Hanyalah Bait

Hanyalah Bait
Oleh : DG.LIMPO
************
Kulihat bulan tinggal separuh malam ini
Yang separuhnya ditelan oleh penguasa malam
Kupandang langit yang bertabur bintang
Aku merasa begitu besar dan luas ciptaan-Nya
Enam milyar manusia yang ada dimuka bumi
Aku hanyalah satu di antara mereka
Bumi ini hanya seperti sebutir pasir
Di antara hampatan galaksi-galaksi lain
Yang hingga kini rahasianya masih terjaga

Kutuliskan kata-kata sebagai kekaguman
Namun tak pernah cukup untuk melukiskannya
Bahkan terasa miskin penggambaran
Ini bukanlah sebuah puisi atau syair
Hanyalah bait-bait ungkapan perasaan
Begitu besar Dia dan begitu kecilnya aku

Iklan

CELOTEH BURUNG

CELOTEH BURUNG
Oleh : DG. LIMPO
************************
aku terbang melintasi cakrawala
hinggap diatas pohon-pohon yang tinggi
melewati sungai yang meliuk-liuk
menghuni hutan-hutan yang lebat
bercengkrama dengan satwa lain

itu dahulu kala…………..
kini aku tak lagi tinggal disana
hutanku telah habis
pohon-pohon telah musnah
sungai-sungai telah kering
kawan-kawanku telah binasa

aku pergi ke kota-kota
hinggap pada kabel-kabel
hinggap pada tower-tower
begitu asing suasananya
panas…membakar…debu
polusi udara dimana-mana
tidak seperti hutanku yang teduh

disebuah rumah tua…
aku tertangkap seorang bocah
lalu dijual kepasar burung
kini menghuni sangkar emas
diberi makan dan minum setiap hari
namun apalah guna semua ini
jika kebebasan tak kumiliki lagi

akhirnya ………
kupilih mati di dalam sepi…. 😦

Cinta dan Jatuh Cinta

CINTA dan JATUH CINTA
Oleh : DG.LIMPO
*********************
Siapa yang tak mengenalmu
Datang tanpa janji lebih dulu
Pergi begitu saja dan berlalu
Meninggalkan sedih dan pilu

Kehadiranmu menjadi kerinduan
Membuat hidup kami penuh bunga
Menjadi pelita dalam kegelapan
Pecutan bagi semangat jiwa

Kamulah CINTA
maknanya dalam tak terduga
nikmatnya tinggi tak terkira
bagai meminum air laut
dahaganya tak pernah usai

Pernahkah anda Jatuh Cinta ?
Rasanya gila gila enak
manis seperti gula-gula
pahitnya jika berbumbu dusta

Cinta itu juga ramai
rindu dan benci
sedih dan gembira
tangis dan tawa
merajuk dan marah
resah dan gelisah

Cinta itu merangkum Alam
laut, sungai, gunung, bukit
Cinta itu bertabur kata
puisi, sajak, kisah, lagu

anehnya saya belum pernah jatuh cinta ?

Orkestra Malam

Orkestra Malam

Oleh : DG.LIMPO

************

pernahkah kau lewati suatu malam
disebuah taman penuh orkestra alam
sahut menyahut, sapa menyapa
semua bertasbih….menyebut asmaNya
lalu dengarlah degup jantungmu
juga menyebut asmaNya
lalu dengarlah suara hatimu
juga menyebut asmaNya
larutkan hati dan perasaanmu
ikuti saja kemana ia hendak pergi
seperti mengikuti aliran sungai
maka ketika sampai di penghujung
samudera luas akan menyambutmu

RIP:HUTAN

RIP : HUTAN

Lahir : jutaan tahun yang lalu

Mati : th. 2020

Oleh : DG.LIMPO

++++++++++++++++++++++++++++++++

hutan kini dialam baka

binasa oleh waktu dan pertarungan hidup

hutan menunggu hari penghisaban

menunggu keadilan Tuhan

dialam baka

hutan bertanya pada Tuhan

mengapa daku harus binasa oleh manusia

daku mengurangi racun karbondioksida diudara

sehingga daku melindungi manusia dari efek rumah kaca

daku memasok oksigen buat manusia

daku menyimpan air untuk manusia

daku menaungi jutaan satwa-Mu

daku ditempati jutaan tanaman-Mu

didunia nyata

manusia menjawab

kami membinasakannya

karena kami butuh kayunya

kami membinasakannya

karena kami butuh investasi

kami membinasakannya

karena kami butuh tempat yang luas

kami membinasakannya

karena kami butuh pekerjaan

Tuhan tetap diam

Malaikat bertanya-tanya ?

Bukankah Tuhan menitip hutan kepadamu

Bukankah engkau harus menjaganya

Bukankah engkau harus bijaksana

Tuhan mulai murka

Didunia nyata

Bumi menjadi panas

Kutub meleleh

Air laut naik dengan perlahan

langit bergemuruh

Hujan turun dengan derasnya

Ombak dilaut meninggi

tanah berguncang hebat

Gunung menumpahkan isinya

Lalu……Hening……Sunyi

Dan seluruh manusia ‘terdiam’

Hutan Terakhir

wwwwwforid.jpg

Hutan Terakhir
Oleh : DG.LIMPO

aku
adalah
hutan
terakhirmu
hutan lainnya
telah kau musnahkan
untuk memenuhi tuan target produksimu diujung sana
untuk mengejar tuan target profitmu diujung sini
yang tak pernah merasakan puas dan kenyang
karena nyawanya adalah kapitalisme
perutnya adalah materialisme
lidahnya adalah konveyor
tangannya becho loader
kakinya truk balak
memuatku
tiap hari
memuatku
tiap jam
memuatku
tiap menit
memuatku
tiap detik
mengolahku
jadi kertas
mengolahku
jadi tissue
mengolahku
jadi multipleks
mengolahku
jadi rumah
mengolahku
jadi kursi meja lemari ranjang
lalu siapa
menanamku ??????
aku musnah dan isiku musnah
monyetku musnah, harimauku musnah, gajahku musnah, burung-burungku musnah
biar kita hitung berapa harga monyet berapa harga harimau, gajah dan burung-burungmu
hah ….bagaimana membayar suatu kehidupan yang telah engkau rusak dan musnahkan
semua tak peduli karena aku hanyalah hutan
investasi lebih penting daripada aku karena aku hanyalah hutan
perkebunan lebih penting daripada aku karena aku hanyalah hutan
menyamakan persepsi dulu tentang kerusakakanku ? lelucon apa ini
menyelamatkan aku lebih dulu tidak penting ? karena aku hanyalah hutan
apakah habis dan luluh lantaknya kami belum bisa menyamakan persepsi itu
Selang beberapa tahun kemudian…….
tuan target produksi dan target profit datang menemuiku bersama kaki dan tangannya
mengambilku……………..oh………..inikah persepsi tuan………………

gambar dari : http://www.wwf.or.id

DONGENG KITA dan ALAM

Kutemukan “kataku” diantara kepakan SAYAP

Dongeng Kita dan Alam
Oleh : DG. LIMPO

seorang laki-laki setengah baya
yang wajahnya teduh penuh kasih
berbicara kepada angin
berbicara kepada laut
berbicara kepada gunung-gunung
berbicara kepada hutan-hutan
berbicara kepada binatang dan satwa
berbicara kepada sungai sungai
berbicara kepada hujan
berbicara dengan hatinya

seorang laki-laki lainnya
yang wajahnya penuh gurat nafsu
diam kepada angin
diam kepada laut
diam kepada gunung-gunung
diam kepada hutan-hutan
diam kepada binatang dan satwa
diam kepada sungai sungai
diam kepada hujan
diam dengan hatinya

seorang laki-laki setangah baya lainnya
melihat kehidupan mereka berdua
laki-laki setengah baya
yang berbicara dengan sekelilingnya
hidup dipuncak bukit
dibawahnya mengalir sungai-sungai
mengambil buah-buahan yang segar dan ranum
ditemani harimau dan satwa liar bercanda
dibelai angin yang bertiup semilir
disiram hujan yang menyegarkan alam
dia menikmati surga duniawi
dia yang merawat alam sekitarnya
maka alampun merawatnya

laki-laki setengah baya
yang diam tehadap sekelilingnya
hidup dipuncak bukit yang tandus
semua pohon telah ia tebang
semua satwa telah ia bunuh
angin berhembus menderu
merusak apa yang dilaluinya
hujan lebat turun menghempaskan
kemarahannya
tanah dan bebatuan tak sanggup
menahan kemarahan sang hujan
maka air mencapai puncak bukit
dan sang laki-laki itu
laki-laki yang diam terhadap alam
laki-laki yang diam terhadap hatinya
mati tenggelam karena
tak mendengar suara alam
tak mendengar suara hati

Oh Tuhan …seandainya ia tahu bahwa
hatinya dan alam dapat saling berbicara

(Pekanbaru)