Tuhan yang berbingkai

Kita sering memberi bingkai pada sosok Tuhan, kita memberi bingkai walaupun didahului kata maha.  Padahal Tuhan tak dapat diberi bingkai, pikiran kita tentang tuhan adalah bingkai yang sebenarnya, karena kita sering menganggap Tuhan seperti manusia yang bisa mendengar (mendengar sesuai definisi manusia), melihat (melihat sesuai definisi manusia), kekal (menurut definisi manusia), berkata-kata (menurut definisi manusia).

Kita menjadi begitu sibuk mendefinisikan sifat-sifat Tuhan, padahal definisi kita tentang Tuhan sebenarnya adalah juga sebuah bingkai yang lain.  Sehingga tanpa sadar kita telah “mengecilkan” tuhan sebatas bingkai fikiran dan definisi kita.

Aku tak mengatakan Tuhan adalah maha besar, karena masih ada bingkai kata maha.  Aku tak mengatakan Tuhan maha perkasa karena masih ada bingkai maha disitu.  Aku hanya yakin bahwa ada Tuhan, seperti apa Tuhan…..? itu tidak menjadi kewajibanku untuk mendefinisikannya atau memberinya bingkai.

Yang kutahu ia ada, dan ia diluar daripada akal dan fikiran.  Yang terasa olehku ada satu tempat dimana Tuhan bisa  bersemayam….tempat itu begitu luas (jika kita ingin meluaskannya hingga tak terdefinisi)…..begitu dalam (jika kita ingin membuatnya dalam hingga tak terdefinisi)………Marhaban yaaaa..Ramadhan.

(pekanbaru digerbang ramadhan, Juli 2011)

Iklan

Selamat berpuasalah !

Saya tak menyangka jika kemudian anak perempuan saya yang berumur 4 tahun 5 bulan, dimarahi oleh  seseorang karena sedang makan didepan anak laki-lakinya yang berumur 5 tahun 6 bulan (padahal anak saya ini makan camilannya disudut rumah—tersembunyi, kemudian didatangi oleh anak orang tersebut). Sebagai sesama orang dewasa yang sedang berpuasa saya berusaha bersikap tenang dengan menarik anak saya.
Saya hanya bertanya-tanya, apakah orang tua ini sadar, bahwa justru orang berpuasalah yang seharusnya menahan diri ?. Lagi pula anak saya belum tahu apa sebenarnya makna puasa. Saya tidak mau anak saya kelak menganggap puasa itu sekedar menahan haus dan lapar. Biar anak saya paham dulu apa itu puasa,  bahwa puasa pada dasarnya menahan diri dari amarah dan sifat-sifat yang merusak lainnya, bukan sekedar pindah jadwal makan.