MESJID AHMADIYAH DIBAKAR DI SUKABUMI

Pagi hari sekitar pukul 5:30 saya melihat newsticker tentang pembakaran mesjid Ahmadiyah di Sukabumi. Lalu ketika membuka gmail saya sekaligus mencari beritanya di google reader saya. Anda bisa membaca berita lengkapnya di SINI , benar-benar saya menjadi marah dan dongkol, mengapa masih ada orang “bar-bar” yang mau melakukan cara-cara brutal seperti itu. Mereka sebenarnya hanya menuruti tuhan hawa nafsu mereka saja?, maaf mengapa saya mengatakan demikian ?, jaman sekarang ini apakah masih perlu cara-cara “bar-bar” seperti itu untuk meyakinkan orang bahwa apa yang kita yakini benar?. Dasar “bar-bar” loe !!!, bikin malu guwe aja !!!, tangkap mereka pak Polisi, rehabilitasi mental mereka, penjarakan mereka dan beri hukuman yang setimpal.

Iklan

Ahmadiyah : Dapatkah Keyakinan di Hakimi ?

Sebelumnya izinkanlah saya meminta maaf kepada saudara-saudara muslimku baik yang ahmadiyah maupun yang bukan ahmadiyah. Saya hanya ingin menyampaikan pertanyaan saya tentang keputusan BAKOR PAKEM (Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) yang mengeluarkan peringatan keras kepada Kelompok Ahmadiyah agar menghentikan kegiatan mereka, keputusan ini dikeluarkan pada tanggal 16 April 2008 dalam Rapat BAKOR PAKEM yang dihadiri oleh Ormas dan wakil pemerintah yaitu DEPAG, KEJAGUNG dan MUI.
Sebelumnya pada tanggal 14 Januari 2008, disepakati tentang 12 butir pernyataan Ahmadiyah dan akan dipantau selama tiga bulan oleh BAKOR PAKEM. Setelah lewat batas tenggat waktu tiga bulan maka keluarlah rekomendasi tersebut diatas, yang pada intinya menyatakan bahwa Ahmadiyah gagal membuktikan bahwa mereka mematuhi keduabelas poin tersebut . Saya sebenarnya merasa aneh dengan kasus Ahmadiyah ini, yang sebenarnya bukan kali ini saja terjadi.

  1. Mengapa kasus Ahmadiyah ini tidak pernah benar-benar tuntas atau dituntaskan oleh pemerintah, padahal kasus ini sudah lama sekali.
  2. Mengapa harus ada “pemaksaan” kepada Ahmadiyah untuk menyatakan bahwa mereka bukan Islam, sementara Ahmadiyah sendiri menyatakan bahwa mereka adalah Islam dan mengakui bahwa Allah SWT adalah Tuhan mereka dan Rasulullah Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul Terakhir.
  3. Dapatkah sebuah keyakinan “diadili” hanya karena penilaian salah satu pihak, bahwa pihak yang lain tidak menjalankan Akidah dan Syariat sesuai dengan “ajaran Islam”.
  4. Jika pada poin ketiga anda mengatakan dapat diadili, maka apakah seorang yang mengaku Islam tetapi mereka tidak shalat, tidak puasa, tidak berzakat juga dapat diadili ?
  5. Apakah Ahmadiyah benar-benar lebih murtad dibandingkan orang-orang yang hanya memiliki KTP Islam saja, tetapi tidak pernah menjalankan ajaran agama Islam ?
  6. Jika tidak ada titik temu, bagaimana para pengikut Ahmadiyah dapat menjalankan keyakinannya dan Umat Islam yang lain juga dapat menjalankan keyakinannya tanpa merasa dinodai oleh Ahmadiyah
  7. Jika Ahmadiyah tidak mau membubarkan diri, apakah yang akan dilakukan pemerintah ?, menganggap Ahmadiyah sebagai Organisasi terlarang seperti PKI? ataukah KTP untuk pengikut Ahmadiyah tidak dimasukkan sebagai agama ISLAM?

Dua belas poin AHMADIYAH adalah sebagai berikut :

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW, yaitu Asyhaduanlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasullulah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.
  2. Sejak semula kami warga jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).
  3. Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.
  4. Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai’at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.
  5. Kami warga Ahmadiyah meyakini bahwa tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturunkan kepada nabi Muhammad. Al-Quran dan sunnah nabi Muhammad SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.
  6. Buku Tadzkirah bukan lah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohami Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).
  7. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata maupun perbuatan.
  8. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut Masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.
  9. Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.
  10. Kami warga jemaat Ahmadiyah sebagai muslim melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara lainnya berkenaan dengan itu ke kantor Pengadilan Agama sesuai dengan perundang-undangan.
  11. Kami warga jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturahim dan bekerja sama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam perkhidmatan sosial kemasyarakat untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  12. Dengan penjelasan ini, kami pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Satu yang saya harapkan, jangan karena perbedaan akhirnya kita menjadi gelap mata dan berbuat anarkhis atau merusak. Apakah kita ini lebih mulia dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sehingga merasa mulia jika bisa menghancurkan dan menyakiti saudara sendiri yang masih mengakui Beliau sebagai Nabi dan Rasul dan menyembah Allah SWT.
Ya..Allah ampunilah kami jika salah menilai, sehingga merasa memiliki hak untuk membinasakan orang lain yang tidak sepaham. Karena kebenaran hanyalah milikMu, bukan milik seseorang ataupun golongan tertentu.
Sumber lain :
12 Poin “Karet” Ahmadiyah
Ahmadiyah.Org (Lahore)
Membongkar Kesesatan dan Kedustaan Ahmadiyah
Mengapa Ya Ahmadiyah diperbolehkan di Indonesia ?
—salam damai—

Akhirnya DEPAG dan Ahmadiyah Sepakat

Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) akhirnya menyatakan bahwa mereka meyakini Muhammad Rasulullah adalah nabi penutup (Khatamun Nabiyyin) dan Mirza Ghulam Ahmad hanya sebagai guru dan pembawa berita gembira, peringatan serta pengemban ‘mubasysyirat’

Pernyataan tersebut dikeluarkan Amir Pengurus Besar JAI, Abdul Basit, kepada wartawan di Jakarta, Selasa, sesudah JAI berdialog dengan sejumlah tokoh masyarakat dan pemerintah sebanyak tujuh kali sejak 7 September 2007 yang difasilitasi Balitbang Departemen Agama, lihat berita lengkapnya DISINI.

Setelah sebelumnya saya dan rekan-rekan Jamaah Ahmadiyah Indonesia terutama saudara Angga, saling menimpali komen di DISINI, akhirnya datang juga kabar yang menyejukkan tentang Jemaah Ahmadiyah Indonesia. Departemen Agama dan Jemaah Ahmadiyah Indonesia akhirnya mencapai kata sepakat, Saya merasa bersyukur karena akhirnya jalan dialoglah yang dipilih untuk memecahkan masalah tersebut, bukan dengan kekerasan, pengusiran dan tindakan yang merugikan pihak lain. Saya berharap semua kalangan dari agama apapun dan kepercayaan apapun dapat hidup damai, jika agama sudah tidak dapat mendamaikan manusia maka perlahan tapi pasti manusia akan meninggalkan agama. Lalu manusia akan mencari sesuatu diluar agama yang menurut mereka lebih meneduhkan dibandingkan ketika mereka memeluk suatu agama, istilah populernya Spiritualisme tanpa Agama. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, dan tidak ada postingan yang tidak ada akhirnya. Demikian saya akhiri posting ini. Wassalam. PEACE…

Ahmadiyah Sesat atau Terlihat sesat ?

Peristiwa perusakan dan pengusiran pengikut aliran Ahmadiyah, akhir-akhir ini marak terjadi dan diekspose oleh media-media nasional. Peristiwa di Bogor, Nusa Tenggara Barat, Kuningan dan Majalengka adalah beberapa kasus yang layak diperhatikan untuk mencegah agar kejadian serupa tak terulang. Salah satu yang menyebabkan Ahmadiyah dianggap sebagai aliran sesat oleh MUI, karena menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, mujaddid, masih dan mahdi. Namun didalam website Ahmadiyah ada disebutkan bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak mengaku sebagai “nabi”, kutipannya adalah sebagai berikut :

Agaknya tidak bisa dipungkiri bahwa secara faktual Hazrat Mirza Ghulam Ahmad pernah mengaku nabi. Tetapi tidak boleh diabaikan pula adanya fakta lain bahwa pengakuan itu telah diralat atau lebih tepatnya dijelaskan oleh beliau. Singkatnya, pengakuan sebagai nabi hanya dalam arti harfiah, bukan dalam pengertian istilah atau syari’ah. Begitu pun, jika orang masih merasa keberatan dengan kata itu (Nabi), hendaknya diganti dengan muhaddats.

Berdasarkan klaim tersebut, kaum Ahmadiyah sendiri menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, benarkah demikian atau hanya untuk menurunkan tensi umat Islam yang merasa dilecehkan oleh Ahmadiyah. Sebaiknya pemerintah mengambil sikap tegas dengan membuka dialog antara kedua pihak seperti kasus-kasus aliran sesat sebelumnya antara lain Mosaddeq dengan Al-Qiyadah dan Sekte Kiamatnya Pendeta Mangapin Sibuea, kalau dibiarkan terus berlarut-larut dikuatirkan akan timbul anarkisme yang akan memakan korban dikedua pihak, karena masing-masing memiliki pengikut baik yang pro maupun yang kontra. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia , KH Cholil Ridwan yang mengatakan bahwa pihaknya tidak membenarkan kekerasan terhadap para pengikut Ahmadiyah. “Islam tidak mengajarkan kekerasan,” katanya seusai Sholat Idul Adha di Gedung DDI, Rabu, menanggapi banyaknya kekerasan yang terhadap para jamaah Ahmadiyah. Untuk mengantisipasi akan terjadinya kekerasan lagi, menurut dia, negara perlu bertindak dengan membubarkan jamaah Ahmadiyah (ANTARA News, 19/12/2007).

Setidaknya pihak yang pro dan kontra tentang keberadaan Ahmadiyah bisa mengambil suatu kesepakatan, apakah Jemaah Ahmadiyah dianggap masuk dalam Agama Islam atau di “luar” Agama Islam. Jangan sampai kita menganggap sesuatu yang”terlihat sesat” menjadi sesat, karena terlihat sesat masih dapat kita kaji “terlihat sesat” nya dimana, tetapi kalau “sesat” berarti seluruh ajarannya sudah bertentangan dengan kaidah Islam secara umum dan ini berarti Ahmadiyah tidak bisa dicap lagi sebagai aliran dalam agama Islam. Setujukah anda dengan pendapat tersebut ?