TELEVISI

Sebuah televisi tua, hanya warna hitam dan putih, bendera merah putih juga hanya hitam dan putih, logo-logo partaipun warnanya hanya hitam dan putih, lambang-lambang keagamaan hanya diwakili hitam dan putih.  Sebagus apapun pakaian yang dikenakan pejabat atau artis hanya ada warna hitam dan putih.

Sebuah televisi tua hitam putih, mungkin mewakili  kehidupan yang ada di zaman itu, di zaman di mana Indonesia masih berpolitik hitam dan putih.  Hidup di zaman yang memiliki sedikit pilihan-pilihan, hanya ada penguasa dan anti penguasa, hanya ada orde baru dan orde lama, hanya tga partai, hanya ada satu siaran televisi yaitu TVRI, hanya ada ya dan tidak, hanya ada satu azas Pancasila, hanya ada satu bendera yaitu merah putih, hanya ada satu kata untuk para menteri yaitu, “atas petunjuk Bapak Presiden”.

Televisi hitam putih yang tersingkir oleh televisi color yang lebih menarik, karena begitu banyak warna.  Warna bendera tak lagi terlihat oleh penonton sekadar hitam dan putih, tetapi sudah benar-benar merah dan putih, siaran televisi tak lagi hanya TVRI, bendera pun tak hanya merah putih (ada RMS, Bintang Kejora, GAM), partai-partai tak lagi hanya ada tiga, kata-kata persetujuan tak lagi hanya Ya dan tidak tetapi kadang Ya tapi tidak, warna-warni kehidupan lebih dinamis.

Jika saat ini menonton menggunakan televisi hitam putih, sepertinya kita melihat sejarah, walaupun sebenarnya kejadiannya saat ini.   Sejarah seperti hanya ada dua warna hitam dan putih waktu itu, apa yang tertulis pada buku-buku sejarah seperti tidaklah dapat di sanggah,  sejarah mengikuti kemauan penguasa.

Sejak  televisi color memasuki rumah-rumah, orang-orang terpaku di tempatnya, semua terlihat nyata, darah, api dan kemarahan.   Jika dulu televisi hitam putih di pakai oleh pemerintah sebagai alat propaganda, maka sekarang televisi bukan lagi menyiarkan propaganda pemerintah saja, propaganda para kapitalis, dan propaganda paham-paham berbasis agama juga ikut meramaikannya.  Jika dulu api hanyalah hitam dan putih, kini ia merah membara, jika dulu kemarahan hanyalah hitam dan putih, kini ada rona merah memancar pada wajah, jika dulu darah hanyalah hitam dan putih, kini darah terlihat merah pekat.  Orang-orang merayakan dunia warna-warni, sebagai keindahan, yang bagiku semu, sebenarnya tak lebih baik dari hitam dan putih.

 

 

Iklan

Tuhan yang berbingkai

Kita sering memberi bingkai pada sosok Tuhan, kita memberi bingkai walaupun didahului kata maha.  Padahal Tuhan tak dapat diberi bingkai, pikiran kita tentang tuhan adalah bingkai yang sebenarnya, karena kita sering menganggap Tuhan seperti manusia yang bisa mendengar (mendengar sesuai definisi manusia), melihat (melihat sesuai definisi manusia), kekal (menurut definisi manusia), berkata-kata (menurut definisi manusia).

Kita menjadi begitu sibuk mendefinisikan sifat-sifat Tuhan, padahal definisi kita tentang Tuhan sebenarnya adalah juga sebuah bingkai yang lain.  Sehingga tanpa sadar kita telah “mengecilkan” tuhan sebatas bingkai fikiran dan definisi kita.

Aku tak mengatakan Tuhan adalah maha besar, karena masih ada bingkai kata maha.  Aku tak mengatakan Tuhan maha perkasa karena masih ada bingkai maha disitu.  Aku hanya yakin bahwa ada Tuhan, seperti apa Tuhan…..? itu tidak menjadi kewajibanku untuk mendefinisikannya atau memberinya bingkai.

Yang kutahu ia ada, dan ia diluar daripada akal dan fikiran.  Yang terasa olehku ada satu tempat dimana Tuhan bisa  bersemayam….tempat itu begitu luas (jika kita ingin meluaskannya hingga tak terdefinisi)…..begitu dalam (jika kita ingin membuatnya dalam hingga tak terdefinisi)………Marhaban yaaaa..Ramadhan.

(pekanbaru digerbang ramadhan, Juli 2011)

ARIEL sang “ADAM”

Mungkin tak pernah terbayang di benak Ariel bahwa ia akan menghadapi masalah seperti saat ini.   Masa muda yang penuh dengan harapan akhirnya harus berakhir sementara di hotel prodeo.  Masa muda yang begitu bersemangat, bergelimang uang, diantara gemerlap bintang ketenaran, dan riuh-rendah suara para fans.  Adakah yang lebih hebat dari hal itu, dalam masa yang masih muda….?

Saya adalah penggemar lagu-lagunya yang menurut saya luar biasa, adakah syair-syair yang tercipta adalah juga sebagai ungkapan perasaan dan kegundahan jiwa mudanya….?. Sebuah perjalanan yang melelahkan akan mewarnai kehidupan Ariel selanjutnya, tetapi ia harus tegar menghadapinya.  Yang bersalah tentu harus mempertanggung jawabkan kesalahannya di depan Tuhan dan hukum.  Dan Ariel adalah sang “adam” yang terlempar dari surganya, karena ia lebih memilih “khuldi” yang terlarang padahal masih banyak buah-buah lain yang tersedia dan tidak dilarang.

Kelahiran

Kelahiran adalah sebuah perjalanan panjang, bagaimana seorang wanita dapat bertemu seorang pria dan mengikrarkan rasa suka mereka dalam sebuah ikatan pernikahan maupun tanpa ikatan pernikahan.  Bisa juga terjadi sebuah pemaksaan kehendak, ataukah siasat sehingga seorang wanita di perkosa atau sebaliknya, dan dengan ikhlas ataukah terpaksa harus merawat bayi yang dikandungnya hingga kemudian lahir.   Bagaimana anda bisa bertemu dengan pasangan ataukah suami/istri anda sekarang….? sungguh sebuah perjalanan yang manis.

Dan setiap anak yang lahir akan menjalani dan meniti hidup sebelum akhirnya ruhnya kembali, dan jasadnya hancur didalam tanah ataukah menjadi abu.  Jika kita terlahir dengan ruh yang suci (belum mengenal dosa), maka tentu kembalinya ruh kepada si EMPUNYA juga harus bersih.  Disinilah rahasia terbesar hidup, untuk apa kita hidup….? untuk menyembah Tuhan, lalu dimana Tuhan….? jika aku menyembahNYA tentu aku harus tahu dimanakah DIA berada….? jika aku menyembah sesuatu yang tidak nyata bukankah aku justru musyrik…? dan kemana harus kuhadapkan wajahku…?, ke Kakbah…benarkah DIA berada disana…? .  Tuhan aku percaya ENGKAU ada, tetapi apakah dengan percaya itu cukup…?

NEGERI NGESOT

Apakah itu negeri Ngesot….?
Negeri yang jalannya ngesot
Kalau China berlari
Kalau India berlari
Kalau Korea berlari
Kalau Jepang berlari
Negeri ini udah senang kalau ngesot aja…..
Gimana gak ngesot…?
Duluan lahir tapi gak bisa lari
Duluan lahir tapi gak bisa jalan
Jadi cukuplah baginya ngesot aja…

Negeri ngesotku…..
Inget film horor dengan judul suster ngesot
Negeri ini juga negeri horor
Banyak orang hilang entah kemana..?
Banyak pesawat jatuh mendadak
banyak kapal tenggelam tiba-tiba
Banyak kecelakaan Kereta Api
Banyak bencana Alam

Negeri Ngesotku…
di Negeri ini juga banyak hantu
Duit BLBI Hilang dimakan tuyul
Duit Bank Centuri habis sama kunti
Duit Bank Bali lenyap oleh leak

Negeri Ngesotku…
Kalau mau nggak ngesot
Ayo pecuti pejabatnya
Ayo dorong-dorong pemimpinnya
Ayo di ajari gak boong
Tapi jangan diajari buat sinetron
Apalagi disuruh sumpah pocong

Negeri Ngesotku
Berhentilah ngesot…
Masak ngurus KaPeKa dan Senturi aja
hampir seabad penuh….

(by. DG.LIEM, Pekanbaru 2009)

SEPAKAT

Seorang sahabat mengatakan kepada saya bahwa ia tidak setuju dengan keseragaman dalam hal pemikiran tentang Islam, maka saya jawab,” dengan pernyataan itu anda sebenarnya memperlihatkan bahwa anda justru setuju dengan keseragaman”, bukankah anda ingin berkata bahwa sebaiknya orang sepakat untuk tidak seragam…? artinya anda sepakat untuk menyeragamkan ketidak seragaman…..!!!

SAYA MALU MENJADI WNI karena ADA WNII

Saat ini selain WNI dan WNA, ada juga WNII atau Warganegara Indonesia Istimewa.  Istimewanya adalah, selain dianggap sebagai aktor rekayasa kasus yang membuat CICAK dan BUAYA berjibaku, Si A ini juga masih bisa leluasa dan petantang-petenteng dengan pengacaranya yang lucu.  Lucunya lagi si A ini sudah tidak punya urat malu, setelah rekamannya didengar oleh berjuta orang di republik ini, dia malah melaporkan pers ke POLISI.  Dan lucunya lagi POLISI kemudian mengikuti kemauan si A ini (walaupun akhirnya sadar bahwa mereka sudah keblinger, dan akhirnya tidak jadi memanggil pers tersebut).

Sebagai rakyat jelata, siapakah si A ini…? sehingga seorang Presiden, dan Institusi penegak hukum seakan-akan takut untuk menyentuhnya…?.  Akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa si A ini adalah WNII atau Warga Negara Indonesia  Istimewa, dia punya kekebalan hukum, bisa membeli hukum, bisa menyetir penegak hukum , bisa merekayasa hukum semaunya, bisa membuat Pimpinan Tertinggi Republik ini seperti bebek lumpuh dihadapannya, lebih parah daripada jaman penjajahan dulu. Memalukan, dimana martabat negeri yang diagung-agungkan…? kalau semua pejabatnya harus takluk kepada si A sang WNII.  Saya malu menjadi WNI…saya malu jadi WNI, warganegara kelas dua, budak para WNII.