obral gas ala pemerintah SBY

obral gas ala pemerintah SBY

Obral Murah Gas SENORO

Iklan

Pak Harto Siuman Gus Dur Jadi Capres

suhartonewsdotbbcdotuk.jpggusduruscdotnetdotedudotau.jpgPak Harto yang dirawat di RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina) Jakarta Selatan sejak Jumat (4/1), pada pukul 20:40 (5/1) mulai siuman dan sudah bisa membuka matanya, demikian diungkapkan Bustanil Arifin (mantan Kabulog era ORBA). Sementara tim dokter Kepresidenan yang dipimpin Dr. Mardjo Soebandiono menyatakan bahwa Pak Harto berhasil keluar dari masa kritis berat, untuk itu pihaknya telah menugaskan tiga orang dokter untuk menjaga dan memantau kondisi kesehatan Pak Harto. Sejumlah tokoh telah menjenguk Pak Harto termasuk diantaranya Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusup Kalla. Pak Harto yang lahir di Desa Kemusuk, Argomulyo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 8 Juni 1921. Pada bulan Juni 2008 genap berusia 87 tahun, sejak lengser dari kursi Kepresidenan 21 Mei 1998, Pak Harto telah beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit karena sakit yang diderita seperti, pendarahan usus, jantung, dan paru-paru.
Sementara itu di sela-sela kunjungannya di Jawa Timur Menteri PDT HM. Lukman Edy yang juga mantan Sekjen DPP PKB menyatakan partainya siap untuk meloloskan Gus Dur sebagai Capres 2009. Beberapa waktu lalu, Gus Dur yang juga Ketua Umum Dewan Syura PKB tersebut telah menyatakan niatnya untuk ikut bertarung dalam Pilpres 2009 mendatang. Walaupun sebagian kalangan meragukan Gus Dur bisa lolos jika UU Pilpres dan Komisi Pemilihan Umum menetapkan syarat kesehatan sebagaimana Pemilu 2004.

Link 1,2,3

foto Pak Harto
foto Gus Dur

Baca Juga :
>>>>>Pak Harto Kritis Harapan Hidup 50%

Banjir dan Tanah Longsor akibatkan 120 orang meninggal atau hilang

Diperkirakan 120 orang meninggal atau hilang akibat bencana BATAL (banjir dan tanah longsor) demikian yang kami kutip dari VOA News, Presiden SBY menyerukan pengelolaan hutan yang lebih baik diseluruh negara untuk mencegah tanah longsor pada masa datang.

Sebenarnya seruan SBY tentang hal ini bukan kali ini saja, hampir setiap ada peristiwa BATAL, pernyataan ini terlontar. Namun wal hasil setiap tahun juga bencana semakin parah. Seruan SBY ini semestinya diolah sedemikian rupa oleh instansi yang berwenang seperti Dinas Kehutanan, Dinas PU, Dinas Kimpraswil, Dinas Perhubungan sehingga peristiwa BATAL dapat di eliminir. Dinas tersebut tentu punya catatan dan daftar wilayah rawan banjir dan longsor, sepatutnya sebagai aparat yang “professional” harus mampu merumuskan suatu strategi untuk mengurangi resiko terjadinya BATAL tersebut. Karena seruan tanpa ada tindak lanjut yang memadai oleh para pejabat dan instansi terkait dibawahnya, akhirnya tinggal menjadi “seruan”.
Saya pribadi respek dengan SBY yang terjun langsung melihat bencana-bencana yang terjadi dan melihat kesengsaraan para pengungsi. Saya yakin dengan semakin seringnya SBY melihat bencana yang terjadi, maka feeling SBY tentang apa penyebab yang sebenarnya dari bencana tersebut juga akan semakin tajam. SBY tentu akan tahu mana laporan yang ABS dengan angka-angka yang diterimanya dari lokasi dan mana laporan yang riil. Karena BATAL sudah terjadi maka yang paling penting adalah mengatasi masalah pengungsi dan pencarian korban serta rehabilitasi lokasi yang terkena dampak banjir.
Tahun depan semoga jangan lagi terdengar BATAL akibat hutan rusak, kalau seruan SBY tentang ini masih terdengar juga dilokasi yang sama tahun depan, berarti mereka yang mendengar seruan perlu mengoreksi diri atau bisa juga yang menyeru perlu lebih tegas daripada sekedar menyeru, karena ini menyangkut nyawa dan harta benda rakyat.