Tinjauan Perang dan Agama

Banyak peristiwa dan tragedi peperangan antara umat manusia yang terjadi di dunia ini. Peperangan disebabkan oleh beberapa hal, misalnya karena perebutan atau perluasan pengaruh atas suatu wilayah baik itu politik, ekonomi, budaya, dan agama. Peperangan telah ada sejak manusia ada, peperangan besar di abad 20 ini adalah perang dunia I dan perang dunia II. Sejak perang dunia ke II, negara-negara didunia sebagian besar terbagi atas blok timur, blok barat dan non-blok. Setelah runtuhnya tembok Berlin, lalu runtuhnya Uni Sovyet sebagai pilar blok timur maka peta politik dunia berubah dan menjadikan Amerika Serikat sebagai “satu-satunya” negara super power. Dengan lenyapnya blok timur maka Amerika membutuhkan “musuh” baru. Al-Qaeda kemudian menjadi “musuh” tersebut, sebuah organisasi yang tiba-tiba ngetop karena “dituduh” menghancurkan twin tower. Al-Qaeda yang disebut Amerika sebagai ‘teroris”, awalnya sebenarnya didukung oleh Amerika di Afghanistan baik dana maupun senjata. Lalu Al-Qaeda ini menjadi “senjata abadi” Amerika untuk menyudutkan Islam, karena hingga kini OSAMAH BIN LADEN sebagai aktor utama belum tertangkap, padahal dengan penguasaan teknologi yang dimilikinya sangat kecil kemungkinan Amerika tidak mengetahui dimana Osamah Bin Laden.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Islam, Kristen dan Yahudi punya sejarah pertikaian yang panjang dan masih berlangsung hingga saat ini. Mari kita renungkan, mengapa kaum beragama saling berperang sesama kaum yang beragama? bukankah semua agama melarang saling bunuh-membunuh? , dan beribu alasan yang dapat anda rangkai sendiri menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.
Lalu timbul pertanyaan selanjutnya, untuk apa sebenarnya agama turun dan hidup di bumi, jika tidak dapat membawa kedamaian?, mengapa kaum beragama semakin beringas untuk saling berperang demi untuk ‘menghabisi kaum dari agama lain’ , apa yang salah dengan “pengajaran agama” yang dianut oleh kurang lebih separuh populasi manusia dimuka bumi ini, sebagai penganut ketiga agama tersebut. Apa yang dilakukan kaum beragama untuk menghindari peperangan, pembantaian dan pertumpahan darah. Selalu terjadi jawaban bias, bahwa agama dan pemeluknya harus dipisahkan ?. Bahwa semua agama baik, hanya pemeluknya yang keluar dari rel ajaran agama yang dianutnya. Demikian banyakkah yang keluar rel sehingga setiap abad perjalanan sejarah dunia selalu terjadi perang atas nama agama?, sudah puluhan bahkan ratusan juta manusia yang mati karena perang keyakinan ini.
Lalu kemana Tuhan yang selalu kita sembah di tempat-tempat suci yang kita bangun, yang selalu kita kidungkan syair dan ayat-ayatnya, mengapa Dia tidak meninggalkan jejak kebaikan di hati para kaum yang telah “menyembahNya” dan “memuliakanNya”. Kita sibuk membangun fisik dari tempat ibadah kita yang megah, memuji kebaikan agama yang kita anut sambil membangun kebencian dari pikiran gelap untuk berperang dan saling memusnahkan, termasuk memusnahkan “Rumah Tuhan” yang telah masing-masing kita bangun. Bisa jadi sebenarnya kita butuh banyak peperangan, sebagai pembuktian bahwa “sang Penguasa Jagad Raya mendukung kami” atau sebagai tumbal “sang Penguasa Kegelapan”, tanyakanlah pada “Hati Kecil” anda masing-masing, karena hanya “Dia” yang tak pernah berbohong.
Anda tentu masih ingat tragedi-tragedi yang terjadi di tanah air, mencerminkan bahwa agama hanyalah bungkus alias penutup dari “nafsu perang” bagi sebagian besar kita kaum yang beragama, dia tidak mengisi batin kita yang kering. Apakah Tuhan anda tertawa saat menyaksikan anda membakar rumah, menusukkan pedang, memotong leher lawan, memperkosa, membantai wanita dan anak-anak tak berdosa? pada tragedi Ambon , tragedi Poso , tragedi Bom Bali I dan II. Saya yakin Tuhan murka melihat apa yang kita perbuat, lalu mengapa anda malah memilih kemurkaanNya?. Coba anda baca milis-milis tentang religi yang banyak di dunia maya, antara umat beragama saling ejek-mengejek, padahal kedua pihak yang “saling mencela” tersebut belum tentu paham dengan agamanya sendiri?. Ya kalau paham rasanya tidak perlu saling “mencela”, mungkin kata-kata bijak lebih mengena untuk menundukkan hati lawan bicara.
Jadi selama kaum beragama selalu memperlihatkan sisi konflik, baik yang memprovokasi maupun yang terprovokasi akan sama-sama dianggap sebagai “banteng aduan yang dungu”, namun bila lebih menempatkan dialog dan pembicaraan yang saling terbuka dan saling menerima barulah dianggap sebagai “manusia yang berbudi”. Agama akhirnya hanya dijadikan komoditas politik dari para “penguasa haus darah”, karena begitu mudah diadu domba. Marilah kita mulai dari diri kita (saya dan anda) untuk lebih mengedepankan dialog dan saling pengertian sebagai jalan tengah, atau mari kita berperang demi mencapai tujuan-tujuan “mulia” kita. Terserah anda mau pilih yang mana?, anda jual saya beli…..????

 

Kemenangan sejati bukan diraih dengan membunuh lawan, tetapi dengan mengubah lawan menjadi kawan. (daeng limpo)

Iklan

5 pemikiran pada “Tinjauan Perang dan Agama

  1. Assalaamu ‘alaikum Daeng, semoga sehat selalu.
    Suatu saat nanti, sangat boleh jadi banyak orang yang memutuskan untuk tidak beragama, karena ia melihat hampir setiap agama nampak seperti “menawarkan” kekerasan, tidak lagi nampak nilai-nilai ketuhanan dalam wajah agama. yang nampak adalah keberingasan atas nama Tuhan. Pembunuhan atas nama Agama dan Tuhan. Na’udzubillah. Salam dari saya Daeng
    _____________________________________
    Waalaikum salam juga Pak Ram, semoga sejahtera selalu.
    Menurut saya, sekarang saja banyak yang sudah memutuskan tidak beragama. Cuman mereka nggak ngasih tahu saya dan bapak…he..he..he..

  2. Daeng, sepertinya orang melihat agama dari kulitnya yaa, melihat yang menonjol2nya… bukan bagian dalamnya. Padahal kalau bagian dalamnya gak akan habis dinikmati… aneh padahal Kota-kota besar banyak sekali kyai dan ustadz yang dari yang berjidat klimis, yang ada noktah hitam sampai yang bercelana nantung semuanya ada. Tapi ya itu tadi, ketika khutbah, nulis, dan sebagainya, kebanyakan membawakan fatwa dan fatwa… Kemudian fatwa ini diadu dengan orang lain… akhirnya konflik internal.

    Ketika mencoba menelisik yang lebih dalam, ayat2 yang dikaji adalah yang berkaitan dengan agama bukan ayat2 akhlak… akibatnya porsi akhlak umat semakin kering?
    ___________________________________________________________________
    Banyaknya Kyai, Ustad maupun Pendeta dan Pastor bukanlah suatu ukuran mas Kurt. Sebagaimana banyaknya Mesjid dan Gereja juga bukanlah ukuran bahwa masyarakat kita agamis. Yang menjadi tolak ukurnya adalah bagaimana keseharian dari kaum beragama didalam masyarakat.

  3. Di beberapa agama memang ditemukan banyak fanatik buta yang mensahkan pertikaian dan perang atas nama Tuhan. 😦

    “I put no stock in religion. By the word religion I have seen the lunacy of fanatics of every denomination be called the will of God. I’ve seen too much religion in the eyes of murders. Holiness is in right action, and courage on behalf of those who cannot defend themselves, and goodness. What God desires is here–in head–and here–in heart–and what you decide to do every day will make you a good man…or not.”
    Hospitaller of Jerusalem — Kingdom of Heaven

    Baidewei, saya suka kutipan terakhir dari Daeng. 😉
    Seperti filsuf-filsuf kuno Tiongkok. 😀
    ______________________________________________
    Perang adalah solusi bagi orang-orang yang frustasi.

  4. Setiap kali kita memutuskan untuk menjalankan aqidah yang ada dalam agama dengan benar,maka Allah akan membuktikan apakah kita ini tulus atau munafik,kalau tulus akan memancarkan kebaikan dari diri kita,bila kita menjalankan aqidah tsb. karena kemunafikan maka yang akan keluar ya… keburukan,sehingga orang awam menilai agamanya yang salah,melainkan kita sendiri yang salah sebab Allah sudah membuktikan,bukti itu bukan untuk-Nya tapi untuk manusia itu sendiri

Tinggalkan Balasan ke Ram-ram Muhammad Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s