cianjur. Kalau sengang aku naik motor atau berjalan kaki ke afdeling didekat mess yang kutempati, Aku senang melihat gadis-gadis pemetik teh yang bersenda gurau dalam keremajaan, sambil tertawa lepas.Sudah dua tahun kujalani pekerjaan ini, aku sering mengajakmu kesini, tetapi kerlap-kerlip lampu kota ditengah malam lebih menarik perhatianmu. Aku sudah jenuh dengan lampu-lampu itu, juga kebisingan yang sangat dari bunyi aneka tetabuhan, tape dan radio. Seakan-akan membunyikan musik dengan keras dapat meramaikan hati mereka. Menurutku hati mereka semakin sepi karena bunyi musik dari tape dan radio semakin keras. Di Panyairan ini waktu seakan melambat, orang-orang membunyikan radio dan tape tidak sekeras dikotamu. Bila lepas waktu Isya maka hanya hawa dingin menyelimuti dan kesunyian menemani tidurku, terkadang ada beberapa pekerja pria yang datang sekedar menemani ngobrol atau main catur di messku.
Aku kadang tertawa mengingat kehidupan di kotamu itu, sempit, kumuh, macet, dan banjir dimana-mana bila musim hujan tiba. Mengapa dikau mau memenjarakan diri pada situasi yang menjemukan. Bukankah kita dapat pergi mencari suasana baru walaupun sementara, untuk melepaskan diri dari penjara di kotamu itu. Apakah hidup ini hanya akan kita habiskan disebuah kota yang menurutku sumpek, aku sendiri takut keburu mati sebelum menikmati keindahan lain yang tidak kutemukan dikotamu itu.
Berapa harga sebuah kebahagiaan yang harus aku dan engkau korbankan untuk sebuah kerja keras ?, apakah sebanding dengan kertas yang diberi nilai, memang kita memerlukannya untuk hidup. Kasih, sekarang dirimu tidak sekedar memerlukannya, bahkan diriku telah kau abaikan demi mengejarnya. Aku tak mengajakmu untuk melawan bos atau pimpinan, tetapi apakah bos atau pimpinanmu pernah sedikit memberi kelonggaran untuk melepas keinginan kecil ragamu dan jiwamu melihat alam lepas tanpa beban apapun, aku sering mendengar engkau mengeluh tentang beban pekerjaan dikantormu, tetapi tidak ada sedikitpun keberanian untuk lepas atau berhenti dari sana. Bukankah cukup aku saja yang bekerja?, gajiku lebih dari cukup untuk hidup kita berdua disini.
Kasih, hari ini aku kembali mengajakmu kesini. Tetapi jangankan jawaban, mengangkat telepon dariku pun dikau tak mau. Aku ingin menceritakan kepadamu bahwa aku berkenalan dengan seorang gadis disini. Gadis yang lugu dan cantik menurutku, memang jauh dari kecerdasanmu. Aku tak tahu mengapa aku tertarik dengannya, jiwa lelakiku merasa begitu tersanjung dengan keramah-tamahannya. Dia tipe perempuan desa, agak pemalu tetapi sebenarnya menyimpan perasaan yang sama denganku. Aku tahu dari senyumnya, arah pembicaraannya dan tingkahnya bila bertemu denganku.
Kasih, selama tiga bulan ini kami sudah begitu dekat. Aku ingin memberimu penawaran terakhir, bersediakah engkau datang ke Panyairan , kita menikah dan menetap disini atau kau tetap disana dan kita putuskan kisah asmara yang telah kita rajut selama delapan tahun. Mungkin bagimu terasa sakit, juga bagiku tetapi mungkin inilah jalan yang terbaik bagi kita berdua. Sebelum waktu menghabiskan sisa umur kita, inilah pilihanku. Kutunggu Jawabmu.

(daeng limpo, panyairan 1994)

Iklan

3 pemikiran pada “Menggapai kasih

  1. Duh.. gimana dengan akhir ceritanya… Saya lewat penyairan rutin hampir setiap bulan. Banyak sodara di mess penyairan. Pulang pergi Cilaku – Pasir Nangka (sukanagara) juga saya jalani dengan sebuah impian.

    ::Di Panyairan waktu itu tahun 1994, akhir ceritanya sangat panjang….hingga akhirnya saya terdampar ke Riau.
    –salam untuk keluarga di panyairan, rindu suasana perkebunan teh—-

  2. Saudaraku kita pernah bersama-sama di Panyairan dan sekarang aku masih di Panyairan, Kalau gak salah anda Aryadi ?……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s