Dunia Diambang Resesi , Dono Diambang Depresi

Di berbagai belahan dunia mulai muncul kekuatiran akan timbulnya resesi ekonomi yang dipicu oleh resesi ekonomi di Amrik. Tanda-tandanya mulai nampak, diantaranya nilai bursa saham anjlok, bank-bank di Eropa terancam krisis, bisnis properti mulai bergejolak dan yang paling mengkuatirkan adalah harga minyak dunia yang menukik tajam. Bekas Presiden Bank sentral AS, The Fed, Alan Greenspan, sempat mewanti-wanti di berbagai surat kabar,

“Resesi datang tidak dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Kita bisa merasakannya lewat gejolak di pasar. Dan data-data di pasar yang diambil minggu lalu menunjukkan gelagat yang kurang baik.“

Indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI) juga terseret dan turun 4,80% menjadi 2.485,88 pada penutupan hari Senin.

Sementara itu Dono (bukan nama sebenarnya) setiap hari harus sport jantung, bagaimana tidak ? profesinya sebagai penjual gorengan tahu dan tempe terancam gulung tikar. Hampir semua kebutuhan bahan untuk membuat gorengannya naik drastis, minyak goreng sudah naik 2 kali lipat, tempe dan tahu juga nggak mau kalah sudah naik 2,5 kali lipat, belum tepung terigu yang mahal itupun kejab ade kejab tak ade alias hilang, ditambah lagi harga gas yang naik turun sesuka hatinya.
Mau menaikkan harga gorengannya, ntar yang beli nggak ada?, kalau tempe atau tahunya dikecilin entar dikira jual kelereng, akhirnya setelah ba’da Isya… si Dono pulang. Setibanya dirumah, istrinya ngomel-ngomel harga susu bayi naik, hualah tambah sumpeklah si Dono. Ia berpikir mau usaha apalagi ya kalau nggak jualan gorengan?, sementara 3 orang anaknya dirumah masih kecil-kecil itupun macam tangga. Yang bungsu umurnya baru 9 bulan, yang tengah umurnya 1 tahun 9 bulan, sisulung umurnya 2 tahun 6 bulan. Kalau pulang ke rumah kontrakannya ia ibarat mendengar sebuah Orkestra yang sangat mengerikan, anaknya menangis ketiganya, sementara istrinya ngomel minta tambahan uang belanja.
Si Dono memang tidak tahu apa itu resesi ekonomi dunia, namun dia tahu bahwa hidupnya kini sudah diambang depresi. Bagaimana si Dono harus bergulat untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, dia seakan hidup di sebuah negara antah berantah yaitu sebuah negara yang entah ada entah tidak ada, ya..mirip mirip macam tepung tadi itulah. Karena penat, sehabis jualan gorengan dan mendengar orkestra yang mengerikan, iseng-iseng si Dono menyetel radio pemerintah untuk mendengarkan harga kebutuhan pokok, maka radio pun menyiarkan :

Harga “terong” bapak mulai naik…
Harga “telor” bapak tetap tergantung…
Harga “susu” ibu ikut terguncang…

si Dono kaget…nggak biasanya radio pemerintah menyiarkan harga seperti ini, Dono mencubit tangannya, kok nggak terasa sakit, wah…berarti aku mimpi. Dan ketika terbangun si Dono pun kembali disambut dengan irama Orkestra yang sangat mengerikan. “Waduh lebih baik aku tidur”, kata Dono. Dono…Dono…kacian deh loe hidup di negeri antah berantah. Akhir kisah sayapun mewanti-wanti anda sebagaimana Alan Greenspan,

“Depresi datang tidak dengan menanyakan isi kantong anda terlebih dahulu. Kita bisa merasakannya lewat gejolak ekonomi di setiap rumah tangga. Dan sample di rumah tangga Dono, yang kita ambil sebagai kisah diatas, menunjukkan gelagat yang kurang baik.“

 

Iklan