KUBURAN : Rumah Masa Depan

Aku tak pernah membayangkan tetanggaku kemarin sehat-sehat saja, malah sempat main bulutangkis bersama, hari ini meninggal dunia. Dalam minggu ini saja sudah tiga orang yang meninggal dilingkungan kami baik yang karena uzur bahkan ada yang masih berusia muda. Memang kematian adalah takdir, tetapi apakah kita sudah mempersiapkan perbekalan menuju alam yang kekal. Terbayang dalam benakku, bila hari ini tiba-tiba aku sakit dan meninggal dalam keadaan mengetik blog ini dengan judul yang menebarkan kebencian, memprovokasi, dan menghina.

Selama ini kita disibukkan dengan berlomba-lomba mengumpulkan harta duniawi, membangun rumah megah dengan tembok tinggi, membeli mobil mewah, sementara banyak saudara-saudara kita yang lain untuk makan sehari-hari saja susah.  Tetapi adakah yang peduli?, berapa duit yang kita keluarkan untuk sms yang tidak berguna, untuk lelucon-lelucon yang tak berharga, untuk membayar biaya internet kita, untuk membayar listrik kita.  Coba anda sisihkan 10% saja setiap bulan dari biaya yang anda keluarkan untuk hal-hal tersebut diatas, kemudian membantu orang-orang yang tidak mampu membiayai pendidikannya, maupun hidupnya.  Kita sering mencap kemalasan sebagai penyebab kemiskinan, walaupun tidak sepenuhnya salah karena sistem juga dapat menyebabkan orang miskin (dimiskinkan oleh keadaan).

Kita lupa bahwa kuburanlah rumah masa depan kita, dimana semua harta benda milik kita akhirnya hanya menjadi fitnah, pertengkaran dan perebutan oleh ahli waris. Semua harta yang kita kumpulkan didunia tak satupun yang dapat menyelamatkan kita. Hanya ada tiga yang akan menemani hidup kita disana yaitu amal jariah, doa anak kita yang saleh, dan ilmu yang bermanfaat.

Iklan