Tuhan yang berbingkai

Kita sering memberi bingkai pada sosok Tuhan, kita memberi bingkai walaupun didahului kata maha.  Padahal Tuhan tak dapat diberi bingkai, pikiran kita tentang tuhan adalah bingkai yang sebenarnya, karena kita sering menganggap Tuhan seperti manusia yang bisa mendengar (mendengar sesuai definisi manusia), melihat (melihat sesuai definisi manusia), kekal (menurut definisi manusia), berkata-kata (menurut definisi manusia).

Kita menjadi begitu sibuk mendefinisikan sifat-sifat Tuhan, padahal definisi kita tentang Tuhan sebenarnya adalah juga sebuah bingkai yang lain.  Sehingga tanpa sadar kita telah “mengecilkan” tuhan sebatas bingkai fikiran dan definisi kita.

Aku tak mengatakan Tuhan adalah maha besar, karena masih ada bingkai kata maha.  Aku tak mengatakan Tuhan maha perkasa karena masih ada bingkai maha disitu.  Aku hanya yakin bahwa ada Tuhan, seperti apa Tuhan…..? itu tidak menjadi kewajibanku untuk mendefinisikannya atau memberinya bingkai.

Yang kutahu ia ada, dan ia diluar daripada akal dan fikiran.  Yang terasa olehku ada satu tempat dimana Tuhan bisa  bersemayam….tempat itu begitu luas (jika kita ingin meluaskannya hingga tak terdefinisi)…..begitu dalam (jika kita ingin membuatnya dalam hingga tak terdefinisi)………Marhaban yaaaa..Ramadhan.

(pekanbaru digerbang ramadhan, Juli 2011)

Iklan

ENGKAU YANG MAHA

Setiap hirupan nafasku adalah karuniaMU, setiap hembusan nafasku atas ijinMU.   Karena ENGKAU MAHA KAYA, maka tak ada permintaanku yang tak mungkin ENGKAU kabulkan, karena setiap keraguanku pertanda aku meragukan KEMAHAKAYAANMU.   Selama masih ada keraguan di hatiku tentang KEMAHAANMU, selama itu pula doa-doaku semakin jauh dariMU.   (Kontemplasiku)

Kemiskinan adalah ancaman nyata bagi agama !

Setelah keluarnya SKB tiga menteri tentang Organisasi JAI (Jamaah Ahmadiyah Indonesia), masih ada pro dan kontra tentang SKB tersebut. Ada pihak yang merasa SKB itu tidak menyelesaikan masalah karena seharusnya Ahmadiyah dibubarkan, ada juga yang merasa bahwa SKB itu mengekang kebebasan berkeyakinan mereka. Saya sendiri sejak awal memang tertarik kepada masalah Ahmadiyah ini, awalnya saya sering adu argumen dengan orang-orang Ahmadiyah, tetapi lama-lama saya akhirnya berfikir bahwa musuh yang nyata bagi agama Islam sebenarnya adalah kemiskinan.

Jutaan umat Islam yang harus menderita dan bahkan jatuh miskin akibat situasi ekonomi negara yang sulit. Bukankah dalam Islam di sebutkan bahwa, “kemiskinan membuat orang dekat dengan kekufuran”. Jika Ormas Islam hanya menghabiskan energinya dengan saling adu otot dan otak tentang  permasalahan dan perbedaan pemahaman agama diantara mereka.  Maka konsentrasi untuk membangun kesejahteraan ummat Islam akan terabaikan. Saya fikir ummat Islam tidak akan pernah maju, jika hanya membahas tentang perbedaan diantara mereka. Toh perbedaan itu akan tetap ada, karena memang setiap manusia mempunyai sikap, pendapat dan pemikiran yang berbeda-beda.

Keluarnya SKB tentang Ahmadiyah, bukanlah ukuran sebagai sebuah kemenangan. Tetapi seharusnya introspeksi diri, khususnya bagi ulama untuk lebih meningkatkan kualitas dakwah dan juga bagi Ormas Islam untuk lebih berorientasi Sosial Kemasyarakatan.

Pindah Agama Adalah Tindak Kejahatan

Bagi yang pindah agama, berarti tidak begitu mendalami agama yang dianutnya. Anda tidak bisa pindah agama dengan mempermasalahkan agama. Itu tindak kejahatan. Itulah yang dikatakan Hindu

Hal tersebut dikemukakan oleh Sri Sri Ravi Shankar seorang spiritualis dari India, Ia mengungkapkan hal itu dalam pertemuan tokoh dunia dari lintas agama yang disponsori The Wahid Institute guna membahas upaya meredakan ketegangan antar-umat beragama di berbagai negara yang kondisinya semakin mengkhawatirkan. Lebih jauh Ia berpendapat bahwa pindah agama dapat dianggap sebagai suatu tindak kejahatan. Sumber berita ANTARA News.

Benarkah demikian….?,mungkin yang dianggap salah oleh Sri Ravi Shankar adalah seseorang yang menyalahkan ajaran agama sebelumnya sebagai alasan untuk berpindah kedalam agama yang baru dianutnya.

Saya pribadi melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Karena yang terjadi pada umumnya adalah seorang anak mengikuti agama salah satu atau kedua orang tuanya. Nilai-nilai yang tertanam sejak mereka kecil adalah nilai-nilai yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya dan juga lingkungan disekitarnya. Seorang anak yang lahir sebenarnya adalah suci (cerah), sehingga kemudian menjadi beragama disebabkan oleh nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua dan lingkungannya. Yang menjadi salah adalah apabila ternyata pengetahuan agama kedua orang tuanya malah tidak memadai untuk menjadikan anaknya sebagai seorang yang memahami nilai-nilai agama yang dianutnya.

Saya sendiri ada menyaksikan peristiwa dalam hal pindah agama ini. Seorang anak yang lahir dari kedua orang tua yang berbeda agama, lalu kedua orang tuanya bercerai dan masing-masing kemudian menikah lagi. Si anak ikut ayahnya hingga dewasa, tetapi ketika si anak dewasa kemudian memilih pindah kepada agama yang dianut ibunya (walalupun si anak tidak pernah bertemu ibunya). Tetapi kebanyakan pindah agama ini adalah karena ingin “menikah”, apalagi aturan di Indonesia tidak memperbolehkan perkawinan berbeda agama.

Anda punya pendapat….? Silahkan berbagi dengan saya.

Baca Juga :
Islam Seorang Steve Emmanuel

Ada yang Mampu Menunjukkan dimana Tuhan Berada……?

Masalah Tuhan ada atau tidak ada, mungkin tidak akan selesai jika diperdebatkan. Karena ini menyangkut pengetahuan dan keimanan seseorang tentang Tuhan itu sendiri. Saya akhir-akhir ini senang berkunjung ke blog SEBUAH PERJALANAN yah sekedar tukar pikiran, berdebat ringan, melucu, juga memperluas wawasan. Saya hanya agak “takjub” ketika ada seorang komentator yang bertanya di blog tersebut tentang “menunjukkan Tuhan” dan ada Tn. CY yang menanggapi tantangan si penanya, berikut kutipannya :

  1. pencari tuhan Mei 9, 2008 pukul 11:25 pm

    Jika ada manusia di dunia ini yang mampu menunjukkan dimana tuhan berada, dimana surga dan nereka, dimana ruh orang yang mati berada.
    Aku bersumpah akan mengabdikan sisa hidupku mempelajari ajaran agama atau keyakinan orang itu.

    Adakah yang merasa bisa teman-teman semua ? ? ?
    Kayaknya sich nggak ada yang bisa nich.

  2. daeng limpo Mei 10, 2008 pukul 10:59 am

    @pencarituhan
    ada yang bisa membuktikan !, syaratnya : anda harus bisa menangkap ruh manusia yang gentayangan. Sanggup Nggak…? D

  3. pencari tuhan Mei 10, 2008 pukul 12:37 pm

    @ daeng limpo

    emangnya orang itu sudah bisa nangkap ruh manusia yang gentayangan juga ? kok kasih syarat seperti itu.
    jangan-jangan akal-akalannya daeng aja tuch.

  4. daeng limpo Mei 10, 2008 pukul 1:42 pm

    @pencari tuhan
    wakakakakak…semua ada syaratnya mas,
    enak aja mau tahu Tuhan, mau tahu syurga dan neraka, dan tempatnya ruh tetapi gak mau usaha !.
    Ya…syaratnya itu tadi, tulung tangkep ruh yang gentayangan dulu. D
    —-***mbah dukun mode On***—-

  5. CY Mei 10, 2008 pukul 1:57 pm

    @pencari Tuhan
    Saya bisa menunjukkan yg anda mau, masalahnya anda berani ga ke sana?? wakakaka…

  6. daeng limpo Mei 10, 2008 pukul 2:35 pm

    ngakak baca komennya CY diatas, hayo berani kagak! D

MESJID AHMADIYAH DIBAKAR DI SUKABUMI

Pagi hari sekitar pukul 5:30 saya melihat newsticker tentang pembakaran mesjid Ahmadiyah di Sukabumi. Lalu ketika membuka gmail saya sekaligus mencari beritanya di google reader saya. Anda bisa membaca berita lengkapnya di SINI , benar-benar saya menjadi marah dan dongkol, mengapa masih ada orang “bar-bar” yang mau melakukan cara-cara brutal seperti itu. Mereka sebenarnya hanya menuruti tuhan hawa nafsu mereka saja?, maaf mengapa saya mengatakan demikian ?, jaman sekarang ini apakah masih perlu cara-cara “bar-bar” seperti itu untuk meyakinkan orang bahwa apa yang kita yakini benar?. Dasar “bar-bar” loe !!!, bikin malu guwe aja !!!, tangkap mereka pak Polisi, rehabilitasi mental mereka, penjarakan mereka dan beri hukuman yang setimpal.

Pindah Agama

Saya ingat kisah teman saya sewaktu masih kuliah, waktu kami TPB ada mata kuliah agama. Karena kawan saya ini beragama Islam, tentu mengikuti ujian agama Islam. Ketika ujian sebagian besar soal tidak bisa dijawabnya (dia tidak tertarik belajar agama), akhirnya dia mengajak saya ke rumah dosen. Ketika berbicara dengan sang dosen, dia langsung terus terang bahwa dia tidak mampu menjawab sebagian besar soal yang diberikan. Ketika ditanya apakah dia belajar, kawan saya ini bilang, “maaf pak, setahu saya Tuhan itu maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi kalau saya tidak bisa menjawab soal-soal itu , Tuhan tentu maha tahu”. Kalimat itu diucapkannya sambil bercanda, akhirnya kawan saya ini ketika mau pulang mengeluarkan sedikit ancaman kepada dosen tersebut yang intinya kalau nanti ujiannya dapat nilai D atau F, maka dia akan pindah agama. Nggak usah saya lanjutkan apakah dia dapat D atau F, tetap memeluk agamanya ataukah dia pindah agama.

Kisah diatas menunjukkan bahwa sebagai umat yang beragama, benarkah kita sudah menggali lebih dalam untuk menemukan “intan” dalam agama yang kita anut. Benarkah kita telah sungguh-sungguh ingin beragama dengan mempelajari intisari dari agama yang kita anut. Atau mungkin agama bagi sebagian kita hanyalah lelucon dan menjadi bahan olok-olok, sekedar beragama untuk meningkatkan status sosial, atau hanya karena ikut-ikutan?. Karena “dangkalnya” keimanan kita, sehingga agama hanya menjadi “komoditi” yang bisa diperjual belikan.

Pernahkah anda bertanya mengapa agama yang saya anut tidak dapat mengantar saya kepada Tuhan?, merasakan jenuh dalam beragama, bahkan menganggap agama sebagai beban, sehingga mungkin anda berfikir untuk “variasi” agama. Saran saya, jika anda ingin pindah agama semoga saja bukan karena alasan seperti yang saya kisahkan diatas. Tetapi kalau memang itu alasannya, saya bisa apa? 😀