TANAH YANG KITA MILIKI HANYA DEBU

Mengapa harus percaya pada lambaian akasia….?
Ataukah mungkin kita sudah terkena amnesia….?
Ketika kita masih menjadi pemilik sah tanah ini
Kita biarkan hutan
Menjaga dan melindungi Sungai dan mata air kehidupan
Kita telah menjadi lemah dalam pertikaian
Kearifan yang dahulu kita miliki sebagai peradaban
Kini berganti keserakahan dan ketamakan Tanah-tanah ini tak lagi kita miliki Karena semua telah kita makelari Dibeli oleh para pria berdasiAnak cucu kita kini hanya menjadi kuli Pada tanah-tanah yang dahulu kita kuasai Sungai-sungai kita dipenuhi limbah industri Ikan-ikan menggelepar lalu mati Tak lama lagi kita akan menjadi bangkai Tanpa mewarisi satupun tradisi Hanya ungkapan caci dan maki Atas semua yang telah kita khianati
(DG–LIMPO)
Iklan

Hujan

Dan langit bersenandung pada awan
Agar menjatuhkan hujan
Pada rumput kering dan gersang
Sebelum akhirnya setetes api jatuh
dari tangkai pinus
walau suara teriakan satwa tak lagi terdengar
Mereka telah binasa di pintu surga
Dan Manusia hanyalah binatang berakal
Yang membuka gerbang neraka
Memanggil-manggil Tuhan
yang tergantung di langit tanpa sayap

Dan langit kembali bersenandung pada awan
Agar sudi kembali menjatuhkan hujan
pada rumput kering dan gersang
Dan surga kembali di ciptakan
Diantara puing-puing neraka
Yang berserakan……

(DG.LIMPO,Pekanbaru)

Lingkaran

Malam

Engkau tetaplah pelabuhan raga

Walau sinar lampu menerangi kegelapanmu

Pagi

Engkau tetap kutunggu

Walau bunyi ayam berkokok memanggilmu

tak lagi bersuara

Waktu terus berjalan

Hidup terus berubah

Sesulit apapun pendakian kehidupan

Langkah kakiku jangan terhenti……

Sebelum kutaklukkan diriku sendiri…

(Pku, 21 May 2011)

Ibuku…BUMI

Ibuku Bumi………. ia  memikul beban penderitaan sendiri.  Wajahnya tercoreng moreng, tubuhnya penuh lubang-lubang tikaman, rambutnya habis di gunduli, ia tak pernah mengadukan nasibnya kepada Penciptanya,  semua perlakuan ia terima dengan penuh kasih sayang.  Terkadang ada gundah melanda, dan airmatanya tumpah sehingga bencana dimana-mana.

Ibuku Bumi……..ia harus menahan kesedihannya, sebab kesedihannya akan menghancurkan manusia ..anak-anaknya.

“Ibuku Bumi……….aku ingin tahu……. sampai kapan ibu dapat bertahan dengan penderitaan ini?”,  demikian selalu kutanyakan.  Ia tak menjawabnya hanya desiran angin sepoi-sepoi yang ia kirimkan buatku.

(DG.LIMPO,  2011)