Ijinkan Aku Mati

Anda tentu pernah mendengar kasus Ny. Agian Isna Nauli, seorang pasien yang lumpuh total setelah melahirkan anak keduanya (detikcom,27/9-2004). Karena sudah putus asa dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, sang suami Hasan Kusuma mengajukan permohonan penetapan euthanasia (suntik mati) atas istrinya kepada Pengadilan Jakarta Pusat (detikcom, 22/10-2004). Ia kemudian menceritakan kisah sedihnya tersebut dalam sebuah wawancara khusus (detikcom,07/09-2004).

Saya sendiri melihat kasus ini sebagai sebuah kisah yang benar-benar menyedihkan, bagaimana seorang suami harus menghadapi situasi dan pilihan yang sulit didalam keterbatasan finansial. Hingga harus mengambil keputusan untuk bermohon penetapan suntik mati (euthanasia) kepada pengadilan, hal ini didorong rasa kasihan dan tidak sanggup lagi menanggung beban biaya pengobatan.

Hal diatas menggambarkan betapa berharga kesehatan bagi kita, ingatlah disaat anda bokek tetapi anda masih sehat, hal itu adalah karunia, berarti anda masih punya kesempatan untuk mengisi hari-hari anda dengan aktivitas yang dapat mengisi kantong anda yang kosong. Jangan bebani pikiran anda dengan hal-hal yang rumit hingga anda sakit, carilah sesuatu yang menyenangkan dalam hidup ini sehingga jiwa tidak tertekan oleh keinginan yang dipaksakan atau berlebihan. Bagi seorang muslim, jalan yang terbaik bila musibah datang adalah dengan berserah diri kepada sang Khalik, mengatakan ini mudah tetapi pada kenyataannya bagi sebagian orang susah karena egonya masih menguasai dirinya. Saya berharap setiap orang akan mengatakan “IJINKAN AKU HIDUP”, jangan ada lagi orang yang berkata “IJINKAN AKU MATI”.

Iklan

9 pemikiran pada “Ijinkan Aku Mati

  1. gila…saia jadi mikir, kalo saia jadi suami, rasanya gimana gitu? afalagi jadi istrina…wih, sengaja “mbunuh” istri sendiri, yang dicintai….
    jahhh….

  2. apakah kalau si suami sudah benar2 tidak mampu membiayai dan dia mengatakan hal ini sejujur2nya ke pihak rumah sakit, tidak ada jalan lain ya untuk perawatan istrinya?…oh well, mungkin situasinya jauh lebih kompleks daripada sekedar masalah biaya perawatan saja ya…

  3. terkadang manusia menganggap dirinya lebih dari Sang Khaliq sehingga segala keputusan-Nya dia anggap dapat ditawar. Bila seseorang menginginkan istrinya meninggal karena bokek sementara di tempat lain ada kumpulan orang dengan kekayaan tak terhitung, berusaha untuk menyelamatkan bapaknya. Tidakkah ini tanda-tanda kebesaran-Nya ?

  4. Hmmm… Wallahi, saya sampai menitikkan air mata Daeng… Saya tolol, bodoh, kurang ajar, tidak pandai bersyukur… Saya banyak menyianyiakan nikmat Allah selama ini. Kepala saya sudah cukup sesak dengan dalil. muluy saya jug sering meggelontorkan nasihat kepada orang lain…

    Sayalah yang dengan sengaja membuat badan saya sakit, sehingga nikmat-nikmat Allah lainnya terasa menjadi tidak sempurna untuk saya rasakan… Makasih Daeng. Hari ini saya mendapatkan pelajaran, nasihat dan tamparan dari Daeng, orang yang saya sendiri tidak tahu rupanya, tempat tinggalnya, tapi sudah lebih dari sekedar sahabat

  5. Duh, harusnya mikirnya bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya dan membunuh (menghentikan napas) apapun alasannya adalah SALAH.

    *serius mode ON*

    -Ade-

  6. @Hoek Sugirang
    Maaf kawan aku baru bisa membalas komenmu, walau kutahu blogmu telah kau tinggalkan. Kehidupan hanya dapat dihentikan oleh sang pencipta Kehidupan, manusia harus tetap selalu berupaya agar bisa hidup.
    @streetpunk
    betul sobat
    @fisto
    keputusasaan selalu datang menghampiri, namun kita harus menghalaunya sejauh mungkin.
    @said
    sebuah ironi dalam kehidupan
    @Ram-ram Muhammad
    Sajak ini adalah untuk pribadi saya sendiri. Saya juga sudah menganngap kang Ram sebagai saudara saya
    @Ade
    Setuju sama Ade

  7. Pak daeng, kemarin saya baca post “ijinkan aku mati”, menginspirasi saya, tapi tulisannya lebih pada aspek legalitas. Blok anda saya link ya, tapi maaf konfirmasinya terlambat.

  8. Apakah kehidupan seseorang harus dipertahankan terus, jika ia tidak bisa disembuhkan lagi & dimana hidupnya hanya tergantung dari slang dan mesin saja?
    Apakah bisa dibenarkan kalau kita membunuh berdasarkan belas kasihan?
    Tiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan kematian yang baik dan yang bermatabat. Dan kematian yang perlahan, menyakitkan dan tanpa mengenal ampun bukanlah satu kematian yang bermartabat (malah terkesan) merendahkan sifat-sifat kemanusiaan qta. Kenapa kita memahfumkan aborsi, tetapi eutanasia tidak?
    Maap pak, td ituh adlh beberapa titipan pertanyaan dari hati kecil sayah (yg lain) 🙂 smoga bpk dak keberatan berbagi opininya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s