Garuda Tua

Burung garuda tak lagi menguasai angkasa

Dia sakit-sakitan dan sudah tua

Hanya bisa terkulai lemah pada dahan yang rebah

Sayapnya tak sekokoh dahulu lagi

(DG.LIMPO, Pekanbaru)

Iklan

Kemboja di bawah atap senja

Setangkai bunga mawar yang diberikan Roni, seakan tak cukup untuk mengobati rasa rindu Adelia.  Ia merasa telah menemukan sang pangeran impiannya, seorang pemuda tampan dan memiliki masa depan yang cerah.   Hari ini ia menghabiskan waktu bersama Roni jalan-jalan ke Mal SKA, menikmati makan siang bersama di Solaria.   Setelah makan siang mereka kembali bekerja di kantor masing-masing.  Dan sore tadi Adelia menerima kiriman bunga mawar yang diletakkan di depan pintu kostnya.

Perkenalan pertama mereka bermula dari Roni yang sering berkunjung ke kantor Adelia untuk suatu urusan bisnis.   Roni yang telah mengetahui nomor handphone Adelia sering mengirim sms, entah menanyakan kabar ataukah sekedar bertanya tentang sudah makan siang atau belum.

Sementara Roni adalah sang penebar pesona yang mematikan.  Ia ibarat kumbang yang siap menghisap sarimadu bunga-bunga yang sedang mekar.  Ia tak pernah puas menghisap sarimadu satu bunga saja, ia sadar akan pesonanya.  Dan ia pandai memasang jerat-jerat yang bisa membuat wanita lupa bahwa ia telah terhisap kedalam pesonanya.

Adelia seorang wanita yang polos, menganggap Roni bersungguh-sungguh mencintainya.  Ia adalah gambaran wanita yang polos dan dengan kepolosannya itulah yang membuat Roni tergila-gila.   Bulan-demi bulan mereka menjalani kisah kasih yang menggelorakan, selama itu pula Adelia sanggup bertahan dari godaan rayuan maut si Roni.  setahap demi setahap, keteguhan Adelia membuat Roni sadar, bahwa tak semua wanita bisa ia taklukkan.   Dan ketika jerat cinta Roni tak sanggup menaklukkan Adelia, bahkan Roni terjerat oleh jeratnya sendiri.  Ia tak bisa melupakan Adelia, ia benar-benar jatuh cinta, benar-benar kepayang, benar-benar terasa mati jika tak bersua sehari saja.

Dan cinta mereka seakan menghadapi kiamat, ketika Adelia menyampaikan bahwa ia mengidap kanker dan dokter memperkirakan usia Adelia hanya tinggal satu bulan saja.  Roni begitu panik, dunia seperti mau runtuh, ia tak konsentrasi bekerja.  Antara kecintaan dan perasaan iba bercampur baur menjadi satu, Roni akhirnya menemani hari-hari terakhir Adelia, hari-hari yang selalu mengisi memori Roni.

Dan hari ini, setahun sejak Adelia meninggalkan dunia fana, Roni bersimpuh di pusaranya, diantara daun-daun kemboja yang berguguran dan atap senja yang semburat merah, dengan suara lirih Roni mengakhiri doanya yang terakhir, “semoga kita dapat bersatu di sana Adelia”……..…Amiiin.

GORESANKU

Kugoreskan tinta pada secarik kertas, untuk mengukir bait-bait kerinduanku pada kekasih yang selalu membayang dalam ingatan. Mungkin ini kekasih pertamaku, mungkin juga kekasih terakhirku. Tetapi perjumpaan akan cinta pertama selalu menimbulkan kesan yang dalam, juga rindu dendam yang membara, juga kecemburuan yang membakar.

Mengukir jalan-jalan menuju perjumpaan denganmu yang berliku. Aku harus terlahir dahulu ke dunia dari tempat yang berjauhan denganmu, dan ombak serta angin selalu membawa kabar-kabar melalui mimpi-mimpi bawah sadarku bahwa aku akan pergi jauh melewati laut dan samudra untuk menjumpaimu. Ketika aku melihat kepada ragaku, aku bersyukur terlahir dengan raga yang sempurna, hanya saja sukma kesepianku selalu mencari-cari taman keramaianmu. Ia mencari dan mencari, kadang ia tersesat seolah telah menemukanmu, tetapi ia terus mencari. Ia tak pernah menepi sehingga ragaku menyerah oleh waktu.

Goresanku terhenti oleh keletihanku, aku mungkin lupa bahwa ragaku tak sanggup lagi mengikuti kehendak sukmaku yang masih bergairah bercerita tentang kemudaan, mungkin ia bukanlah sukma yang bijak tetapi bagiku ia menyenangkan saja.

(byDG.LIMPO/Pekanbaru/Juli10)

TErKapaR

by : DG.LIEM
___________

Seorang pemuda terkapar dalam kerinduan
Bulan menyinari hasratnya yang menyala-nyala
Angin malam menyuruhnya pergi berjumpa

Ia menyusuri lekuk malam
Hingga mencapai puncak rembulan
Namun ia tetap terkapar dalam kerinduan

Ia melukiskan wajah kekasihnya
Pada kanvas imajinasinya
Dan ia tetap terkapar dalam kerinduan

Ia lelaki yang lemah
Membiarkan waktu melumatnya
Hingga benar-benar terkapar
………terbunuh oleh kerinduannya sendiri

DeRita Hampa

Ada yang tak percaya lagi pada Cinta
katanya ciNta hanya fatamorgana
bErtalu-talu cInta menghempasnya
beRibu-ribu Janji asmara digenggamannya
namUn tak Satupun terwujud

Ia Tak percaya Lelaki
Tlah Banyak Luka yang ditorehkan lelaki
ia terLahir tanpa lelaKi disisi Ibunya
Ia tercampak Ke kuBangan dosa
Karena Lelaki
Ia…lemah…jiwanya sakit
Letih….dan hanya ingin bertemu
AyahNya
dAn BertanYa…
Mengapa AyahNYa Pergi…
kIni Ia Sendiri
Menyepi..
dan sebentar lagi…
Mati….

(by;DG.LIMPO)

LukIsan BingkaI Bulan

seOrang tua…
menatap bingkai bulan dalam lukisan
jIwanya terpaku dan kaku
Mengapa bIntang tiada dalam lukisan..?
pAdahal ia ingat betul
BinTang mengerling manja padanya
wAktU iTu

Lupakah waktu melukiskannya..?
Segala romansanya melayang
memasuki lukisan bingkai bUlan
terIngat rambut panjang tergerai
diHembus sang bayu malam
hingga asMara datang merasuk
Menggosok bIrahi keindahan
tIada tertahan
Tumpahkan segala kerinduan
Pada kanVas sang maestro
Menghapus bintang-bintang
Yang terlukis disana
KeTika romansanya kembali pulang
Setetes embun jatuh dari airmatanya
Hingga waktu datang membawanya
MenGhapus LuKisan Bingkai bUlan..

(Daeng Limpo 2009, Pencarian Panjang kehiDupan)

TERTUSUK DURI

Setangkai mawar yang mekar kugenggam,  harumnya menyebar , kuberikan padamu ketika kita duduk berdua pada sebuah taman bunga.   Ketika kau tertunduk malu, kuangkat dagumu lalu kutatap matamu dalam-dalam, ingin rasanya kuselami isi jiwamu, agar tak lagi kureka-reka, apakah dirimu mencintaiku.

“Wien, lihatlah sepasang burung gereja yang bertengger diatas dahan sebuah dahan ketapang”, ucapku mengarahkan perhatiannya.   Ia menyandarkan kepalanya dibahuku, semerbak harum rambutnya membuatku sejenak moksa.  Kubelai rambutnya yang sebahu, ingin kubiarkan ia tertidur pulas, agar dapat melupakan masa lalu.

Winarti memang memiliki masa lalu, sesuatu yang ingin dilupakannya.  Tetapi kadang memorinya kembali ke masa itu, dan aku hanya bisa berharap jiwanya sembuh dari luka-luka cinta yang telah merobek-robek hatinya.   Lelaki pujaannya berpaling cinta pada wanita lain.  Aku selalu berusaha menghiburnya, karena aku tahu jiwanya sedang rapuh.    Ketika senja berlabuh, kuajak dia pulang.  Ia memegang tanganku erat, seakan tak ingin dilepaskannya.   “Aku akan sabar menunggu jawabanmu”, kataku dalam hati.

Keesokan harinya selepas jam kantor, Winarti meneleponku ingin bertemu.   Aku setuju, akhirnya kami bertemu di sebuah kafe tak jauh dari kantornya.   Setelah kami memesan makanan, ia menatap mataku dan senyum merekah di bibirnya.  Aku merasa bahagia, melihat keceriaannya.   Hari itu menjadi sesuatu yang spesial bagi kami berdua,  ia menyatakan bahwa ia menyukaiku  dan akupun menyatakan hal yang sama.  Aku akhirnya merasakan bahwa kebahagiaan yang dirasakannya, juga adalah kebahagiaanku.   Namun sebuah sms darinya menggugah kesadaranku, “DENI,  HARI INI AKU PULANG KE MAKASSAR.   AKU DIJODOHKAN OLEH KEDUA ORANGTUAKU, DAN AKU MENERIMA PERJODOHAN ITU”.   Isi SMS Winarti itu seperti belati yang mengiris-iris perasaanku, lama aku berpikir mengapa pada perjumpaan sebelumnya ia tak menceritakan ihwal perjodohannya itu..?.  Mengapa ketika benih-benih cinta mekar dihatiku, Winarti justru pergi.   Ternyata aku salah menilai, bahkan ketika aku merasa aku telah memahaminya.