RENUNGAN

Lelaki itu tiba-tiba ingin membaca buku diary almarhumah istrinya yang tercinta. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama 35 tahun masa pernikahan mereka. Tak ada halaman yang luput dari pandangannya, dan di halaman-halaman akhir, ia mendapati sebuah kalimat penyesalan dari istrinya. Sebenarnya istrinya tak sepenuhnya mencintainya, ia hanya menuruti keinginan orang tuanya yang menjodohkan mereka. Istrinya sebenarnya adalah seorang lesbian.

Iklan

TANAH YANG KITA MILIKI HANYA DEBU

Mengapa harus percaya pada lambaian akasia….?
Ataukah mungkin kita sudah terkena amnesia….?
Ketika kita masih menjadi pemilik sah tanah ini
Kita biarkan hutan
Menjaga dan melindungi Sungai dan mata air kehidupan
Kita telah menjadi lemah dalam pertikaian
Kearifan yang dahulu kita miliki sebagai peradaban
Kini berganti keserakahan dan ketamakan Tanah-tanah ini tak lagi kita miliki Karena semua telah kita makelari Dibeli oleh para pria berdasiAnak cucu kita kini hanya menjadi kuli Pada tanah-tanah yang dahulu kita kuasai Sungai-sungai kita dipenuhi limbah industri Ikan-ikan menggelepar lalu mati Tak lama lagi kita akan menjadi bangkai Tanpa mewarisi satupun tradisi Hanya ungkapan caci dan maki Atas semua yang telah kita khianati
(DG–LIMPO)

Hujan

Dan langit bersenandung pada awan
Agar menjatuhkan hujan
Pada rumput kering dan gersang
Sebelum akhirnya setetes api jatuh
dari tangkai pinus
walau suara teriakan satwa tak lagi terdengar
Mereka telah binasa di pintu surga
Dan Manusia hanyalah binatang berakal
Yang membuka gerbang neraka
Memanggil-manggil Tuhan
yang tergantung di langit tanpa sayap

Dan langit kembali bersenandung pada awan
Agar sudi kembali menjatuhkan hujan
pada rumput kering dan gersang
Dan surga kembali di ciptakan
Diantara puing-puing neraka
Yang berserakan……

(DG.LIMPO,Pekanbaru)

TELEVISI

Sebuah televisi tua, hanya warna hitam dan putih, bendera merah putih juga hanya hitam dan putih, logo-logo partaipun warnanya hanya hitam dan putih, lambang-lambang keagamaan hanya diwakili hitam dan putih.  Sebagus apapun pakaian yang dikenakan pejabat atau artis hanya ada warna hitam dan putih.

Sebuah televisi tua hitam putih, mungkin mewakili  kehidupan yang ada di zaman itu, di zaman di mana Indonesia masih berpolitik hitam dan putih.  Hidup di zaman yang memiliki sedikit pilihan-pilihan, hanya ada penguasa dan anti penguasa, hanya ada orde baru dan orde lama, hanya tga partai, hanya ada satu siaran televisi yaitu TVRI, hanya ada ya dan tidak, hanya ada satu azas Pancasila, hanya ada satu bendera yaitu merah putih, hanya ada satu kata untuk para menteri yaitu, “atas petunjuk Bapak Presiden”.

Televisi hitam putih yang tersingkir oleh televisi color yang lebih menarik, karena begitu banyak warna.  Warna bendera tak lagi terlihat oleh penonton sekadar hitam dan putih, tetapi sudah benar-benar merah dan putih, siaran televisi tak lagi hanya TVRI, bendera pun tak hanya merah putih (ada RMS, Bintang Kejora, GAM), partai-partai tak lagi hanya ada tiga, kata-kata persetujuan tak lagi hanya Ya dan tidak tetapi kadang Ya tapi tidak, warna-warni kehidupan lebih dinamis.

Jika saat ini menonton menggunakan televisi hitam putih, sepertinya kita melihat sejarah, walaupun sebenarnya kejadiannya saat ini.   Sejarah seperti hanya ada dua warna hitam dan putih waktu itu, apa yang tertulis pada buku-buku sejarah seperti tidaklah dapat di sanggah,  sejarah mengikuti kemauan penguasa.

Sejak  televisi color memasuki rumah-rumah, orang-orang terpaku di tempatnya, semua terlihat nyata, darah, api dan kemarahan.   Jika dulu televisi hitam putih di pakai oleh pemerintah sebagai alat propaganda, maka sekarang televisi bukan lagi menyiarkan propaganda pemerintah saja, propaganda para kapitalis, dan propaganda paham-paham berbasis agama juga ikut meramaikannya.  Jika dulu api hanyalah hitam dan putih, kini ia merah membara, jika dulu kemarahan hanyalah hitam dan putih, kini ada rona merah memancar pada wajah, jika dulu darah hanyalah hitam dan putih, kini darah terlihat merah pekat.  Orang-orang merayakan dunia warna-warni, sebagai keindahan, yang bagiku semu, sebenarnya tak lebih baik dari hitam dan putih.

 

 

Tuhan yang berbingkai

Kita sering memberi bingkai pada sosok Tuhan, kita memberi bingkai walaupun didahului kata maha.  Padahal Tuhan tak dapat diberi bingkai, pikiran kita tentang tuhan adalah bingkai yang sebenarnya, karena kita sering menganggap Tuhan seperti manusia yang bisa mendengar (mendengar sesuai definisi manusia), melihat (melihat sesuai definisi manusia), kekal (menurut definisi manusia), berkata-kata (menurut definisi manusia).

Kita menjadi begitu sibuk mendefinisikan sifat-sifat Tuhan, padahal definisi kita tentang Tuhan sebenarnya adalah juga sebuah bingkai yang lain.  Sehingga tanpa sadar kita telah “mengecilkan” tuhan sebatas bingkai fikiran dan definisi kita.

Aku tak mengatakan Tuhan adalah maha besar, karena masih ada bingkai kata maha.  Aku tak mengatakan Tuhan maha perkasa karena masih ada bingkai maha disitu.  Aku hanya yakin bahwa ada Tuhan, seperti apa Tuhan…..? itu tidak menjadi kewajibanku untuk mendefinisikannya atau memberinya bingkai.

Yang kutahu ia ada, dan ia diluar daripada akal dan fikiran.  Yang terasa olehku ada satu tempat dimana Tuhan bisa  bersemayam….tempat itu begitu luas (jika kita ingin meluaskannya hingga tak terdefinisi)…..begitu dalam (jika kita ingin membuatnya dalam hingga tak terdefinisi)………Marhaban yaaaa..Ramadhan.

(pekanbaru digerbang ramadhan, Juli 2011)