TANAH YANG KITA MILIKI HANYA DEBU

Mengapa harus percaya pada lambaian akasia….?
Ataukah mungkin kita sudah terkena amnesia….?
Ketika kita masih menjadi pemilik sah tanah ini
Kita biarkan hutan
Menjaga dan melindungi Sungai dan mata air kehidupan
Kita telah menjadi lemah dalam pertikaian
Kearifan yang dahulu kita miliki sebagai peradaban
Kini berganti keserakahan dan ketamakan Tanah-tanah ini tak lagi kita miliki Karena semua telah kita makelari Dibeli oleh para pria berdasiAnak cucu kita kini hanya menjadi kuli Pada tanah-tanah yang dahulu kita kuasai Sungai-sungai kita dipenuhi limbah industri Ikan-ikan menggelepar lalu mati Tak lama lagi kita akan menjadi bangkai Tanpa mewarisi satupun tradisi Hanya ungkapan caci dan maki Atas semua yang telah kita khianati
(DG–LIMPO)
Iklan

MENJAWAB TUDINGAN; ISLAM DISEBARKAN DENGAN KEKERASAN DI TANAH BATAK

iddotwikipediadot-orgtimam-bonjol.jpgPosting ini saya munculkan setelah membaca opini di beberapa situs, milis dan blog yang menuding bahwa penyebaran agama Islam di Tanah Batak dilakukan dengan kekerasan oleh kaum Paderi. Pro dan Kontra tentang hal ini hingga saat ini masih berlangsung, untuk lebih mengetahui kebenaran opini tersebut, berikut ini saya mencoba menampilkan tulisan tentang hal tersebut oleh dr H Ekmal Rusdy DT Sri Paduka (ahli waris penulis perjuangan Tuanku Tambusai, H. Mahidin Said) dimuat pada kolom OPINI diharian Riau Pos halaman 4 Edisi Selasa, 30/10-2007. Sengaja saya kutip lengkap, agar anda dapat mengambil kesimpulan secara utuh.

BENARKAH PADERI MIRIP AL-QAIDA ?
OLEH : Ekmal Rusdy

Majalah Tempo 21 Oktober 2007 memuat “…petisi ini mendesak Pemerintah Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan Imam Bonjol adalah Pimpinan Gerakan Wahabi Paderi. Gerakan ini memiliki aliran yang sama dengan Taliban dan Al-Qaida. Invasi Paderi ke tanah Batak menewaskan ribuan orang”. Dibagian lain pada halaman 56 dikatakan “pakaian mereka serba putih”. Persenjataannya cukup kuat. Mereka menurut Parlindungan, memiliki meriam 88 militer bekas milik tentara Napoleon yang dibeli second hand di Penang. Dua perwira Paderi dikirim belajar di Turki. Tuanku Rao, yang aslinya seorang Batak bernama Pongki Nangol-ngolan Sinambela, dikirim untuk belajar taktik Kavaleri. Tuanku Tambusai, aslinya bernama Hamonangan Harahap, belajar soalperbentengan. Pasukan Paderi juga memiliki pendidikan militer di Batusangkar.

Lanjutkan membaca “MENJAWAB TUDINGAN; ISLAM DISEBARKAN DENGAN KEKERASAN DI TANAH BATAK”