MESJID AHMADIYAH DIBAKAR DI SUKABUMI

Pagi hari sekitar pukul 5:30 saya melihat newsticker tentang pembakaran mesjid Ahmadiyah di Sukabumi. Lalu ketika membuka gmail saya sekaligus mencari beritanya di google reader saya. Anda bisa membaca berita lengkapnya di SINI , benar-benar saya menjadi marah dan dongkol, mengapa masih ada orang “bar-bar” yang mau melakukan cara-cara brutal seperti itu. Mereka sebenarnya hanya menuruti tuhan hawa nafsu mereka saja?, maaf mengapa saya mengatakan demikian ?, jaman sekarang ini apakah masih perlu cara-cara “bar-bar” seperti itu untuk meyakinkan orang bahwa apa yang kita yakini benar?. Dasar “bar-bar” loe !!!, bikin malu guwe aja !!!, tangkap mereka pak Polisi, rehabilitasi mental mereka, penjarakan mereka dan beri hukuman yang setimpal.

Iklan

Bupati Rohil: “…..Semua Kita Pernah Korupsi…..”

“sekarang muballigh mengatakan kita ini korupsi. Padahal awak tak korupsi. Semua kita pernah korupsi. Mohon maaf saja, jangankan saya, kepala KUA juga (pernah) korupsi. Semua orang korupsi sekarang. Ini yang harus kita luruskan”, kata Annas Maamun disambut tawa para hadirin dalam pelantikan Ikatan Keluarga Rokan Hilir (Ikrohil) Duri, bengkalis di Lapangan Pesantren Hubbul Wathan, Duri, Sabtu (19/1). (Tribun Pekanbaru halaman 1, 20/1).

Perlu anda ketahui sebelumnya bahwa gara-gara seorang ustadz ceramah soal korupsi, Bupati Rokan Hilir, Riau, Anas Maanun langsung ngambek. Anas langsung berdiri dan meninggalkan acara ceramah itu. Kejadian yang dirasa mengherankan sekaligus menggelikan dan menimbulkan tanda tanya besar ini ini terjadi sekitar seminggu lalu saat peringatan Tahun Baru Islam 1419 Hijriah di Mesjid Agung Al Ikhlas Jalan Utama, Bagan Siapi-api,Rohil Riau. Seperti dilansir okezone (18/1).

Berikut lanjutan kutipan dari Pekanbaru Tribun (20/1) halaman 1 dan 7 ……..Menurut Anas Maamun sang Bupati, muballigh sepatutnya menghimbau orang untuk shalat, bukan bicara politik dan memburukkan aib orang, “saya ingin masjid betul-betul ceramah agama. Membicarakan ibadah shalat. Jangan bicara politik. kalau berpidato silahkan dilapangan”, katanya kepada Tribun.

Menurut Annas, dirinya ingin memajukan soal agama. Diantaranya menghimbau orang shalat dan meramaikan mesjid. Dan hal itulah yang menurut dia menjadi seruan para muballigh. Dari informasi yang disampaikan seorang pejabat Rohil, persoalan sudah berakhir. Sang Ustadz sudah menelepon Annas dan meminta maaf.

Bupati Annas pun sempat menyinggung maraknya aksi unjuk rasa terhadap pemerintahannya. “sekarang ini sangat rapuh. Tak ada pasal, orang-orang demo. meski tak tentu pasal tetap didemo. Artinya tukang demo itu nakal”, katanya lagi-lagi disambut tertawa hadirin.

Opini Saya :

Sang Bupati terlihat emosional, sang Bupati ingin muballigh hanya ceramah tentang ibadah, tidak masuk ranah politik?. Menurut saya bagi seseorang apakah itu ustadz atau pengamat sosial, membicarakan korupsi tidaklah selalu masuk wilayah politik, namun lebih ke masalah moral. Kalau ceramah atau bicara korupsi oleh sang Bupati dianggap  masuk ke wilayah politik, hal ini lebih karena pelaku korupsi yang terungkap akhir-akhir ini adalah para pelaku politik termasuk pejabat. Jadi ini tergantung dari persepsi yang mendengar ceramah saja, kalau didalam hati bersangka baik tentu ceramah itu dianggap sebagai teguran untuk instrospeksi diri bukan malah menyuruh mengganti topik ceramah. Tepatkah kalau seorang muballigh hanya melulu bicara masalah ibadah?, lalu siapa yang mengingatkan ummat tentang moral? apakah sang Bupati?, mau dibawa kemana Ummat Islam ini kalau mengikuti pendapat sang Bupati diatas ?. Tetapi berdasarkan pengamatan saya di media massa, memang demikianlah pola pikir sebagian besar pejabat kita, dan semoga sebagian kecil pejabat lainnya tidak mempunyai pikiran yang sama dengan sang Bupati dalam lakon ini. Ya Tuhan, sadarkanlah para pemimpin kami bahwa jabatan itu amanah, bukan milik. Wassalam.

Akhirnya DEPAG dan Ahmadiyah Sepakat

Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) akhirnya menyatakan bahwa mereka meyakini Muhammad Rasulullah adalah nabi penutup (Khatamun Nabiyyin) dan Mirza Ghulam Ahmad hanya sebagai guru dan pembawa berita gembira, peringatan serta pengemban ‘mubasysyirat’

Pernyataan tersebut dikeluarkan Amir Pengurus Besar JAI, Abdul Basit, kepada wartawan di Jakarta, Selasa, sesudah JAI berdialog dengan sejumlah tokoh masyarakat dan pemerintah sebanyak tujuh kali sejak 7 September 2007 yang difasilitasi Balitbang Departemen Agama, lihat berita lengkapnya DISINI.

Setelah sebelumnya saya dan rekan-rekan Jamaah Ahmadiyah Indonesia terutama saudara Angga, saling menimpali komen di DISINI, akhirnya datang juga kabar yang menyejukkan tentang Jemaah Ahmadiyah Indonesia. Departemen Agama dan Jemaah Ahmadiyah Indonesia akhirnya mencapai kata sepakat, Saya merasa bersyukur karena akhirnya jalan dialoglah yang dipilih untuk memecahkan masalah tersebut, bukan dengan kekerasan, pengusiran dan tindakan yang merugikan pihak lain. Saya berharap semua kalangan dari agama apapun dan kepercayaan apapun dapat hidup damai, jika agama sudah tidak dapat mendamaikan manusia maka perlahan tapi pasti manusia akan meninggalkan agama. Lalu manusia akan mencari sesuatu diluar agama yang menurut mereka lebih meneduhkan dibandingkan ketika mereka memeluk suatu agama, istilah populernya Spiritualisme tanpa Agama. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, dan tidak ada postingan yang tidak ada akhirnya. Demikian saya akhiri posting ini. Wassalam. PEACE…

Ahmadiyah Sesat atau Terlihat sesat ?

Peristiwa perusakan dan pengusiran pengikut aliran Ahmadiyah, akhir-akhir ini marak terjadi dan diekspose oleh media-media nasional. Peristiwa di Bogor, Nusa Tenggara Barat, Kuningan dan Majalengka adalah beberapa kasus yang layak diperhatikan untuk mencegah agar kejadian serupa tak terulang. Salah satu yang menyebabkan Ahmadiyah dianggap sebagai aliran sesat oleh MUI, karena menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, mujaddid, masih dan mahdi. Namun didalam website Ahmadiyah ada disebutkan bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak mengaku sebagai “nabi”, kutipannya adalah sebagai berikut :

Agaknya tidak bisa dipungkiri bahwa secara faktual Hazrat Mirza Ghulam Ahmad pernah mengaku nabi. Tetapi tidak boleh diabaikan pula adanya fakta lain bahwa pengakuan itu telah diralat atau lebih tepatnya dijelaskan oleh beliau. Singkatnya, pengakuan sebagai nabi hanya dalam arti harfiah, bukan dalam pengertian istilah atau syari’ah. Begitu pun, jika orang masih merasa keberatan dengan kata itu (Nabi), hendaknya diganti dengan muhaddats.

Berdasarkan klaim tersebut, kaum Ahmadiyah sendiri menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, benarkah demikian atau hanya untuk menurunkan tensi umat Islam yang merasa dilecehkan oleh Ahmadiyah. Sebaiknya pemerintah mengambil sikap tegas dengan membuka dialog antara kedua pihak seperti kasus-kasus aliran sesat sebelumnya antara lain Mosaddeq dengan Al-Qiyadah dan Sekte Kiamatnya Pendeta Mangapin Sibuea, kalau dibiarkan terus berlarut-larut dikuatirkan akan timbul anarkisme yang akan memakan korban dikedua pihak, karena masing-masing memiliki pengikut baik yang pro maupun yang kontra. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia , KH Cholil Ridwan yang mengatakan bahwa pihaknya tidak membenarkan kekerasan terhadap para pengikut Ahmadiyah. “Islam tidak mengajarkan kekerasan,” katanya seusai Sholat Idul Adha di Gedung DDI, Rabu, menanggapi banyaknya kekerasan yang terhadap para jamaah Ahmadiyah. Untuk mengantisipasi akan terjadinya kekerasan lagi, menurut dia, negara perlu bertindak dengan membubarkan jamaah Ahmadiyah (ANTARA News, 19/12/2007).

Setidaknya pihak yang pro dan kontra tentang keberadaan Ahmadiyah bisa mengambil suatu kesepakatan, apakah Jemaah Ahmadiyah dianggap masuk dalam Agama Islam atau di “luar” Agama Islam. Jangan sampai kita menganggap sesuatu yang”terlihat sesat” menjadi sesat, karena terlihat sesat masih dapat kita kaji “terlihat sesat” nya dimana, tetapi kalau “sesat” berarti seluruh ajarannya sudah bertentangan dengan kaidah Islam secara umum dan ini berarti Ahmadiyah tidak bisa dicap lagi sebagai aliran dalam agama Islam. Setujukah anda dengan pendapat tersebut ?

MENJAWAB TUDINGAN; ISLAM DISEBARKAN DENGAN KEKERASAN DI TANAH BATAK

iddotwikipediadot-orgtimam-bonjol.jpgPosting ini saya munculkan setelah membaca opini di beberapa situs, milis dan blog yang menuding bahwa penyebaran agama Islam di Tanah Batak dilakukan dengan kekerasan oleh kaum Paderi. Pro dan Kontra tentang hal ini hingga saat ini masih berlangsung, untuk lebih mengetahui kebenaran opini tersebut, berikut ini saya mencoba menampilkan tulisan tentang hal tersebut oleh dr H Ekmal Rusdy DT Sri Paduka (ahli waris penulis perjuangan Tuanku Tambusai, H. Mahidin Said) dimuat pada kolom OPINI diharian Riau Pos halaman 4 Edisi Selasa, 30/10-2007. Sengaja saya kutip lengkap, agar anda dapat mengambil kesimpulan secara utuh.

BENARKAH PADERI MIRIP AL-QAIDA ?
OLEH : Ekmal Rusdy

Majalah Tempo 21 Oktober 2007 memuat “…petisi ini mendesak Pemerintah Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan Imam Bonjol adalah Pimpinan Gerakan Wahabi Paderi. Gerakan ini memiliki aliran yang sama dengan Taliban dan Al-Qaida. Invasi Paderi ke tanah Batak menewaskan ribuan orang”. Dibagian lain pada halaman 56 dikatakan “pakaian mereka serba putih”. Persenjataannya cukup kuat. Mereka menurut Parlindungan, memiliki meriam 88 militer bekas milik tentara Napoleon yang dibeli second hand di Penang. Dua perwira Paderi dikirim belajar di Turki. Tuanku Rao, yang aslinya seorang Batak bernama Pongki Nangol-ngolan Sinambela, dikirim untuk belajar taktik Kavaleri. Tuanku Tambusai, aslinya bernama Hamonangan Harahap, belajar soalperbentengan. Pasukan Paderi juga memiliki pendidikan militer di Batusangkar.

Lanjutkan membaca “MENJAWAB TUDINGAN; ISLAM DISEBARKAN DENGAN KEKERASAN DI TANAH BATAK”