Tuhan yang berbingkai

Kita sering memberi bingkai pada sosok Tuhan, kita memberi bingkai walaupun didahului kata maha.  Padahal Tuhan tak dapat diberi bingkai, pikiran kita tentang tuhan adalah bingkai yang sebenarnya, karena kita sering menganggap Tuhan seperti manusia yang bisa mendengar (mendengar sesuai definisi manusia), melihat (melihat sesuai definisi manusia), kekal (menurut definisi manusia), berkata-kata (menurut definisi manusia).

Kita menjadi begitu sibuk mendefinisikan sifat-sifat Tuhan, padahal definisi kita tentang Tuhan sebenarnya adalah juga sebuah bingkai yang lain.  Sehingga tanpa sadar kita telah “mengecilkan” tuhan sebatas bingkai fikiran dan definisi kita.

Aku tak mengatakan Tuhan adalah maha besar, karena masih ada bingkai kata maha.  Aku tak mengatakan Tuhan maha perkasa karena masih ada bingkai maha disitu.  Aku hanya yakin bahwa ada Tuhan, seperti apa Tuhan…..? itu tidak menjadi kewajibanku untuk mendefinisikannya atau memberinya bingkai.

Yang kutahu ia ada, dan ia diluar daripada akal dan fikiran.  Yang terasa olehku ada satu tempat dimana Tuhan bisa  bersemayam….tempat itu begitu luas (jika kita ingin meluaskannya hingga tak terdefinisi)…..begitu dalam (jika kita ingin membuatnya dalam hingga tak terdefinisi)………Marhaban yaaaa..Ramadhan.

(pekanbaru digerbang ramadhan, Juli 2011)

Iklan

AKU TERLAHIR SETIAP SUBUH

Tuhanku….aku bersyukur dan mengucapkan  Alhamdulillah atas segala kebaikanmu melahirkan aku kembali di subuh hari ini, memberiku kesempatan kembali untuk melakukan hal-hal yang ingin kulakukan dan belum kuselesaikan dimasa hidupku yang lalu.

Setiap kali aku terlahir di waktu subuh, aku merasakan energi luar biasa yang mengalir kedalam darahku, dialah semangat.  Semangat untuk memulai lagi, semangat untuk membahagiakan orang-orang yang kucintai, semangat untuk menjadi lebih berguna bagi orang-orang di sekelilingku.

Tuhan…bahkan aku lupa, sudah berapakali ENGKAU membuatku terlahir kembali.

Terima kasih Tuhan untuk karuniamu yang luar biasa di hari ini

Terima kasih Tuhan untuk setiap setiap kesuksesan yang aku capai

Terima kasih Tuhan untuk setiap kegagalan yang aku alami

Terima kasih Tuhan….telah membuatku menjadi manusia baru kembali

(Kontemplasiku disaat subuh yang sejuk, Pekanbaru)

ENGKAU YANG MAHA

Setiap hirupan nafasku adalah karuniaMU, setiap hembusan nafasku atas ijinMU.   Karena ENGKAU MAHA KAYA, maka tak ada permintaanku yang tak mungkin ENGKAU kabulkan, karena setiap keraguanku pertanda aku meragukan KEMAHAKAYAANMU.   Selama masih ada keraguan di hatiku tentang KEMAHAANMU, selama itu pula doa-doaku semakin jauh dariMU.   (Kontemplasiku)

Kelahiran

Kelahiran adalah sebuah perjalanan panjang, bagaimana seorang wanita dapat bertemu seorang pria dan mengikrarkan rasa suka mereka dalam sebuah ikatan pernikahan maupun tanpa ikatan pernikahan.  Bisa juga terjadi sebuah pemaksaan kehendak, ataukah siasat sehingga seorang wanita di perkosa atau sebaliknya, dan dengan ikhlas ataukah terpaksa harus merawat bayi yang dikandungnya hingga kemudian lahir.   Bagaimana anda bisa bertemu dengan pasangan ataukah suami/istri anda sekarang….? sungguh sebuah perjalanan yang manis.

Dan setiap anak yang lahir akan menjalani dan meniti hidup sebelum akhirnya ruhnya kembali, dan jasadnya hancur didalam tanah ataukah menjadi abu.  Jika kita terlahir dengan ruh yang suci (belum mengenal dosa), maka tentu kembalinya ruh kepada si EMPUNYA juga harus bersih.  Disinilah rahasia terbesar hidup, untuk apa kita hidup….? untuk menyembah Tuhan, lalu dimana Tuhan….? jika aku menyembahNYA tentu aku harus tahu dimanakah DIA berada….? jika aku menyembah sesuatu yang tidak nyata bukankah aku justru musyrik…? dan kemana harus kuhadapkan wajahku…?, ke Kakbah…benarkah DIA berada disana…? .  Tuhan aku percaya ENGKAU ada, tetapi apakah dengan percaya itu cukup…?

Engkau dan Namamu

bila kutuliskan engkau
pada bait-bait puisiku
tak berarti aku mengingatmu
juga tak berarti apa-apa
engkau hanyalah kilatan masa
yang terekam dalam pigura
begitu banyak pigura
dan gambarmu ada disana
juga namamu
hanya aku lupa pernah mengingatmu
kucoba telusuri labirin ingatanku
memang tak ada ingatan itu
tetapi mengapa kutuliskan engkau
dalam bait-bait puisiku
juga namamu…?

(DG.LIMPO, Pekanbaru 2009)

Tuhan Jemputlah Aku

Tidakkah bulan memberimu Jalan
Pancaran sinarnya adalah titian

Tidakkah bintang-bintang memberimu tanda
kelap-kelipnya menantimu disana

Tidakkah mAlam menghantarkan mimpi
Gulitanya menghantarmu bertemu kekasih

Tuhan… yang bersemayam di arsy
Jemputlah aku yang merindu-MU
pada sepertiga malam yang akhir
Sajdahku….basah oleh airmata kerinduan
Angkatlah bebanku, kegelisahanku, duka dan deritaku
Biarkan ia mencapai bulan yang indah
Biarkan ia mencapai bintang-bintang
Biarkan ia bergumul pada malam
Aku…merindumu
Tanpa tahu kemana kutuju…
Jemputlah aku…….

(by: Daeng Limpo)