Rintihan Jiwa

Rintihan JIWA

Oleh DG.LIMPO

********************

Sayang ,

kau dengarkah rintihannya

menangis dalam kesendirian

Ayah dan ibunya entah kemana

sejak kecil hidup dipanti asuhan

berharap belas kasihan para dermawan

demi hidup dan masa depan

gadis kecil yang harus merana

dalam derita dalam nestapa

Sayang,

kau dengarkah rintihannya

pelacur malam menanti langganan

dalam rintihan berharap uang

demi menghidupi kedua anaknya

menjual diri memendam sakit hati

Sayang,

kau dengarkan rintihannya

anak jutawan yang kaya raya

ingin apa saja semua tersedia

ayah sibuk dari pagi hingga petang

ibu repot banyak ke salon dan arisan

pada siapakah mengharap kasih sayang?

Sayang,

kau dengar rintihannya

wanita muda bergelimang harta

berfoya-foya dan berpesta pora

merayu para lelaki buaya yang kaya

menawarkan aroma tubuh dan cintanya

berharap bertemu sang arjuna yang sempurna

Sayang,

Kau dengar rintihanku

Aku ingin kau peluk erat

Dimalam penuh bintang

Menjadi binatang nafsu

Lupakan terpaan derita

Anak manusia……………

Iklan

Matinya Seorang Mantan PNS

Matinya Seorang Mantan PNS
Oleh : DG. LIMPO

Pesawat yang kutumpangi tiba di Pekanbaru, saat itu cuaca mendung. Aku ingat ketika itu bulan Desember, biasanya setiap bulan yang berakhiran ‘ber’, menandakan musim hujan telah datang di “KOTA BERTUAH” julukan kota Pekanbaru, kadang ada yang memplesetkannya menjadi “KOTA BERKUAH” bila terjadi banjir.
Seorang sahabat telah menjemputku di Bandara Sultan Syarif Qasim. Ia bernama Saipul (nama samaran), semasa masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Bogor kami satu tempat kost. Lima tahun yang lalu Saipul adalah seorang PNS disebuah Instansi Pemerintah. Saat itu sewaktu kami bertemu, aku bekerja disebuah perusahaan kontraktor di Jakarta dan kebetulan mendapatkan proyek di Riau. Sementara Saipul sebagai pimpro dan memegang salah satu proyek pengadaan di instansinya, aku menilai karirnya cukup bagus mengingat dia belum begitu lama diangkat sebagai PNS.

Aku ingat bagaimana Saipul berusaha mengelak dari para kontraktor yang berusaha mengetahui nomor hp-nya dan berusaha menyogoknya untuk mendapatkan proyek. Bahkan terhadapku, Saipul tak ingin lebih jauh membahas masalah proyek-proyek yang sedang ditanganinya. Waktu itu Saipul telah menikah dan memiliki seorang anak, saat aku bertamu ke rumahnya, aku mendapatinya sedang bertengkar hebat dengan istrinya mengenai pembayaran cicilan rumah mereka, samar-samar kudengar terlontar ucapan istrinya yang merasa tidak puas dengan penghasilan yang diperoleh suaminya. Saipul pernah bercerita kepadaku, dengan gaji PNS yang diterimanya setiap bulan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, jadi setiap bulan dia harus gali lubang tutup lubang, tetapi ia mengatakan kepadaku bahwa dengan kesulitannya itu, dia tidak akan memanfaatkan posisinya untuk mengeruk keuntungan pribadi. Dia teguh memegang prinsip bahwa manusia akan dianggap manusia bila dia masih mempunyai harga diri, dia tidak ingin menjual harga dirinya. Saipul begitu kokoh memegang prinsip bahwa ‘menjual amanah’ demi segepok uang lebih hina dari seorang pelacur.

Kalau saja Saipul mau menerima sogokan saat menjabat pimpro pada waktu itu, sebuah rumah mewah sudah dapat dimilikinya, bisa jadi sebuah atau dua buah mobil sudah dapat dibelinya, tidak harus mencicil rumah BTN dan mengendarai sepeda motor butut seperti sekarang. Tetapi itulah Saipul dia lebih senang menghadapi omelan istrinya, cibiran keluarganya dan beberapa bawahannya karena mereka menganggapnya ‘bodoh’ tidak mau memanfaatkan kesempatan.

Kini Saipul yang menjemputku di Bandara telah berhenti dari pekerjaannya sebagai PNS, dia terlihat memelihara jenggot dan lebih kurus dari saat aku bertemu dengannya lima tahun lalu. Menurutnya, dia mengundurkan diri sebagai PNS setahun yang lalu, karena tidak tahan dengan lingkungan pekerjaan yang menurutnya akan mempengaruhinya kelak. Aku menanyakan kepadanya, sekarang bekerja dimana ?, dijawabnya bahwa saat ini dia sedang menekuni bisnis catering. Sambil menaiki taksi bandara, kutanyakan tentang keadaan keluarganya, didalam taksi aku melihat matanya berkaca-kaca menahan kesedihan. Akhirnya aku tak melanjutkan pertanyaanku tersebut, yang jelas aku bahagia melihatnya bisa memulai hidupnya lagi walaupun tanpa istri dan anaknya.

Kurang lebih setahun semenjak pertemuan kami di Pekanbaru, aku menerima kabar lewat telepon dari mantan istrinya bahwa Saipul mengalami kecelakaan dan meninggal, ketika sedang membawa catering ke pelanggannya. Didalam pesawat menuju ke Pekanbaru, aku menarik nafas panjang, ” Tuhan, mengapa semua orang-orang yang aku anggap baik selalu lebih cepat berpulang ke sisi-Mu?”

PELACUR TUA IBUKOTA

Pelacur tua ibukota, berjalan menyusuri lorong dibawah temaram lampu jalan, menjajakan tubuh ringkihnya yang termakan penyakit dan usia. Pelacur tua ibukota tak menyesali hidupnya, melayani hasrat tengik muda dan memuaskan gairah bandot tua demi sesuap nasi hari ini. Pelacur tua ibukota menyendiri di kamar sempit dan pengab, menunggu tamu terakhirnya. Bau parfum murahan dan gincu tebal menemani penampilannya. Sang tamu datang tanpa uang, pelacur tua ibukota meradang yang terbayang durjana kelakuan, senyum kecut menghias bibir. Pelacur tua memeluk tamu mautnya, menghujamkan belati menembus dada, merintih..meregang..dan tubuhnya tumbang…

TOPENG

thiasosdotcodotuk.jpg

TOPENG
Oleh : DG. LIMPO

ada topeng monyet
ada topeng wajah
ada topeng kulit
ada topeng pelindung diri
ada topeng kemunafikan
semua topeng adalah kedok
semua kedok adalah penyamaran
seorang penipu mengubah jati dirinya sebagai topeng
seorang pengkhianat adalah topeng rombeng penuh kutu
seorang politikus adalah topeng kamuflase yang sempurna
politik adalah sandiwara penuh topeng yang memuakkan
topeng adalah hiburan yang menyenangkan bagi rakyat
bagiku topeng adalah pelindung diri yang baik
karena topeng menyamarkanku dari para pemangsa
topeng membuat diriku tak mudah dikenali
semua kawan menjadi lawan dan semua lawan menjadi kawan
saat topeng kubuka, aku tahu siapa kawan dan siapa lawan

(Pekanbaru, Oktober 2007)