MIMPI adalah Isyarat ?

Siapakah manusia yang tak pernah bermimpi ?, kata nenek saya mimpi adalah kembangnya orang tidur. Tetapi bagi sebagian orang mimpi adalah petunjuk yang membawa mereka kepada tujuan yang diinginkannya. Saya bukanlah seorang panafsir mimpi seperti Nabi Yusuf AS, juga bukan peramal seperti mama laurent. Dalam wikipedia disebutkan bahwa :

Kejadian dalam mimpi biasanya mustahil terjadi dalam dunia nyata, dan di luar kuasa pemimpi. Perkecualiannya adalah dalam mimpi yang disebut lucid dreaming. Dalam mimpi demikian, pemimpi menyadari bahwa dia sedang bermimpi saat mimpi tersebut masih berlangsung, dan terkadang mampu mengubah lingkungan dalam mimpinya serta mengendalikan beberapa aspek dalam mimpi tersebut.

Terkadang saya bertanya-tanya, bukankah pada saat tidur badan kita “mati” lalu ketika terbangun mengapa kita dapat menceritakan mimpi kita itu ?, lalu siapakah yang “sadar” tersebut ?. Banyak penguasa jaman dahulu (jaman sekarang ada nggak?) yang terdapat dalam kisah-kisah baik itu namrudz maupun fir’aun dan juga kisah-kisah orang-orang soleh yang akhirnya mempercayai mimpi mereka. Namrudz dan Fir’aun bermimpi tentang akan lahirnya anak laki-laki yang akan merebut kekuasaan mereka, sehingga kedua diktator tersebut membunuh semua anak laki-laki yang baru lahir. Bukan hanya “orang sesat” seperti Fir’aun dan Namrudz yang percaya pada mimpi, beberapa “orang-orang suci” juga mendapatkan wahyu atau wangsit melalui mimpi. Dengan keyakinan yang kuat akan arti mimpi mereka, akhirnya orang-orang tersebut melaksanakan niat mereka berdasarkan petunjuk yang didapatkan dari ta’wil mimpi tersebut.

Lalu masihkah sekarang ini manusia mempercayai mimpi ?, saya pernah berbincang-bincang dengan seorang yang saya anggap “ilmu kehidupannya” lebih baik daripada saya. Beliau mengatakan jiwa yang bersih akan melahirkan mimpi-mimpi yang indah dan mimpi itu terkadang merupakan “isyarat” bagi yang bermimpi. Saya menceritakan kepada beliau bahwa saya jarang sekali bermimpi, dia menganjurkan kepada saya untuk lebih “membersihkan hati”. Tetapi saya menganggap bahwa saya dengan Bapak itu berbeda, saya setiap hari bertemu dengan orang, pekerjaan, sehingga suasana hidup saya banyak mempengaruhi kondisi jiwa saya. Sementara Bapak tersebut pensiunan sehingga lebih bisa konsentrasi dalam “beribadah”, karena anak-anaknya sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri. Bapak itu memang terlihat tenang, sabar, saat musibah datang dia tidak menunjukkan kesedihan yang berlebihan, saat ada kebahagiaan dia juga tidak menampakkan wajah yang bergembira berlebihan. Beliau tidak mudah kaget, tidak pernah marah, tidak mudah panik, selalu santai dan tenang dalam setiap pengambilan keputusan dan banyak lagi yang saya kagumi dari beliau.

Saya rindu bermimpi, tetapi bukan mimpi kosong. Apakah anda juga demikian ?

Iklan

Pindah Agama

Saya ingat kisah teman saya sewaktu masih kuliah, waktu kami TPB ada mata kuliah agama. Karena kawan saya ini beragama Islam, tentu mengikuti ujian agama Islam. Ketika ujian sebagian besar soal tidak bisa dijawabnya (dia tidak tertarik belajar agama), akhirnya dia mengajak saya ke rumah dosen. Ketika berbicara dengan sang dosen, dia langsung terus terang bahwa dia tidak mampu menjawab sebagian besar soal yang diberikan. Ketika ditanya apakah dia belajar, kawan saya ini bilang, “maaf pak, setahu saya Tuhan itu maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi kalau saya tidak bisa menjawab soal-soal itu , Tuhan tentu maha tahu”. Kalimat itu diucapkannya sambil bercanda, akhirnya kawan saya ini ketika mau pulang mengeluarkan sedikit ancaman kepada dosen tersebut yang intinya kalau nanti ujiannya dapat nilai D atau F, maka dia akan pindah agama. Nggak usah saya lanjutkan apakah dia dapat D atau F, tetap memeluk agamanya ataukah dia pindah agama.

Kisah diatas menunjukkan bahwa sebagai umat yang beragama, benarkah kita sudah menggali lebih dalam untuk menemukan “intan” dalam agama yang kita anut. Benarkah kita telah sungguh-sungguh ingin beragama dengan mempelajari intisari dari agama yang kita anut. Atau mungkin agama bagi sebagian kita hanyalah lelucon dan menjadi bahan olok-olok, sekedar beragama untuk meningkatkan status sosial, atau hanya karena ikut-ikutan?. Karena “dangkalnya” keimanan kita, sehingga agama hanya menjadi “komoditi” yang bisa diperjual belikan.

Pernahkah anda bertanya mengapa agama yang saya anut tidak dapat mengantar saya kepada Tuhan?, merasakan jenuh dalam beragama, bahkan menganggap agama sebagai beban, sehingga mungkin anda berfikir untuk “variasi” agama. Saran saya, jika anda ingin pindah agama semoga saja bukan karena alasan seperti yang saya kisahkan diatas. Tetapi kalau memang itu alasannya, saya bisa apa? 😀

Renungan bagi “Si Sakit”

Ketika saya dianggap sebagai suspect demam berdarah, dan akhirnya mesti dirawat dirumah sakit Awal Bross Pekanbaru selama dua hari (silahkan klik AKHIRNYA AKU JADI PASIEN), saya berjumpa dengan seseorang yang sedang membezuk keluarganya disebelah saya. Bapak ini berumur sekitar 74 tahun beliau adalah Bp. DRS. H. Darwis Tanjung, ketika saya sakit beliau membezuk saya dan bercerita sekaligus memberi sedikit wejangan. Berikut ini adalah “intisari” wejangan yang beliau sampaikan kepada saya.

  1. Pekerjaan itu banyak jika dikerjakan, tak ada habis-habisnya jika difikirkan
  2. Menunda-nunda waktu menyia-nyiakan kesempatan jadi hargailah waktu
  3. Belajarlah mencintai musuhmu, karena dialah yang akan menunjukkan kesalahanmu
  4. Musuh terutama manusia adalah dirinya sendiri
  5. Rasa putus asa adalah kehancuran terbesar manusia
  6. Hutang budi adalah hutang terbesar manusia
  7. Keuletan adalah sifat manusia yang dapat dipuji
  8. Kesehatan adalah harta manusia yang utama

Yah, setidaknya saya masih bisa merenungkan hal-hal diatas selama saya dirawat di Rumah Sakit. Thanks Allah, Thanks Pak Darwis.

Ingin menangkap burung dilangit, ayam ditangan dilepaskan

Faisal tiba-tiba merasakan bahwa ia telah kehilangan semangat kerja, harapannya menjadi hancur karena merasa salah dalam mengambil keputusan. Apalagi keputusan itu menyangkut pekerjaannya, awalnya Faisal merasa kesal kepada manajemen di perusahaannya. Hal ini karena selama 10 tahun mengabdi di perusahaan tersebut, Faisal merasa tidak mendapat penghargaan yang semestinya dari Perusahaan. Manajemen perusahaannya menempatkan Kepala Cabang yang baru untuk menggantikannya, dengan alasan bahwa seluruh kepala cabang harus Sarjana. Akhirnya Faisal ditarik ke Kantor Pusat di Jakarta dengan posisi Senior Sales. Seluruh fasilitas yang pernah dimilikinya mulai dikurangi, kalau sewaktu jadi kepala cabang Faisal dibekali kendaraan roda empat sekelas Kijang Kapsul, kini dia harus berbagi dengan Senior Sales yang lain jika ingin menggunakan kendaraan kantor.  Kalau dulu rumahnya dikontrakkan oleh perusahaan, kini dia harus mengeluarkan duit dari koceknya sendiri untuk menyewa rumah tinggal.  Merasa frustasi dengan keadaan tersebut akhirnya Faisal mencoba melamar ke perusahaan lain dan diterima. Namun sayangnya Faisal kurang matang ketika hendak memutuskan apakah perusahaan barunya itu memberinya fasilitas yang sepadan dengan perusahaan sebelumnya ?.

Mulailah kekecewaan demi kekecewaan menumpuk dihati Faisal ketika mengetahui keputusan yang dia pilih jauh dari harapannya. Faisal hanya menuruti emosinya ketika memutuskan untuk pindah dan keluar dari perusahaan lamanya, pertimbangannya hanya “yang penting saya mau pindah dari sini”. Di perusahaan barunya tekanan kerja sebagai Sales Representative lebih keras,  semua pekerjaannya dimulai dari awal lagi mulai dari mencari pelanggan, hingga menjaga pelanggan barunya agar tetap memakai produk yang dia Jual. Bonus yang awalnya disepakati besarannya, akhirnya banyak yang diingkari oleh perusahaan. Belum lagi produk yang dia pasarkan banyak memiliki kelemahan, sehingga Faisal harus bekerja ekstra keras untuk meyakinkan calon pelanggannya. Faisal berpikir nasibnya tidak lebih baik daripada ketika bekerja di perusahaan sebelumnya. Beruntung Faisal belum berkeluarga, sehingga tidak terlalu terbebani dengan jumlah tanggungan. Mungkin ada pengalaman pribadi anda yang bisa dibagi dengan saya disini, tentang pilihan keluar dari tempat kerja lama atau bertahan dengan kondisi yang dirasa “tidak kondusif lagi bagi karir”.

Kesimpulan sementara dari kisah sobat saya ini adalah : Jika anda merasa bahwa ditempat kerja anda sudah tidak memuaskan, jangan terburu-buru mengambil keputusan keluar dari pekerjaan. Cobalah koreksi diri anda sendiri lebih dulu, dan pikirkan dengan tenang apakah keputusan anda sudah dipertimbangkan dengan matang, atau hanya mengikuti emosi sesaat.

Lelaki Paruh Baya dan Gadis Belia

Aku tertegun ketika sobat dekatku menceritakan kisahnya dengan seorang gadis belia berumur 19 tahun, sementara sobatku sendiri sudah berumur 34 tahun. Sobatku ini memanglah masih bujangan (kalau masalah perjaka atau kagak saya gak monitor tuh), karena kesibukannya bekerja dan bekerja sehingga dia rada telat menikah. Banyak wanita yang mencoba mendekatinya, selain berwajah tampan dengan body atletis, tutur katanya pun sopan dan lembut. Jabatannya sebagai Marketing Manager pada sebuah peusahaan swasta bonafid, menjadi daya tarik tersendiri bagi para wanita-wanita yang mengaguminya. Sayangnya sobat saya ini menjalin hubungan dengan mereka sekedarnya saja, gak ada yang serius.

Hingga suatu saat ia sedang berkunjung ke rumah rekan sekantornya (lebih senior dalam masa kerja) yang mempunyai anak tunggal seorang gadis berusia 19 tahun (katanya sih cantik). Gadis itu memanggilnya Om, sobat sayapun tidak ada menaruh hati pada si gadis. Hingga pada suatu hari si gadis mengirim SMS via HPnya, entah darimana dia bisa tahu nomor HP sobatku ini, mungkin dia cari di HP Bapaknya. Waktu itu si gadis menulis dalam smsnya “Om…. bisa tolong jemput aku dikampus nggak, sepeda motor aku mogok”, waktu itu memang hari sudah malam dan sobatku ini baru pulang dari customer. Karena perasaan kasihan maka dijemputnya juga si gadis itu sedangkan sepeda motornya dititip sama satpam dikampus, kemudian sobatku ini menanyakan, “kok nggak nelpon ayah neng…?”. Dijawab oleh si gadis bahwa, “ayah sedang keluar kota”, dan memang benar ayahnya sedang dinas keluar kota.

Sejak itu hubungan sobatku dan gadis belia itu semakin dekat, entah apa yang ada dibenak si gadis belia, ia pernah menyatakan kepada sobatku itu bahwa, “ia menyukainya dan merasa tenang didekatnya”. Tentu saja perasaan sobatku ini jadi tak karuan, selain karena selisih umur yang begitu jauh, ia juga merasa tidak nyaman dengan rekan sekantornya. Hubungan mereka sudah memasuki tahun yang ketiga (kini sobat saya berumur 37 dan si gadis 22 tahun). Orangtua sobat sayapun mewanti-wanti agar berhati-hati bergaul dengan gadis belia, mungkin perasaannya hanya sesaat saja atau sekedar mengalihkan perhatian pacarnya…?. Saat ini orangtua si gadis (kawan sekantor sobat saya) sudah tahu hubungan tersebut dan mereka kelihatannya juga kurang setuju. Karena bingung akhirnya dia datang menceritakan kisahnya tersebut kepada saya, walaupun saya juga sebenarnya bingung. Akhirnya saya sarankan untuk terlebih dahulu meyakinkan dirinya sendiri dan gadis tersebut apakah ini benar-benar cinta, bukan karena nafsu sesaat ?. Selebihnya saya serahkan kepada sobat saya itu, saya pikir dia bisa bedakan mana yang cinta asli dan cinta aspal (asli tapi palsu).

Jika anda berumur seperti dia dan masih bujangan…..lalu menghadapi masalah tersebut, bagaimana sikap anda ? (saya sih gak yakin……ada blogger yang umurnya segitu belum nikah)

Gambar diambil dari KLIK DISINI

KOPDAR pertama dengan blogger NEGERI BADRI

Hari Kamis kemarin, sungguh hal yang menggembirakan bagi saya, karena dapat KOPDAR dengan pemilik blog NEGERI BADRI yang bernama MUHAMMAD BADRI. Sudah lama kami saling berkomunikasi via blog dan akhirnya bertukar nomer telepon, akhirnya KOPDAR ini kesampaian juga. Awalnya waktu saya hubungi, Mas Badri sedang di Taluk Kuantan (tempat orang tuanya), karena tidak mau mengganggu acaranya yang sedang pulkam, saya tidak ada menghubungi lagi. Ketika sore hari kemarin saya sedang berada di kantor, Mas Badri tiba-tiba muncul memperkenalkan diri. Saya sangat senang bertemu dengan Mas Badri, orangnya muda dan energik, dia baru saja menyelesaikan S2 nya dari IPB. Selain itu Mas Badri aktif sebagai penulis puisi, cerpen maupun sajak. Karya-karyanyapun sebagian sudah publikasikan dalam bentuk buku, yang dapat anda lihat di blognya KLIK DISINI. KOPDAR ini adalah yang pertama, karena selama ngeblog saya belum pernah sekalipun kopdar dengan sesama blogger.

Setelah kami berbincang-bincang ngalor ngidul, akhirnya Mas Badri menyampaikan sebuah undangan kepada saya. Rupanya Blogger kita ini akan mengakhiri masa lajangnya pada tanggal 19 April 2008, sebuah kabar gembira tentunya. Untuk itu saya pribadi beserta keluarga mengucapkan SELAMAT BERBAHAGIA kepada :

MUHAMMAD BADRI SP. MSi
dengan
SITI KHAEROMAH, SE

Semoga Menjadi Keluarga Yang SAKINAH

Mata Air

Perjalanan hidup manusia ibarat sebuah mata air yang bening yang berada dipuncak gunung, setiap orang yang menemukannya merasa nyaman dan dapat langsung mereguk airnya. Tidak ada keraguan sedikitpun tentang air yang bersumber dari mata air itu. Perlahan mata air itu menjauh mengikuti alur alirannya menjadi sebuah sungai menuju ke bawah gunung, sepanjang perjalanannya ia membawa berbagai macam kotoran organik. Semakin jauh perjalanan aliran sungai itu maka akan semakin kotor, selanjutnya air sungai tersebut mengalir masuk ke kebun jeruk sehingga airnya masam, masuk ke kebun tebu sehingga airnya manis, masuk ke kebun cabe sehingga airnya pedas dan akhirnya menuju samudra luas. Samudera luas mengubah semua air yang masuk kedalamnya menjadi asin.

Demikianlah perjalanan manusia, ketika lahir dalam keadaan fitrah. Dalam perjalanannya akhirnya memuat dosa-dosa baik kecil maupun besar, sehingga sesuai kodratnya yang fitrah manusia akan selalu mencari “diri” nya yang sesungguhnya. Karena dengan mengenali “diri” nya yang sesungguhnya berarti manusia akan dapat mengerti makna dan hakekat mengapa ia harus hadir dimuka bumi ini. Apakah sekedar hadir didunia tanpa memberi arti dan kesan ?, ataukah makna kehadirannya karena ada sesuatu yang “seharusnya” ia lakukan untuk kemaslahatan bagi dirinya, manusia lainnya, lingkungannya? silahkan anda jawab sendiri.

Percayalah, saya dan anda bukan sekedar kebetulan terpilih sebagai manusia yang terlahir ke dunia tetapi saya dan anda pasti punya “tugas” yang menanti untuk dikerjakan sebelum waktu yang tersedia habis. Silahkan anda cari tugas apa itu, saya sendiri sudah menemukannya.

Salam