TANAH YANG KITA MILIKI HANYA DEBU

Mengapa harus percaya pada lambaian akasia….?
Ataukah mungkin kita sudah terkena amnesia….?
Ketika kita masih menjadi pemilik sah tanah ini
Kita biarkan hutan
Menjaga dan melindungi Sungai dan mata air kehidupan
Kita telah menjadi lemah dalam pertikaian
Kearifan yang dahulu kita miliki sebagai peradaban
Kini berganti keserakahan dan ketamakan Tanah-tanah ini tak lagi kita miliki Karena semua telah kita makelari Dibeli oleh para pria berdasiAnak cucu kita kini hanya menjadi kuli Pada tanah-tanah yang dahulu kita kuasai Sungai-sungai kita dipenuhi limbah industri Ikan-ikan menggelepar lalu mati Tak lama lagi kita akan menjadi bangkai Tanpa mewarisi satupun tradisi Hanya ungkapan caci dan maki Atas semua yang telah kita khianati
(DG–LIMPO)
Iklan

Hujan

Dan langit bersenandung pada awan
Agar menjatuhkan hujan
Pada rumput kering dan gersang
Sebelum akhirnya setetes api jatuh
dari tangkai pinus
walau suara teriakan satwa tak lagi terdengar
Mereka telah binasa di pintu surga
Dan Manusia hanyalah binatang berakal
Yang membuka gerbang neraka
Memanggil-manggil Tuhan
yang tergantung di langit tanpa sayap

Dan langit kembali bersenandung pada awan
Agar sudi kembali menjatuhkan hujan
pada rumput kering dan gersang
Dan surga kembali di ciptakan
Diantara puing-puing neraka
Yang berserakan……

(DG.LIMPO,Pekanbaru)

CINTA SANG MALAM

Malam

Menarik Pangeran senja dalam lipatan kelamnya

Ia benamkan Pangeran senja dalam pelukannya yang dalam

Hingga embun jatuhkan tetes kehidupan pada wajah bumi

 

Tuan rembulan penasaran

dari balik kaca jendela

Ia lalu menyibakkan tirai malam

Pangeran senja telah menghilang

 

Malam yang terlihat bagai dewi

Bergumul kembali bersama sunyi

Embun kembali jatuhkan tetes kehidupan pada telaga

Dan Malam  berlabuh di dada pada sang Surya

 

(dg.limpo, pekanbaru juni 2011)

PENGEMIS dan NURANIku

Matamu menatapku dalam…, engkau tak berharap aku berkata-kata, yang terungkap dalam sorot matamu adalah aku memberimu sekeping uang logam atau secarik uang kertas.

Aku tak paham, apakah ini muslihat dengan wajahmu yang memelas atau engkau benar lapar…., aku bahkan tak sanggup mengetuk nuraniku sendiri untuk memahami itu.   Nuraniku telah tertutup awan curiga dan takut yang berlebihan.

Perlahan engkau pindah ke kendaraan di sebelahku dengan mimik yang sama. Sayup-sayup kudengar engkau berkata, “jaman sekarang mencari uang …dengan mengemispun……susah………”.

(DG.LIMPO, perempatan MAL SKA )

RAMADHAN

Puluhan kali ramadhan datang padaku
Mengajakku untuk membasuh jiwa
Ketika ia datang menawarkan air suci
Kubasuh jiwaku dan terasa begitu sejuk
Hingga aku rindu ia datang kembali padaku…

Bila ia pergi, jiwaku kembali kering
Aku lalu mencari sumber air sucimu …
Pada seluruh mata air di pegunungan
Pada semua oase di padang pasir
Namun tak sesejuk air sucimu…

Air-air itu hanya membasuh ragaku
Ramadhan…
Beritahu aku sumber mata air sucimu..!
Biar kureguk habis dan kubasuh jiwaku

Beberapa saat lagi engkau kembali datang
Tapi setiap detik itu, yang bukan milikku
Asaku selalu menunggu air sucimu
Walau kini jiwaku compang-camping
Seperti kain rombeng….

(DG.LIMPO,Agustus 2010)

Dengan kerendahan hati…kubermohon maaf jika ada salah dan khilaf pada semua teman dan handai taulan, semoga sudi mengabulkannya…..dan dengan kerendahan hati juga saya bersedia memaafkan segala salah dan khilaf teman dan handai taulan.