RENUNGAN

Lelaki itu tiba-tiba ingin membaca buku diary almarhumah istrinya yang tercinta. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama 35 tahun masa pernikahan mereka. Tak ada halaman yang luput dari pandangannya, dan di halaman-halaman akhir, ia mendapati sebuah kalimat penyesalan dari istrinya. Sebenarnya istrinya tak sepenuhnya mencintainya, ia hanya menuruti keinginan orang tuanya yang menjodohkan mereka. Istrinya sebenarnya adalah seorang lesbian.

Iklan

CERITA SINGKAT : MEMETIK BUNGA MEKAR

Bagi Wawan, kehilangan istrinya pada usia senja  adalah sesuatu yang sangat menyedihkan.   Dalam hati kecilnya, ia sebenarnya sedang memikirkan nasib anak-anaknya yang masih balita.   Wawan telah menikah tiga kali, istri pertamanya meninggal akibat terkena penyakit, sedangkan istri keduanya cerai hidup dan memiliki seorang anak.  Dari istri ketiganya ia memiliki sepasang anak balita.  Istri ketiganya meninggal dunia akibat komplikasi lever dan gula.

Melewati masa berkabung empat puluh hari, muncul kabar bahwa keluarga almarhumah istri ketiganya berembuk untuk menikahkan Wawan dengan keponakan istrinya (istilah keluarga mereka “gulung tikar”), aku tidak habis pikir bagaimana keluarga almarhum istrinya bisa berembug untuk menikahkan Wawan dengan keponakan istrinya yang baru berumur 20 tahun…?.   Wawan menceritakan hal ini kepadaku, dengan mata yang berbinar-binar dan wajah yang ceria.  Ketika kutanyakan apa dasarnya mereka menjodohkan….? Wawan menjelaskan bahwa keponakan istrinya itu sudah dekat dengan anak-anaknya.   Wow……alasan yang masuk akal bagiku, tetapi bagaimana dengan sang ponakan sendiri….? maukah ia menikah dengan seorang laki-laki yang sudah berusia 40 tahun….?.

Waktu terus berlalu, pernikahan telah dilangsungkan.  Wawan terlihat lebih segar sejak menikah dengan gadis belia.   Setelah tiga tahun menjalani pernikahan, aku dengar kabar bahwa Wawan meninggal dunia karena mengalami kecelakaan  dalam perjalanan pulang ke Pekanbaru.  Empat puluh hari setelah lepas berkabung, janda Wawan menikah dengan pacarnya sewaktu di SMA.

Hidup itu memang indah, aneh dan kadang menggelikan.

(Cerita ini bukanlah kisah nyata, tokoh-tokohnya fiksi belaka)

pencarian cinta

Perempuan di dekatku menggerutu dan mengutuki kata-kata cinta, ia merasa jenuh dengan kata-kata itu.  Sepertinya hatinya begitu jauh, dan ia sendiri tak dapat menggapai-gapai lagi, ia hanya melontarkan sumpah serapah, seakan-akan cinta itu sebuah kotoran yang menjijikkan.   Aku memperhatikan wajahnya, ia manis , ada lesung pipinya, bulu matanya lentik dan bentuk tubuhnya ideal menurutku.  Mengapa perempuan semenarik ini begitu mengutuki cinta……? aku pergi dan mencoba mencari jawabnya diantara hembusan angin yang membelaiku, juga diantara malam-malam yang tak lagi berbintang.  Juga diantara doa-doa malamku yang tak lagi khusyu.

Kisah Pagi

Seorang loper koran, berdiri pada sebuah pembatas jalan di traffic light simpang jalan Sudirman dan jalan Nangka, ia mengejar kendaraan untuk menawarkan koran pada seseorang di dalam sebuah mobil pribadi.   Pembeli di dalam mobil itu memberi uang 10 ribu, namun karena tidak memiliki uang kembalian, si loper koran menukar recehan pada kawannya.    Begitu ia kembali, si pembeli dengan congkaknya melemparkan koran itu kearah si loper koran sambil berkata ” aku gak jadi beli, lama kali kau cari duit kembaliannya”,  dan si loper mengembalikan uang si pembeli.  Sebuah pemandangan yang menyakitkan hati di pagi hari.

Matahari Merah Oranye

Dani kembali ke pantai, bukan sekedar melepas pandangan tetapi ia rindu bergumul dengan ombaknya. Cukup lama ia tak melihat pantai, ia tahu bahwa pantai ini mungkin tidaklah seindah pantai kuta di Bali atau pantai Losari di Makassar. Ia merasa tak seberuntung teman-temannya yang mempunyai penghasilan yang besar dan bisa memilih berlibur ke tempat-tempat yang menyenangkan, ia hanyalah seorang penulis cerita.

Ketika terasa lelah, Dani duduk di tepi pantai melihat anak-anak saling berkejaran diantara gulungan ombak. Tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang gadis yang terlihat menyendiri, tanpa sadar tatapan mereka bertemu…sejenak namun penuh makna. Si gadis kemudian berdiri dan pergi, Dani hanya bisa memandangi punggungnya yang menjauh. Dia hanya bisa berharap dan berdoa, semoga dapat bertemu lagi disini, ketika matahari mulai menyelam kedasar laut dan warnanya merah orange.

LORONG (1)

Seorang wanita tua tertatih-tatih mencari sesuap nasi dari sebuah tong sampah dipinggir jalan, hidup memang begitu keras dan kejam. Bahkan tak memberi sedikitpun peluang untuk sekedar menikmati sisa hidupnya. Wanita tua itu hidup sebatang kara, suaminya telah meninggal. Anak-anaknya telah pergi meninggalkannya, entah kemana. Ia berpikir tentang apa yang telah diperbuatnya dimasa lalu sehingga harus menerima penderitaan ini. Sementara aku hanya bisa memandanginya, sembari menawarkan celana bekasku kepada seorang tukang loak……….!!!!. Hidup memang menyediakan sedikit pilihan bagi kami.

Selamat berpuasalah !

Saya tak menyangka jika kemudian anak perempuan saya yang berumur 4 tahun 5 bulan, dimarahi oleh  seseorang karena sedang makan didepan anak laki-lakinya yang berumur 5 tahun 6 bulan (padahal anak saya ini makan camilannya disudut rumah—tersembunyi, kemudian didatangi oleh anak orang tersebut). Sebagai sesama orang dewasa yang sedang berpuasa saya berusaha bersikap tenang dengan menarik anak saya.
Saya hanya bertanya-tanya, apakah orang tua ini sadar, bahwa justru orang berpuasalah yang seharusnya menahan diri ?. Lagi pula anak saya belum tahu apa sebenarnya makna puasa. Saya tidak mau anak saya kelak menganggap puasa itu sekedar menahan haus dan lapar. Biar anak saya paham dulu apa itu puasa,  bahwa puasa pada dasarnya menahan diri dari amarah dan sifat-sifat yang merusak lainnya, bukan sekedar pindah jadwal makan.