Akhirnya DEPAG dan Ahmadiyah Sepakat

Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) akhirnya menyatakan bahwa mereka meyakini Muhammad Rasulullah adalah nabi penutup (Khatamun Nabiyyin) dan Mirza Ghulam Ahmad hanya sebagai guru dan pembawa berita gembira, peringatan serta pengemban ‘mubasysyirat’

Pernyataan tersebut dikeluarkan Amir Pengurus Besar JAI, Abdul Basit, kepada wartawan di Jakarta, Selasa, sesudah JAI berdialog dengan sejumlah tokoh masyarakat dan pemerintah sebanyak tujuh kali sejak 7 September 2007 yang difasilitasi Balitbang Departemen Agama, lihat berita lengkapnya DISINI.

Setelah sebelumnya saya dan rekan-rekan Jamaah Ahmadiyah Indonesia terutama saudara Angga, saling menimpali komen di DISINI, akhirnya datang juga kabar yang menyejukkan tentang Jemaah Ahmadiyah Indonesia. Departemen Agama dan Jemaah Ahmadiyah Indonesia akhirnya mencapai kata sepakat, Saya merasa bersyukur karena akhirnya jalan dialoglah yang dipilih untuk memecahkan masalah tersebut, bukan dengan kekerasan, pengusiran dan tindakan yang merugikan pihak lain. Saya berharap semua kalangan dari agama apapun dan kepercayaan apapun dapat hidup damai, jika agama sudah tidak dapat mendamaikan manusia maka perlahan tapi pasti manusia akan meninggalkan agama. Lalu manusia akan mencari sesuatu diluar agama yang menurut mereka lebih meneduhkan dibandingkan ketika mereka memeluk suatu agama, istilah populernya Spiritualisme tanpa Agama. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, dan tidak ada postingan yang tidak ada akhirnya. Demikian saya akhiri posting ini. Wassalam. PEACE…

Iklan

DUKA ATAS BENCANA BANJIR, LONGSOR, BADAI

Beribu doa kami panjatkan kepada Tuhan, bagi para korban tanah longsor di Karanganyar yang berjumlah 71 orang, dan di Wonogiri yang berjumlah 15 orang, juga korban banjir, longsor dan badai hampir di seluruh tanah air, yang saat ini sedang menunggu bantuan dan uluran tangan dari masyarakat dan pemerintah. Semoga segera mendapat bantuan. Data kejadian bencana silahkan klik DISINI

Ahmadiyah Sesat atau Terlihat sesat ?

Peristiwa perusakan dan pengusiran pengikut aliran Ahmadiyah, akhir-akhir ini marak terjadi dan diekspose oleh media-media nasional. Peristiwa di Bogor, Nusa Tenggara Barat, Kuningan dan Majalengka adalah beberapa kasus yang layak diperhatikan untuk mencegah agar kejadian serupa tak terulang. Salah satu yang menyebabkan Ahmadiyah dianggap sebagai aliran sesat oleh MUI, karena menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, mujaddid, masih dan mahdi. Namun didalam website Ahmadiyah ada disebutkan bahwa Mirza Ghulam Ahmad tidak mengaku sebagai “nabi”, kutipannya adalah sebagai berikut :

Agaknya tidak bisa dipungkiri bahwa secara faktual Hazrat Mirza Ghulam Ahmad pernah mengaku nabi. Tetapi tidak boleh diabaikan pula adanya fakta lain bahwa pengakuan itu telah diralat atau lebih tepatnya dijelaskan oleh beliau. Singkatnya, pengakuan sebagai nabi hanya dalam arti harfiah, bukan dalam pengertian istilah atau syari’ah. Begitu pun, jika orang masih merasa keberatan dengan kata itu (Nabi), hendaknya diganti dengan muhaddats.

Berdasarkan klaim tersebut, kaum Ahmadiyah sendiri menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, benarkah demikian atau hanya untuk menurunkan tensi umat Islam yang merasa dilecehkan oleh Ahmadiyah. Sebaiknya pemerintah mengambil sikap tegas dengan membuka dialog antara kedua pihak seperti kasus-kasus aliran sesat sebelumnya antara lain Mosaddeq dengan Al-Qiyadah dan Sekte Kiamatnya Pendeta Mangapin Sibuea, kalau dibiarkan terus berlarut-larut dikuatirkan akan timbul anarkisme yang akan memakan korban dikedua pihak, karena masing-masing memiliki pengikut baik yang pro maupun yang kontra. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia , KH Cholil Ridwan yang mengatakan bahwa pihaknya tidak membenarkan kekerasan terhadap para pengikut Ahmadiyah. “Islam tidak mengajarkan kekerasan,” katanya seusai Sholat Idul Adha di Gedung DDI, Rabu, menanggapi banyaknya kekerasan yang terhadap para jamaah Ahmadiyah. Untuk mengantisipasi akan terjadinya kekerasan lagi, menurut dia, negara perlu bertindak dengan membubarkan jamaah Ahmadiyah (ANTARA News, 19/12/2007).

Setidaknya pihak yang pro dan kontra tentang keberadaan Ahmadiyah bisa mengambil suatu kesepakatan, apakah Jemaah Ahmadiyah dianggap masuk dalam Agama Islam atau di “luar” Agama Islam. Jangan sampai kita menganggap sesuatu yang”terlihat sesat” menjadi sesat, karena terlihat sesat masih dapat kita kaji “terlihat sesat” nya dimana, tetapi kalau “sesat” berarti seluruh ajarannya sudah bertentangan dengan kaidah Islam secara umum dan ini berarti Ahmadiyah tidak bisa dicap lagi sebagai aliran dalam agama Islam. Setujukah anda dengan pendapat tersebut ?

Shalat Idul Adha Mengikuti Tanggal Merah

Pemerintah melalui sidang itsbat memutuskan 1 Zulhijah 1428 Hijriah jatuh pada Selasa (11/12) dan Hari Raya Idul Adha 1428 Hijriah jatuh pada Kamis (20/12) mendatang. Sementara Hizbut Tahrir Indonesia, DDII, MMI dan Al-Azhar pada hari Rabu (19/12).

Menurut Sekretaris Majelis Fatwa Dewan Dakwah Amril Syaifayasin mengatakan sesuai Keputusan Majelis Fatwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia maka yang menjadi patokan untuk penentuan shalat Idul Adha adalah dengan ketetapan wukuf di Arafah.”Ketetapan Pemerintah Saudi melalui Majelis Qadha Al `Ala menetapkan bahwa wukuf terjadi pada Selasa (18/12) dan Idul Adha pada Rabu (19/12) sehingga kepada umat Islam sangat dianjurkan melakukan puasa Arafah pada Selasa yakni pada saat jemaah haji melakukan wukuf,” katanya. (ANTARA News,18/12)

Sebagai orang awam, saya melihat akhir-akhir ini keputusan tentang penetapan Hari Besar Islam nggak ada yang meleset dari tanggal merah di Kalender.

Nasionalisme dan Kemiskinan

Masih ingat dengan pepatah dari seorang negarawan paman sam JOHN F. KENNEDY, yang berbunyi :

Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu tetapi tanyakan apa yang telah kau berikan untuk negaramu

Sebuah ungkapan nasionalis, bahwa seorang warganegara hendaknya bertanya dulu pada dirinya, apa yang telah dia sumbangkan untuk negara ?. Menghubungkan pernyataan tersebut dengan realita di negara kita, apa yang telah kita berikan untuk negara, tentunya jawabannya kembali kepada diri anda dan saya. Jawabannya bisa beraneka macam, ada yang mengatakan bahwa sebagai pengusaha dengan membayar pajak saya telah memberikan pengabdian saya untuk negara, ada juga yang mengatakan sebagai seorang guru didaerah terpencil saya telah memberikan pengabdian saya untuk negara, dan masih banyak jawaban lain yang tentunya tergantung dari apa profesi dan pekerjaan yang anda geluti saat ini.

Lalu tentu sebagai warga masyarakat, kita juga ingin tahu apa kemajuan apa yang telah diperoleh negara kita sejak merdeka enam puluh dua tahun yang lalu , setidaknya dilihat dari tingkat kesejahteraan. Mari kita lihat data BPS dibawah ini tentang jumlah penduduk miskin dan pengangguran, sebagai parameter dari suatu negara yang sejahtera dan adil.

  • Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2007 sebesar 37,17 juta (16,58 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2006 yang berjumlah 39,30 juta (17,75 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,13 juta.
  • Jumlah penganggur pada Februari 2007 mengalami penurunan sebesar 384 ribu orang dibandingkan dengan keadaan Agustus 2006 yaitu dari 10,93 juta orang pada Agustus 2006 menjadi 10,55 juta orang pada Februari 2007, dan mengalami penurunan sebesar 556 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2006 sebesar 11,10 juta orang.
  • Jumlah angkatan kerja Februari 2005 mencapai 105,8 juta orang, bertambah 1,8 juta orang dibanding Agustus 2004 sebesar 104,0 juta orang.

    Walaupun secara angka dinyatakan bahwa jumlah penduduk miskin pada periode tahun ini menurun, tetapi dengan jumlah 16,58 % tersebut masih cukup tinggi. Demikian pula dengan jumlah pengangguran terbuka sebesar 10,93 juta orang. Tingginya tingkat kemiskinan dan angka pengangguran diatas menunjukkan bahwa kesejahteraan belum merata.

    Namun mungkin ada sedikit kabar gembira bahwa berdasarkan hasil survei dari Merill and Lynch dan Capgemini dua institusi keuangan Amerika Serikat, jumlah orang kaya di Indonesia meningkat 16 persen menjadi 20.000 orang (27/6)

    Capgemini dan Merrill Lynch mendefinisikan jutawan adalah seseorang yang memiliki kekayaan senilai lebih dari US$ 1 juta dalam bentuk aset finansial seperti uang tunai, ekuitas, dan surat berharga. Itu tidak termasuk aset-aset lain seperti tempat tinggal atau koleksi pribadi seperti barang-barang seni, antik atau koin.

    Jadi kalau dihitung total kekayaan para orang kaya indonesia tersebut serendah-rendahnya sekitar 20.000 juta dollar Amerika atau 20 milyar dollar atau jika dikurskan sekitar 180 trilyun (dengan kurs Rp.9.000/USD) .

    Berharap kepada pemerintahan sekarang untuk dapat segera menuntaskan masalah kemiskinan dan pengangguran juga terasa berlebihan. Tidak tuntasnya kedua hal tersebut diatas pada setiap periode pemerintahan, menyebabkan penumpukan masalah pada pemerintahan selanjutnya. Jadi pemerintahan sekarang sebaiknya mulai menyicil masalah-masalah tersebut, agar pemerintahan selanjutnya tidak hanya bekerja sebagai “tukang cuci piring” atau pemerintahan sekarang tidak dianggap “mencuci tangan”. Karena rakyat memilih presiden bukan untuk menjadi tukang cuci piring dan tukang cuci tangan, tetapi rakyat sebenarnya mencari seorang “nakhoda” yang akan membawa mereka ke satu tujuan yaitu masyarakat yang adil dan sejahtera.

    Nasionalisme tumbuh dari ikatan yang kuat antara Pemerintah dan Rakyat, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Tetapi bila terjadi sebaliknya Berat dipikul Rakyat dan Ringan dipikul Pemerintah (pejabat Negara), maka Nasionalisme perlahan-lahan akan pudar dengan sendirinya, karena ketidak percayaan rakyat. Akibatnya terjadi ketidak puasan yang berujung pada perlawanan dan pemberontakan, karena perut rakyat yang lapar tidak akan kenyang oleh omongan dan ceramah tetapi oleh makanan, dan makanan bisa diperoleh bila tersedia lapangan kerja yang memadai.

    Silahkan anda lihat secara lengkap dalam format pdf. data bps tentang ketenaga kerjaan DISINI dan tingkat kemiskinan DISINI.