Kemboja di bawah atap senja

Setangkai bunga mawar yang diberikan Roni, seakan tak cukup untuk mengobati rasa rindu Adelia.  Ia merasa telah menemukan sang pangeran impiannya, seorang pemuda tampan dan memiliki masa depan yang cerah.   Hari ini ia menghabiskan waktu bersama Roni jalan-jalan ke Mal SKA, menikmati makan siang bersama di Solaria.   Setelah makan siang mereka kembali bekerja di kantor masing-masing.  Dan sore tadi Adelia menerima kiriman bunga mawar yang diletakkan di depan pintu kostnya.

Perkenalan pertama mereka bermula dari Roni yang sering berkunjung ke kantor Adelia untuk suatu urusan bisnis.   Roni yang telah mengetahui nomor handphone Adelia sering mengirim sms, entah menanyakan kabar ataukah sekedar bertanya tentang sudah makan siang atau belum.

Sementara Roni adalah sang penebar pesona yang mematikan.  Ia ibarat kumbang yang siap menghisap sarimadu bunga-bunga yang sedang mekar.  Ia tak pernah puas menghisap sarimadu satu bunga saja, ia sadar akan pesonanya.  Dan ia pandai memasang jerat-jerat yang bisa membuat wanita lupa bahwa ia telah terhisap kedalam pesonanya.

Adelia seorang wanita yang polos, menganggap Roni bersungguh-sungguh mencintainya.  Ia adalah gambaran wanita yang polos dan dengan kepolosannya itulah yang membuat Roni tergila-gila.   Bulan-demi bulan mereka menjalani kisah kasih yang menggelorakan, selama itu pula Adelia sanggup bertahan dari godaan rayuan maut si Roni.  setahap demi setahap, keteguhan Adelia membuat Roni sadar, bahwa tak semua wanita bisa ia taklukkan.   Dan ketika jerat cinta Roni tak sanggup menaklukkan Adelia, bahkan Roni terjerat oleh jeratnya sendiri.  Ia tak bisa melupakan Adelia, ia benar-benar jatuh cinta, benar-benar kepayang, benar-benar terasa mati jika tak bersua sehari saja.

Dan cinta mereka seakan menghadapi kiamat, ketika Adelia menyampaikan bahwa ia mengidap kanker dan dokter memperkirakan usia Adelia hanya tinggal satu bulan saja.  Roni begitu panik, dunia seperti mau runtuh, ia tak konsentrasi bekerja.  Antara kecintaan dan perasaan iba bercampur baur menjadi satu, Roni akhirnya menemani hari-hari terakhir Adelia, hari-hari yang selalu mengisi memori Roni.

Dan hari ini, setahun sejak Adelia meninggalkan dunia fana, Roni bersimpuh di pusaranya, diantara daun-daun kemboja yang berguguran dan atap senja yang semburat merah, dengan suara lirih Roni mengakhiri doanya yang terakhir, “semoga kita dapat bersatu di sana Adelia”……..…Amiiin.

Iklan

Cinta Pertamaku

Setangkai bunga mawar merah kusematkan dirambut hitammu, ada secercah senyum mengembang dari bibirmu yang tipis dan mungil. Diruang perawatan ini aku menemanimu yang sedang sakit, aku masih mengingat masa-masa dimana kita bersama dulu. Beginikah rasanya cinta itu ? aku seperti menjadi bagian dari dirimu, aku selalu ingin berada didekatmu. Bahkan ketika kita berpisahpun selalu saja ada bayangmu yang dibenakku. Suatu ketika kita berdua berjalan saling berpegangan tangan, perasaanku seperti melayang-layang.

Saat engkau terbaring sakit akibat types di ruang perawatan ini, aku merasa ada bagian dari dirimu yang hilang yaitu keceriaan. Maka kupetiklah mawar yang kebetulan tumbuh di taman Rumah Sakit ini. Aku sebenarnya ingin mengatakan cinta kepadamu, tetapi lidahku kelu untuk mengatakannya. Biarlah hati kita saja yang berbicara, karena akupun tahu dari tatapan matamu kepadaku saat kita berdua, ada rindu dipelupuk matamu, sikap kolokanmu membuatku seperti seorang laki-laki yang benar-benar dewasa dan matang.

Aku berdoa semoga engkau dapat segera sembuh dan pulih seperti sedia kala, tak sanggup aku melihatmu terkulai lemas dengan infus yang menghujam ke urat nadi. Seminggu telah berlalu sejak itu, dan kini engkau telah dapat kembali pulang ke rumah. Saat kujumpai di taman kampus kita, kutemukan kembali keceriaanmu. Mengapa rasa ini sekarang begitu mengganggu, sepertinya ingin kucurahkan semua isi hatiku kepadamu. Lalu kuajak untuk sekedar bersenda gurau dengan cerita-cerita konyol yang aku tahu. Aku hanya ingin mendengar tawamu yang renyah, aku merasa tawamu itu adalah obat bagiku, ia adalah pelipur lara dari tugas-tugas akhir yang membuatku suntuk.

Kamu tentu ingat pertemuan kita dahulu ?, saat itu aku diperpustakaan mencari literatur untuk tugas akhirku dan aku melihat wajahmu dari balik rak buku, ada desiran yang kuat seperti tarikan magnet begitu melihatmu, kata orang-orang ada semacam chemistry diantara engkau dan aku. Anehnya dirimupun tersenyum manis padaku, padahal aku dan engkau belum pernah bertemu sebelumnya. Tetapi entahnya mungkin pernah juga terlintas dalam mimpi-mimpiku ?. Saat itu kutegur, “sedang nyari apa dik?” dan kau jawab “sedang nyari kawan”, “lha bukannya nyari buku” jawabku sekenanya. Rupanya kawan yang dicarinya itu adalah kawan seasramaku (juniorku), maka resmilah kami berkenalan. Ketika aku mencari informasi dari juniorku, rupanya cewek ini baru putus dari pacarnya. Maka dengan semangat yang membara aku mencoba menelponnya, sekedar mengakrabkan diri,  selanjutnya memberanikan berkunjung ke tempat kostnya. Minggu pertama hingga ke delapan kami berusaha mencari kecocokan, rasanya cukup lama juga ceritanya nyambung. Setelah sekitar dua puluh delapan minggu aku baru bisa mengajaknya keluar, dua tahun setelah itu aku diajak ke rumah orang tuanya di Bandung dan diperkenalkan sebagai pacarnya (waktu mengatakan kepada kedua orang tuanya dia tersenyum penuh arti kepadaku). Tetapi inilah yang aneh, aku dan dia sebenarnya belum pernah sekalipun menyatakan cinta. Kami menjalaninya seperti dua orang sahabat saja, aku kebetulan lebih tua empat tahun darinya. Oh Tuhan ……….inikah jodohku…..cinta pertamaku….?

 

TERPANGGIL

Ketika maghrib menjelang lamat-lamat kudengar suara azan, ada kerinduan yang terasa dalam hatiku setelah hampir dua belas tahun tak pernah melangkahkan kaki memenuhi panggilan-Mu, lalu kudatangi arah suara itu, sebuah surau tua dikaki gunung Bromo.

Aku ingat masa kecilku dulu setiap subuh dan maghrib sering melantunkan azan di mesjid kampung mengingatkan dan memanggil orang-orang muslim disekitar mesjid untuk melakukan shalat, seperti yang kudengar saat ini. Namun waktu merubah hidupku dan semua itu berubah semenjak aku bekerja dan merantau, karena pengaruh pergaulan dan tekanan hidup yang kualami, setiap malam yang kulakukan adalah variasi dari dosa-dosa ini mabok, main judi, berzina dengan pelacur, berkelahi. Aku telah melakukan semua yang dilarang oleh agama yang aku anut. Sampai-sampai sudah lima tahun terakhir ini aku tiada berkirim kabar kepada kedua orang tua di kampung, apalagi berkirim uang untuk mereka.

Dalam perjalananku ke Bromo, mengapa tiba-tiba panggilan azan itu seakan-akan menyuruhku berhenti, akhirnya ku arahkan mobil menuju ke sumber suara, sebuah surau tua. Setelah kuparkir kendaraanku di pelataran surau, aku mulai menuju ke pancuran air. Suara air yang tumpah dari pancuran yang terbuat batang bambu meneduhkan jiwa dan emosiku. Ketika berwudhu terasa aliran air yang sejuk membasahi anggota tubuhku yang terbasuh, kuresapi setiap basuhannya, dan setiap aku membasuh maka jantungku seakan berdegup memanggil nama-Mu …Allah….Allah….Allah. Diriku seakan dituntun berdoa didalam hati memohon ampun atas dosa-dosa yang telah aku lakukan. Tangan, wajah, hidung, mulut, telinga dan kakiku seperti memohon ampunan kepada-Mu. Lepas wudhu aku masuk kedalam surau itu ada sekitar delapan orang didalamnya yang shalat berjamaah termasuk diriku. Ketika sang Imam mengumandangkan Takbiratul Ihram, hatiku menangis ada sedikit airmata menggantung dipelupuk mata. Begitu teduh rasanya ketika Imam Ruku maka badan dan hatiku ikut ruku, ikut sujud, dan berdoa kepada-Mu. Ya Allah begitu jauh perjalanan yang kutempuh hingga berkelok-kelok namun akhirnya kupenuhi juga panggilan-Mu. Usai melaksanakan shalat aku teringat kedua orang tuaku, segera kuhubungi mereka untuk meminta maaf, semoga saja belum terlambat….

Matinya Seorang Mantan PNS

Matinya Seorang Mantan PNS
Oleh : DG. LIMPO

Pesawat yang kutumpangi tiba di Pekanbaru, saat itu cuaca mendung. Aku ingat ketika itu bulan Desember, biasanya setiap bulan yang berakhiran ‘ber’, menandakan musim hujan telah datang di “KOTA BERTUAH” julukan kota Pekanbaru, kadang ada yang memplesetkannya menjadi “KOTA BERKUAH” bila terjadi banjir.
Seorang sahabat telah menjemputku di Bandara Sultan Syarif Qasim. Ia bernama Saipul (nama samaran), semasa masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Bogor kami satu tempat kost. Lima tahun yang lalu Saipul adalah seorang PNS disebuah Instansi Pemerintah. Saat itu sewaktu kami bertemu, aku bekerja disebuah perusahaan kontraktor di Jakarta dan kebetulan mendapatkan proyek di Riau. Sementara Saipul sebagai pimpro dan memegang salah satu proyek pengadaan di instansinya, aku menilai karirnya cukup bagus mengingat dia belum begitu lama diangkat sebagai PNS.

Aku ingat bagaimana Saipul berusaha mengelak dari para kontraktor yang berusaha mengetahui nomor hp-nya dan berusaha menyogoknya untuk mendapatkan proyek. Bahkan terhadapku, Saipul tak ingin lebih jauh membahas masalah proyek-proyek yang sedang ditanganinya. Waktu itu Saipul telah menikah dan memiliki seorang anak, saat aku bertamu ke rumahnya, aku mendapatinya sedang bertengkar hebat dengan istrinya mengenai pembayaran cicilan rumah mereka, samar-samar kudengar terlontar ucapan istrinya yang merasa tidak puas dengan penghasilan yang diperoleh suaminya. Saipul pernah bercerita kepadaku, dengan gaji PNS yang diterimanya setiap bulan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, jadi setiap bulan dia harus gali lubang tutup lubang, tetapi ia mengatakan kepadaku bahwa dengan kesulitannya itu, dia tidak akan memanfaatkan posisinya untuk mengeruk keuntungan pribadi. Dia teguh memegang prinsip bahwa manusia akan dianggap manusia bila dia masih mempunyai harga diri, dia tidak ingin menjual harga dirinya. Saipul begitu kokoh memegang prinsip bahwa ‘menjual amanah’ demi segepok uang lebih hina dari seorang pelacur.

Kalau saja Saipul mau menerima sogokan saat menjabat pimpro pada waktu itu, sebuah rumah mewah sudah dapat dimilikinya, bisa jadi sebuah atau dua buah mobil sudah dapat dibelinya, tidak harus mencicil rumah BTN dan mengendarai sepeda motor butut seperti sekarang. Tetapi itulah Saipul dia lebih senang menghadapi omelan istrinya, cibiran keluarganya dan beberapa bawahannya karena mereka menganggapnya ‘bodoh’ tidak mau memanfaatkan kesempatan.

Kini Saipul yang menjemputku di Bandara telah berhenti dari pekerjaannya sebagai PNS, dia terlihat memelihara jenggot dan lebih kurus dari saat aku bertemu dengannya lima tahun lalu. Menurutnya, dia mengundurkan diri sebagai PNS setahun yang lalu, karena tidak tahan dengan lingkungan pekerjaan yang menurutnya akan mempengaruhinya kelak. Aku menanyakan kepadanya, sekarang bekerja dimana ?, dijawabnya bahwa saat ini dia sedang menekuni bisnis catering. Sambil menaiki taksi bandara, kutanyakan tentang keadaan keluarganya, didalam taksi aku melihat matanya berkaca-kaca menahan kesedihan. Akhirnya aku tak melanjutkan pertanyaanku tersebut, yang jelas aku bahagia melihatnya bisa memulai hidupnya lagi walaupun tanpa istri dan anaknya.

Kurang lebih setahun semenjak pertemuan kami di Pekanbaru, aku menerima kabar lewat telepon dari mantan istrinya bahwa Saipul mengalami kecelakaan dan meninggal, ketika sedang membawa catering ke pelanggannya. Didalam pesawat menuju ke Pekanbaru, aku menarik nafas panjang, ” Tuhan, mengapa semua orang-orang yang aku anggap baik selalu lebih cepat berpulang ke sisi-Mu?”

hari esok si kecil penambal ban

Anakku, hari ini ayah memandangimu sedang tertidur pulas. Jarimu yang kecil , matamu terpejam ….entah apa yang sedang engkau impikan. Ayah membayangkan dirimu, kelak akan menjadi apa?, saat ini umur ayah semakin bertambah, dan waktu hanya memberi sedikit ruang bagi ayah untuk mengamati perkembanganmu. Duniamu sepuluh tahun yang akan datang tentu jauh berbeda dengan dunia yang ayah hadapi saat ini. Ayah merasa, sekarang saja hidup susah dan rumit, bagaimana sepuluh tahun kemudian ?. Anakku, ayah membesarkanmu dari pekerjaan sebagai seorang penambal ban , kadang engkau ikut membantu ayah di bengkel sekedar untuk mengambil peralatan yang ayah butuhkan.

 

Ayah tidak berharap engkau menjadi penambal ban, ayah ingin engkau kelak menjadi seorang yang lebih baik dari ayah saat ini. Anakku, tahun depan engkau sudah dapat masuk ke sekolah dasar. . Ayah akan berusaha untuk dapat menyekolahkanmu hingga menjadi seorang dokter atau seorang pengacara atau seorang arsitek, walau ayah tahu biaya sekolah begitu mahal . Kadang ayah bertanya-tanya, di jaman ini dapatkah seorang anak belajar tanpa harus melalui sekolah resmi, bila memang kemudian biaya tidak mencukupi biarlah ayah yang akan mengajarimu membaca, berhitung dan menulis. Masih banyak pekerjaan lain yang menurut ayah tidak perlu duduk di bangku sekolah. Engkau bisa jadi pengarang, penulis, atau seorang pemain musik hebat.

 

Anakku, saat ini pekerjaan sebagai penambal ban semakin sulit. Disetiap pinggir dan sudut jalan dikota ini hampir ada penambal ban, dalam sehari kadang penghasilan ayah tidak cukup untuk membiayai hidup kita. ayah juga harus menjagamu dari lingkungan kita yang kumuh, dimana kejahatan dan penyakit mengintai kita setiap saat.

 

Anakku, tidak ada sedikitpun penyesalan dihati ayah menjalani hidup seperti ini. Ini bukanlah pekerjaan yang memalukan. Walaupun terkadang ayah berharap ada kendaraan yang mampir kebengkel ayah, tetapi ayah tidak pernah mendoakan supaya kendaraan orang kempes atau kena paku. Yang Maha Kuasa memberi peran ini kepada ayah untuk dapat melakoninya di dunia ini. Setiap hari ayah menambal ban sepeda motor dan mobil, yang seumur hidup ayah, tak mungkin dapat memilikinya dari penghasilan sebagai penambal ban.

 

Anakku, ayah sebenarnya ingin pulang ke kampung. Kehidupan disana lebih cocok untuk kita, di kota ini kehidupan begitu keras. Hanya apa yang dapat ayah lakukan dikampung, sepetak tanah kita telah terjual untuk biaya pengobatan ibumu yang meninggal setelah terserang penyakit tipes.

 

Perlahan kuambil selimut untuk menutupi tubuh anakku agar tidak digigit nyamuk. Hawa gerah malam ini , pertanda akan turun hujan. Perlahan kulipat kertas , kuletakkan pena lalu kurebahkan diriku dan berharap masih ada hari esok buat kami berdua.