Amelia

AMELIA
oleh : DG.LIMPO

semua khayalku terbang kemasa lalu
betapa kumerindu untuk bertemu denganmu
namun disini hanya ada kesunyian dan semilir angin
kupandangi senja merah yang merenda langit
tak sadar kusebut namamu Amelia…Amelia…Amelia…
aku mulai mengingat satu demi satu jejak sentuhanmu
aku mulai mengingatmu lagi ketika telah melupakanmu
sebenarnya aku benci kisah ini dalam benakku
aku benci karena memorinya begitu memenuhi rasa
tak sedikitpun ruang hampa yang tersisa
hanya Amelia….Amelia….Amelia
ketika aku tersadar
aku ada dipusaramu

Iklan

Puisi Cinta diakhir 2007

PUISI CINTA DIAKHIR 2007
Oleh : DG. LIMPO

saat kita berdua menghabiskan
sisa kisah diakhir tahun
setitik airmatamu
menetes jatuh ke tanganku
saat menikmati indahnya kembang api
yang dilemparkan anak-anak kecil
yang sedang bermain-main
di halaman rumah kita
melihat mereka begitu bahagia
kau mengatakan, sayang….
anak-anak adalah masa depan kita
anak-anak adalah buah cinta kita
dan waktu akan menghabiskan umur kita
lalu umur anak-anak kita
lalu umur cucu cucu kita
lalu menghabiskan dunia ini juga
lalu kemana kita dan mereka
akan pergi selanjutnya?

Puisi Selamat Tinggal 2007 (2)

Puisi Selamat Tinggal 2007 (2)
Oleh : DG. LIMPO

saat jam berdetak seperti detak jantungku
tik…tak…tik…tak…tik…tak…tik…tak…
saat jam berdentang seperti lonceng kematian
ting…tang…tong…ting…tang…tong…
saat jam dan waktu berkolaborasi
menghabiskan abad demi abad
menghabiskan tahun demi tahun
menghabiskan bulan demi bulan
menghabiskan minggu demi minggu
menghabiskan hari demi hari
menghabiskan jam demi jam
menghabiskan menit demi menit
menghabiskan detik demi detik
menghabiskan 2007
lalu dimanakah detak jantungku
ketika jam sudah tidak berdetak lagi
ketika menit dan detik sudah habis
ketika waktu tak berbatas
di alam abadi

Puisi Selamat Tinggal 2007

PUISI SELAMAT TINGGAL 2007 (1)
Oleh DG. LIMPO

aku tertegun melihat waktu yang semakin sedikit tersisa
dalam sederet kisah
kupegang jemari tanganmu pada saat jam tanganku
menunjuk 23:59:59 pada akhir 2007
tahun 2007 telah merenggangkan dekapannya kepadaku
dan juga kepadamu
kita menyimpan segenggaman hati dalam mengurai
kisah sedih dan gembira ditahun 2007
sementara harapan baru menggapai-gapai
lalu menarik kita masuk kedalam dentang waktu 24:00:00
pada dentang waktu itu aku dan kamu
telah berada dalam dekapan tahun 2008
selamat tinggal kenangan
semoga sedih tak berulang dan bahagia menjelang

Orang Terbuang

ORANG TERBUANG
Oleh : DG. LIMPO

kutinggalkan semua cerita
tentang tanah Bugis yang kucinta
aroma laut dan badik terhunus
pelaut pemberani ada juga bajak laut

ditanah Bugis aku hanyalah orang yang terbuang
Puang, Karaeng dan Petta lebih punya peluang
maka dengan kebulatan tekad badik kubuang
tetapi siri’ tetap kupegang sampai nyawa meregang

di negeri ini aku juga bukanlah Sri Paduka
karena aku hanyalah rakyat jelata
takdirku adalah bayangan semesta
perjalananku adalah nasib yang melata

aku akan menetap di negeri ini
sampai titah bayangan semesta
tidak menyuruhku lagi melata
atau maut menjemput nyata

(Pekanbaru, November 2007)

TAKDIR PENGELANA

TAKDIR PENGELANA
Oleh : DG. LIMPO

hamba sendiri merasa takjub
di ujung sana tuan bertanya
mengapa hamba ada disini
di kota bertuah negeri junjungan

hamba ibarat pengelana
yang mengikuti peta nasib
dengan kompas takdir
sambil membawa bekal doa
menunggangi tekad dan keinginan

disini di kota bertuah negeri junjungan
hamba bermaksud mampir mengisi perbekalan
namun apa daya jiwa hamba tertambat disini
hingga hamba tak dapat melanjutkan perjalanan

(Pekanbaru, Riau)

Penantian diujung Senja

Oleh : DG. LIMPO

Aku berdiri di ujung dermaga ini
menatap laut yang luas
menanti kapal merapat membawa kekasih

Senja menjelang dan sebuah kapal menuju dermaga
kucari dirimu diantara penumpang yang turun
Aku benar dilanda kasmaran yang sangat
Peluh dan penat yang mendera tiada terasa
Karena batinku bahagia dalam penantian
Yang akan segera berakhir

Satu demi satu penumpang turun
Sehingga penumpang terakhir turun
Namun tak kutemukan dirimu

Aku memalingkan wajahku dari laut
Dan senja yang semburat merah
Mereka seakan mengolok-olok aku

Aku sedang butuh dirimu
Belaianmu……..
Kehangatan pelukmu……..
Aku ingin bersandar didadamu yang bidang
Lalu mendengar ocehanmu tentang laut, pantai, dermaga, angin, ombak, pulau-pulau yang kau singgahi, dan orang-orang yang kau temui diperjalanan

Sudah ribuan senja kulewati di ujung darmaga ini
Kini bersama wanita titisanmu aku kembali menantimu
Kami mencintaimu meski akhirnya hanya bayangan senja yang menyambutnya
Pulanglah kekasih, pulanglah ayah, karena tulang rusuk adammu sedang mencari tubuhmu

(Pekanbaru 2007)